Contradictory Love

Contradictory Love
49 - Insiden Tak Terduga


__ADS_3

Daniel dan Calista mengunjungi rumah mereka yang telah cukup lama dibiarkan sejak kepulangan Calista.


Calista masih berada diruang bawah, matanya masih terpaku menatap ruang lantai dua. Posisinya masih mematung dengan pandangan dingin.


Daniel memperhatikan hal itu sejak tadi dan kemudian memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang, kamu masih trauma dengan kejadian waktu itu dikamar kita?" Tanya Daniel dengan nada penuh penyesalan. "Aku benar-benar minta maaf, aku telah memaksamu dan... menyakitimu."


Calista masih terdiam. Ia tak dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Ia berusaha untuk melupakan kejadian itu namun ketika melihat lagi pintu kamar tidur itu, Ia merasa bergidik dan ragu apakah Ia bisa berada di dalam sana dan berpura-pura tidak pernah terjadi sesuatu.


"Sayang...antar aku ke kamar kita." pinta Calista pada Daniel.


"Kamu yakin, sayang?" Tanya Daniel sedikit khawatir.


Calista mengangguk sambil tersenyum. Daniel menggandeng tangan istrinya dengan erat menaiki tangga menuju lantai dua.


Daniel membuka pintu kamar itu. Keadaan didalam sudah sedikit berubah, misalnya warna seprei yang dulunya biru muda kini sudah diganti dengan yang baru bermotif bunga warna putih. Kamar itu baru saja dibersihkan dan diberi pewangi aromatherapy, sehingga begitu keduanya masuk, perasaan mereka terasa rileks.


Calista menatap tempat tidur berukuran besar itu dengan raut wajah tanpa ekspresi. Daniel memperhatikan itu.


"Sayang, kalau rumah ini masih membuatmu trauma, aku akan menjualnya dan membelikanmu yang baru." ucap Daniel memecah keheningan.


Calista mendudukkan dirinya diatas ranjang.


Ia kemudian memandang kearah suaminya.

__ADS_1


"I'm fine. Aku cuma harus terbiasa berada disini setiap hari agar apa yang telah terjadi bisa menjadi hal yang biasa."


Daniel mendekati istrinya dan berjongkok didepannya. "Apa mungkin kita harus segera mengukir kenangan indah diranjang ini setiap hari agar kenangan yang buruk itu bisa segera tergantikan?" Tanya Daniel sambil mengedipkan matanya dan tersenyum nakal.


Melihat itu Calista tersenyum. Ia membelai wajah tampan itu. "Aku setuju, sayang." bisik Calista. Ia kemudian mencium bibir sexy didepannya yang langsung menyambutnya dengan penuh gairah.


Cukup lama keduanya terbenam dalam pergulatan diatas ranjang mereka. Ketika keduanya mulai saling membuka kancing pakaian masing-masing, tiba-tiba perut Calista berbunyi. Keduanya langsung menghentikan aktifitas mereka sambil tersenyum.


"Anak kita minta makan tuh". seru Daniel sambil mengelus perut istrinya.


"Yuk kita makan dulu. Mulai besok kita pindah kemari." kata Calista tanpa ragu.


"Benar sayang? Apakah kamu benar-benar yakin?" Tanya Daniel sekaligus meyakinkan pendengarannya.


Calista mengangguk dan tersenyum. "Aku malah gak sabaran lagi."


Keduanya tersenyum bahagia.


Calista dan Daniel memilih makan siang di sebuah cafe di Mall GS. Hari itu Calista pengen banget makan nasi rawon dengan bawang goreng gurih yang banyak (permintaan khusus ibu hamil).


Tak jauh dari situ ada sepasang mata seorang wanita yang sedang mengawasi kemesraan dua sejoli itu. Hatinya serasa panas memperhatikan bagaimana Daniel memperlakukan wanita disampingnya.


Sesekali Daniel menyuapi sesuatu kemulut istrinya dan begitu juga sebaliknya. Ditambah lagi keduanya minum bersama dari gelas yang sama.


"Sayang, aku mau ke toilet sebentar." kata Calista sambil berdiri dan berjalan keluar restoran menuju toilet terdekat.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Calista keluar dari toilet. Namun betapa terkejutnya Ia saat dihadang seorang wanita.


"Laras? Apa mau kamu? jerit Calista kaget.


Laras tersenyum menyeringai. Ada kebencian dimatanya. "Dasar kau wanita tak tahu malu, sudah diceraikan suamimu tapi masih saja menggodanya! Karena kau Danny mengabaikanku belakangan ini."


Calista tak terima dikatakan seperti itu. "Hey, dengar ya, kamu jangan mimpi kalau Danny menyukaimu, dia tak pernah tertarik padamu. Asal kamu tau saja ya... aku masih istri sahnya dan kami tidak jadi bercerai. Kenapa? Karena kami masih saling mencintai! ....sedangkan kamu cuma teman dari masa lalu dan tak punya arti sedikitpun di mata Danny!"


Mendengar ucapan Calista, sontak Laras menjadi berang, Ia tiba-tiba mendorong Calista sekuat tenaga hingga Calista kehilangan keseimbangan karena serangan yang tiba-tiba.


Calista terjatuh dengan cukup keras hingga tubuhnya terjerembab diantara peralatan cleaning service yang ditaruh didekat itu.


Calista merintih kesakitan. Ada sesuatu yang terasa basah turun ke betisnya. Ketika melihat darah yang keluar meleleh disana, Calista menjadi lemah. Ia menjerit, "Tolong Aku!"


"Laras!" teriak Daniel yang sedang berlari kearahnya. Daniel memutuskan menyusul istrinya karena perasaannya tak enak.


"Apa yang kau lakukan pada istriku! Dasar wanita brengsek!" teriak Daniel sambil berlutut dihadapan Calista yang telah tak sadarkan diri.


Daniel sangat kaget manakala melihat Ada darah disekujur kaki istrinya. "Sayang....Calista, Calista ....sadarlah." Namun Calista tetap tak bergerak.


Daniel pun dengan segera menggendong istrinya.


Laras masih terpaku disitu. Ia kelihatan pucat dan ketakutan manakala beberapa petugas keamanan mall telah memegang tangannya.


"Jika sesuatu terjadi pada istri dan anakku, kamu akan menerima akibatnya. Aku berjanji!" kata Daniel dengan geram pada Laras sambil melangkah dengan cepat membawa istrinya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2