Contradictory Love

Contradictory Love
45 - Feeling Guilty


__ADS_3

Daniel menatap tamu dihadapannya dengan perasaan tidak menentu. Tamu yang datang dari negara tetangga yang kata Albert harus ditemui karena menyangkut kehidupan seseorang.


Daniel akhirnya membuat janji untuk bertemu di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari kantornya.


Ia tak menyangka kalau pria didepannya ternyata masih begitu muda. Daniel hanya tak mengerti apa maksud pria ini menemuinya.


"Tuan Daniel, ternyata anda jauh lebih gagah dari perkiraan saya." kata pria didepannya dengan senyuman tipis.


"Dan anda, ternyata jauh lebih muda dari perkiraan saya." balas Daniel. "Wajahmu seakan mengingatkanku pada seseorang..."


Pria itu tersenyum. "Seseorang yang pernah anda sayangi?"


Seketika Daniel terperanjat dengan perkataan pria itu. Ya, pria ini benar...wajahnya agak mirip.... ya ampun, Calista!


"Maaf, kalau boleh saya tahu nama anda?" Tanya Daniel.


"Marcel Chiu. Panggil saja Marcel." Marcel tersenyum sekilas. "Apakah aku mirip mantan istrimu?"


Daniel sudah bisa menerka. Nama keluarga mereka sama. "Apakah anda saudara kandung Calista?" Tanya Daniel sedikit ragu.

__ADS_1


"Lebih tepatnya saudara kembarnya! Jadi, kalau saudara kembarku disakiti, aku pasti akan merasakannya!" Suara Marcel menegaskan bahwa Ia sedang menyindir Daniel.


Daniel tertunduk sesaat dengan perasaan tidak enak. Kedengarannya Marcel tidak suka dengan apa yang sedang menimpa pernikahannya dengan saudara kembarnya.


Daniel berusaha mencari-cari kata untuk dapat meneruskan pembicaraan tersebut tapi pikirannya agak buntu.


"Tuan Daniel, saya menemui anda disini untuk meluruskan suatu masalah yang menjadi akar penyebab anda menceraikan kakak saya. Saya tak ingin dia menderita hanya karena sesuatu hal yang tidak ada kaitannya dengan bisnis saya dan anda."


Daniel terlihat bingung. "Apa yang anda ketahui dengan semua penyebab keretakan rumah tangga saya?"


Marcel meluruskan duduknya dengan tatapan tajam kearah Daniel. "Saya adalah pemilik sekaligus CEO dari perusahaan Way of Life yang telah menarik tiga aset berhargamu."


"Oh..jadi kamu yang telah mengambil aset perusahaanku dengan cara yang tak terpuji?" balas Daniel.


"Tidak terpuji? Bagaimana bisa? Perusahaan anda sudah melewati batas pembayaran yang tertulis dalam kontrak. Sampai pada masa waktu yang sudah ditentukan, dana itu tidak pernah muncul. Bahkan menejer anda yang jelas-jelas mengerti akan konsekwensi dari keterlambatan itu tak pernah menghubungi lagi. Padahal jika perusahaan anda meminta dispensasi untuk penagguhan sementara, pasti saya kabulkan. Tapi kenyataannya? Tidak ada itikad baik dari perusahaan anda. Menejer anda tidak bisa kami hubungi seperti di telan bumi.


Saya akhirnya meminta bantuan kakakku di Taiwan untuk mengajariku cara-cara penarikan aset sesuai isi perjanjian. Saya berjanji padanya memberikan dua puluh persen dari hasil penjualan aset itu sebagai hadiah pernikahannya denganmu, walaupun sayangnya, Ia mengembalikkan uang tersebut."


Daniel memijit-mijit dahinya, Ia merasa semakin kalut... ada apa dengan menejer Tommy yang sudah ditugaskan waktu itu? Mengapa Ia berdusta dalam rapat waktu itu?

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan mulai berkecamuk dalam pikirannya. Mungkinkah menejer Tommy telah menggelapkan uang yang seharusnya dibayarkan pada perusahaan Marcel? Jika benar, maka Ia telah memalsukan laporan dan menggelapkan dana tersebut sehingga dana itu tidak pernah ditransfer ke perusahaan Way of Life.


Dan soal Calista? Ya..ampun, aku benar-benar merasa bersalah telah menuduhnya bahkan mencampakkannya, ditambah lagi sekarang Ia sedang mengandung anakku!"


"Tuan Marcel. Atas nama perusahaan saya, saya mengucapkan rasa terima kasih saya yang setulus-tulusnya karena telah beritikad baik untuk datang jauh-jauh memperjelas masalah ini. Terima kasih juga atas atensi anda dalam menyelamatkan pernikahan saya. Sejujurnya saya sangat mencintai kakakmu. Tak pernah terbersit dalam hati dan pikiran saya untuk menggantikannya dengan wanita lain. Sebenarnya kami belum bercerai, saya tak pernah menandatangani berkas perceraian itu karena saya tidak mau berpisah dari kakakmu. Percayalah, saya akan segera menyelesaikan semua ini." Daniel berbicara dengan suara penuh rasa bersalah dan penyesalan.


Marcel tersenyum puas. "Tolong, jangan pernah lagi menyakiti kakakku. Saya sangat menyayanginya. Ia seorang wanita yang sangat baik walaupun Ia mungkin terkesan keras kepala dan sedikit angkuh. Dan...agar anda tahu, kakakku sangat tergila-gila padamu. Ia bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Tapi sekali Ia jatuh cinta, Ia akan mencintai pria itu seutuhnya. Anda pria yang sangat beruntung mendapatkan cintanya. Tolong jaga dia baik-baik." Marcel kemudian menjabat tangan Daniel dan pamit dari tempat itu.


Daniel tersenyum lega. Pikirannya langsung melayang pada istrinya. "Calista sayangku... Maafkan aku. Aku berjanji tak akan pernah lagi melepaskanmu!"


Tiba-tiba Daniel teringat sesuatu. Ia menekan sebuah nomor.


"Halo Boss. Apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suara di seberang.


"Ada tugas baru." jawab Daniel. "Tolong selidiki seorang menejer saya. Saya mau bukti-bukti yang dapat menjeratnya ke ranah hukum. Lebih jelasnya akan saya kirim lewat email malam ini juga."


"Beres boss. Saya tunggu."


Daniel kemudian mematikan hapenya dan melaju kembali kekantornya untuk mengumpulkan semua berkas yang diperlukan dalam penyelidikan kali ini.

__ADS_1


__ADS_2