Contradictory Love

Contradictory Love
11- Love or Lust?


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Daniel langsung merebahkan Calista yang masih tertidur di atas kasur kamarnya. Tidak ada pilihan lain. Kamar tamunya yang tidak pernah terpakai sudah ia jadikan gudang sementara tempat barang-barang miliknya yang jarang digunakan. Ditambah lagi tempat itu sangat berantakan.


Walaupun ia hampir memiliki segalanya, Daniel tidak pernah hidup glamour. Ia hanya membeli apartemen dengan 2 kamar tidur saja. Apartemennya itu memang sangat elegan dilengkapi dengan kolam renang minimalis, cukuplah untuk dirinya seorang. Tapi dibandingkan dengan apartemen teman-temannya, luas apartemen Daniel masih kalah jauh.


Daniel menatap sosok pucat dihadapannya. Kepala Calista diperban sebagian. Ia menatap blus gadis itu yang dipenuhi bercak darah dan juga basah oleh sisa-sisa bir yang dipukulkan oleh si pria brengsek dikepalanya.


"Hmm...tak mungkin ia tidur dengan blus yang basah itu. Daniel setengah ragu antara harus mengganti blus gadis itu atau membiarkan saja seperti itu. Daniel bangkit dari ranjang menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil salah satu kemejanya yang berwarna biru muda dan kembali duduk disamping Calista yang terbaring tak bergerak.


"Arggh.... bagaimana ini?" Daniel mengusap wajahnya. Ia masih bingung. Ditatapnya lagi sosok didepannya.


"Ini benar-benar gila! Dia pasti berang jika sadar dirinya sudah berpakaian yang beda." Daniel terus bergumam. Ia kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir sambil meremas kepalanya.


Daniel bukanlah sosok yang dekat sekali dengan seorang wanita manapun, tidak terkecuali Lizbeth. Ia belum pernah mengajak seorang wanitapun ke apartemennya. Walaupun teman-temannya sering membawa wanita ke apartemen mereka, berbeda dengan Daniel. Baginya, harga dirinya lebih penting dari pada sekedar senang-senang.


Daniel merasakan kegelisahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kegelisahan yang disebabkan oleh seorang wanita!


"Calista, kamu benar-benar sudah menyusahkanku! Setelah malam ini, aku ingin kau kembali saja ke negaramu. Tidak usah kerjasama dan segala ***** bengek bisnis...atau...apalah itu. Kamu sudah benar-benar mengacaukan hidupku sejak pertama kali bertemu!" Daniel berucap dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


Ia tak bisa mendustai dirinya bahwa sejak hari pertama Calista menginjakkan kaki di kantornya, konsentrasinya terpecah. Ia mengalami kesulitan untuk fokus pada semua jadwal yang selalu ia atur dengan sistematis setiap hari.


Ada bagian dalam dirinya yang berontak untuk menjauhkan gadis yang benar-benar telah menjadi orang yang pertama berani menantangnya. Namun, sebagian lagi dari dirinya ingin menikmati berada dihadapan gadis itu hanya untuk sekedar mendengarkan kritikannya serta mengaggumi wajah tegasnya saat berbicara.


Daniel menatap lagi wajah Calista.


"Ada apa dengan diriku? Mengapa memandangnya semakin membuat hatiku bergetar begini?"


Daniel memilih untuk masa bodoh dengan apa yang akan terjadi nanti. Perlahan ia melepaskan blus Calista. Keringat mulai membasahi pelipisnya padahal suhu ruangannya sangat adem dengan setelan AC 16 derajat celcius.


Ia semakin gerah manakala dihadapannya telah terpampang tubuh putih mulus dan glowing. Mata Daniel tidak mau berpindah dari pemandangan indah didepannya. Sekeras apapun ia berusaha, hati dan pikirannya tetap memilih untuk menikmati itu.


Beberapa detik kemudian Daniel tersadar. Dengan cepat ia mengenakan kemejanya di tubuh gadis itu dan langsung menutupinya dengan selimut.


"Semoga kamu mengerti Calista. Aku melakukannya Karena dipaksa oleh keadaan!"


Daniel mengganti pakaiannya dan kemudian membaringkan tubuhnya disamping Calista. Ia sudah kelelahan, baik fisik maupun emosinya. Ia tak peduli lagi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Calista mengeluarkan rintihan pelan. Ia merasakan nyut nyutan dikepalanya. Ia bergerak menghadap kearah Daniel yang masih terlentang dengan mata yang belum bisa dipejamkan.


Daniel memperhatikan sosok disampingnya. Ia mengadapkan badannya kearah gadis itu sehingga wajah mereka hampir bersentuhan.


"Kenapa singa betina ini terlihat seperti malaikat hari ini?" Daniel bergumam seolah olah Calista sedang mendengarkannya.


Entah keberanian dari mana, Daniel menyentuh wajah mulus itu dan membelainya lembut. Hasrat lelakinya mendorong untuk meminta lebih dari sekedar membelai wajah itu. Sedetik kemudian tangannya yang satu sudah berada di belakang leher gadis itu, menarik kepalanya dan... kecupan lembut mendarat dibibir Calista. Gadis itu tidak bergerak. Ia benar-benar tertidur pulas.


Gairah dalam diri Daniel meronta. Ia tidak dapat mengendalikan lagi hasratnya. Satu kecupan lembut tidaklah cukup! Daniel kembali mengecup bibir Calista. Ia ******* perlahan dan menggigit lembut bibir itu. Terasa manis seperti madu yang membuatnya kecanduan untuk tidak menghentikan aksinya. Daniel terus ******* dan menghisap. Tidak puas, ia memaksa gadis yang tertidur itu membuka mulutnya dan membiarkan lidahnya menari-nari didalamnya. Ciuman itu semakin panas dan bergairah. Bukan lagi lembut tetapi berubah rakus! Ciuman itu kini berpindah ke bagian leher. Sisa-sisa wangi parfum ditubuh Calista menambah kemabukkan dan gairah dalam diri Daniel. Sewaktu ia hendak menghisap dan menggigit leher mulus Calista, Daniel langsung tersadar atas apa yang sedang ia lakukan.


"Astaga! Apa yang sudah aku lakukan padanya?" Daniel duduk dan menarik rambutnya. Nafasnya masih memburu cepat.


Ia merasa sedikit lega karena belum sempat meninggalkan tanda merah di leher gadis itu.


Daniel berusaha mengatur nafasnya dan sekuat tenaga meredam gairah dalam dirinya.


Ia mematikan lampu, menutup matanya dan mencoba terlelap.

__ADS_1


"Calista... maafkan aku." Bisik Daniel dan akhirnya terlelap.


__ADS_2