Contradictory Love

Contradictory Love
02 - Tempat Duduk


__ADS_3

Calista berjalan agak cepat, passportnya digigit karna kedua tangannya sibuk dengan barang-barang bawaannya. "Semoga gak terlambat". Waktu menunjukan pukul 09.40, sedangkan pesawatnya akan lepas pandas pukul. 10.00.


"Sial! Ini semua gara-gara Marcel yang sempat-sempatnya minta ketemuan tuk sekedar melepas rindu. Pasti ibu yang memberitahukannya bahwa aku akan ke Indonesia dan transit di Singapura."


Beberapa menit kemudian Calista sudah tampak berlari-lari menuju gate keberangkatannya di Changi Airport, Singapura. Pesawat yang akan menerbangkannya ke Jakarta harus transit dulu di Singapura. Saudara kembarnya yang tinggal dan kerja di Singapura setahun belakangan ini memintanya bertemu sejenak Karena sudah setahun tidak bertemu.


Calista menyerahkan boarding pass beserta passportnya untuk di scan dan cek. Dia lega bisa memasuki pesawat sebelum pengumuman bahwa pintu pesawat akan segera ditutup.


Dikelas bisnis, Calista memperhatikan boarding passnya untuk melihat Nomor tempat duduk. "Duh...karna cepat-cepat, aku lupa minta nomor tempat duduk dekat jendela. Hmm...aisle seat."


Calista paling suka duduk dekat jendela, karena dengan melihat awan dan laut dibawah sana, ia merasa rileks dan tenang. Imaginasinya membuat ia membayangkan bahwa ia sedang liburan walaupun kenyataannya ia jarang liburan. Kalaupun ada perjalanan pastilah tentang pekerjaan.


Calista mendengar lagi pengumuman dari pramugari bahwa pintu pesawat akan segera ditutup. Ia menatap kursi kosong disampingnya. Berarti pemilik tempat duduk dekat jendela itu bisa saja sudah terlambat atau mungkin memang tidak ada penumpangnya. Calista pindah dan duduk dikursi tersebut.


"Hmm...perfect! Gak ada pemiliknya karena pesawat segera akan lepas landas."


.


.


.

__ADS_1


.


Pria tampan itu tampak berkeringat karena terus berlari menuju gate yang tertera di boarding passnya. Dia bukan tipe orang yang tidak tepat waktu, tapi kecelakaan di tol tadi membuat mobil yang mengantarnya terjebak sedikit kemacetan.


"Tolong Miss. ini passport dan boarding pass saya." sambil terengah-engah, pria itu berharap agar dia masih diizinkan masuk.


Wanita itu tersenyum ramah. "Silahkan, Tuan. Memang tinggal Tuan yang sedang ditunggu."


Pria itu tersenyum lega, merapikan rambut dan jaketnya, menyeka keringat di dahinya dan berjalan mantap memasuki pesawat. Pramugari menyambutnya dengan ramah. Seketika pria itu masuk, pintu pesawat langsung dikunci. Dan terdengar pengumuman kalau pesawat akan segera lepas landas.


Pria itu menatap tempat duduk yang seharusnya kosong itu. "Apa-apaan ini? Tempat dudukku dekat jendela sudah terisi?"


Ia memperhatikan gadis yang sedang menatap keluar jendela, tampaknya ia sedang asik dengan pikirannya sendiri sampai-sampai tidak merasa bahwa seseorang sudah sejak tadi berdiri disebelahnya.


"Nona...Nona! kata pria itu sedikit keras."


Calista sedikit kaget dengan suara disebelahnya. Ia mendongak dan kaget melihat seorang pria berkulit coklat muda kemerahan, berjaket kulit sport hijau lumut dan jeans biru sedang menatapnya tajam.


"Maaf, Tuan sedang bicara dengan saya?"


Tanya Calista sambil menunjuk dirinya.

__ADS_1


"Benar, Nona. Coba cek kembali Nomor tempat duduk kamu. Tempat saya adalah dimana kamu sedang duduk."


Calista bingung. Bukankah tadi pintu pesawat sudah ditutup? Kok bisa-bisanya makhluk ini masih bisa masuk?


"Maaf Tuan. Saya pikir tempat duduk ini tidak ada yang punya."


Calista berdiri dan mempersilahkan pria itu menempati kursi dekat jendela itu. Tanpa biacara pria itu langsung duduk, memasang headsets, memutar musik dan menutup matanya. Calista sedikit dongkol karena pria itu tidak mau mengalah dengan wanita. Lagian dia tidak menikmati pemandang diluar dan cuman tidur saja.


"Benar-benar gak peka!"


Beberapa saat kemudian, pesawat sudah mengangkasa. Calista berdiri untuk ke toilet. Beberapa menit kemudian dia hendak keluar tapi seseorang malah menabraknya Karena jalan yang sempit diantara dua toilet. Calista terhuyung sedikit, dan orang yang menabraknya, kepalanya terbentur dinding pesawat.


"Nona...kamu pakai mata dong kalau keluar dari toilet. Jangan asal keluar aja tanpa liat-liat situasi dulu!" kata pria itu yang menyebabkan beberapa penumpang yang duduk disekitar toilet menatap kearah mereka.


"Hey...apa kamu bilang? Kamu juga seharusnya jalan pake mata dong. Masak saya segede ini gak keliatan. Dasar gak sopan! Calista membalas perkataan pria itu dengan emosi. Mata keduanya sama-sama terbelalak ketika tahu kalau mereka duduk bersebelahan.


"Hmm...kamu lagi. Gak heran aku. Sudah sempat ambil tempat dudukku malah bilang aku gak sopan? Mikir dulu sebelum ngomong ya, " kata pria itu sambil membanting pintu toilet.


"Dasar banci! Suka adu mulut dengan wanita."


ucap Calista sambil kembali ke tempat duduknya. Beberapa penumpang yang mendengarnya tertawa geli. Pikir mereka, mana mungkin pria segagah dan cool itu banci??? Benar-benar gak cocok.

__ADS_1


Baik Calista maupun pria itu sama-sama diam hingga pesawat landed di Bandara Sukarno Hatta. Masing-masing merasa dongkol dan merasa sial dapat tempat duduk bersebelahan.


__ADS_2