
Sudah hampir seminggu ini Daniel tidak bertemu Calista sejak kejadian malam itu. Albert sudah memberitahukannya bahwa Nona Calista masih perlu istirahat. Daniel memaklumi hal itu. Ia juga tidak mau memaksakan Calista agar segera mengambil keputusan kerjasama mereka.
Daniel mengakui bahwa ia merasa kurang bersemangat beberapa hari ini dan itu semua karena khawatir tidak mendengar kabar dari Calista. Daniel meremas-remas kertas jadwal rapat ditangannya. Ia tidak menyadari apa yang sedang dibuatnya. Ia tak dapat mendustai hatinya kalau Ia rindu menatap wajah Calista. Gadis itu telah merebut hatinya!
Daniel belum pernah seperti ini sebelumnya. Banyak wanita disekelilingnya yang selalu ia jumpai sewaktu bersantai dengan teman-temannya tapi tak satupun yang bisa membuatnya hampir gila seperti ini, selain Calista! Ia benar-benar tak tahan lagi.
Berbekal Nomor WhatsApp yang ia dapatkan dari Albert, Daniel memberanikan dirinya menghubungi Calista melalu chat.
Daniel: "Bagaimana keadaanmu? Ini dengan nomorku. Daniel Nielson." Tidak ada balasan.
Daniel: "Sudah mendingan?"
Sesaat kemudian.
Calista: "Aku sudah lebih baik. Thanks for asking."
Calista: "Aku sudah membaca berkas-berkas yang kamu kirimkan lewat email, sudah sangat bagus. Boss saya puas." 👍👍
Daniel: "Maaf, aku tidak bermaksud menghubungimu untuk bicara pekerjaan."
__ADS_1
Calista: It's ok. Sudah seminggu Kita tidak rapat, aku tak mau membuang banyak waktu."
Daniel: "Aku hanya ingin tau keadaanmu. Tidak lebih."
Calista: "Perjanjian kerja sudah aku kirimkan barusan. Bossku sudah menandatanganinya secara elektronik. 50:50 profit adalah win win solution. Tinggal menunggu tanda tangan darimu dan kerjasama kita langsung jalan."
Daniel: "Baiklah. Bisa kita bertemu? Terserah waktumu saja."
Calista: "Aku rasa tak ada lagi yang perlu kita bahas. Aku akan segera kembali ke Taiwan."
Daniel tidak lagi dapat menuliskan apa-apa.
Ada rasa sakit yang Daniel rasakan membaca chat terakhir Calista.
"Apakah hanya aku saja yang merasakan cinta ini?..... Calista... aku sungguh kangen kamu saat ini. Entah apakah aku bisa bertahan bila kamu tak ada lagi."
Daniel menatap berkas didepannya dengan lesu. Ia sulit berkonsentrasi. Rasa rindu itu benar-benar sedang menyiksa hatinya!
.
__ADS_1
.
.
.
.
#Apartemen Calista
Calista masih menatap layar hapenya, berharap Daniel masih akan membalas chatnya. Ia berusaha menepis perasaan aneh yang perlahan lahan menghangatkan hatinya bila sedang bersama Daniel.
Perasaan yang mirip empat tahun lalu sewaktu ia bertemu Edward, mantan pacarnya dulu. Hubungan yang tidak bertahan lama hanya karena Edward sakit dan kemudian meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Calista menutup matanya, berusaha melupakan kembali kenangan sedih itu. Ia takut untuk membuka hatinya lagi. Ia tak mau kehilangan lagi saat sedang sayang-sayangnya.
Calista bangkit dari sofanya untuk mengambil laptop yang terletak di meja kerjanya.
Ia membuka email dan mulai mengetik. Ia meminta bossnya agar mengizinkannya menambah waktu dua minggu lagi sebelum kembali ke Taiwan. Ia harus mengurus penjualan rumah orang tuanya di Jakarta karena selama ini hanya disewakan. Ibunya menghubunginya untuk hal ini agar tidak repot lagi mengurus aset tersebut. Kebetulan 2 hari lalu ada beberapa calon pembeli yang sudah menghubungi.
Beberapa saat kemudian balasan tiba. Permohonan Calista disetujui. Calista tersenyum walau hatinya sedang mendung.
__ADS_1
Tak seorangpun yang tahu perasaanya saat ini. Ia ingin berbagi dengan Kimberly tapi akhir-akhir ini gadis berambut merah itu sangat sibuk dengan trainingnya sebagai karyawan baru. Calista mendesah pelan. Ia menyadari bahwa label orang terhadapnya sebagai wanita yang tegas, berani dan kuat, ternyata bisa rapuh hanya oleh cinta yang rumit.