Contradictory Love

Contradictory Love
23 - Permintaan Dadakan


__ADS_3

Semenjak kembali bekerja setelah mengambil cuti selama tiga hari, Daniel sudah harus lagi berkutat dengan pekerjaannya. Para menejer dan asisten mereka masing-masing sangat professional mengatasi segala urusan selama Daniel cuti. Performa para menejernya semakin meningkat sejak Daniel menerima kritikan dan masukkan dari Calista, istrinya, sewaktu mereka belum menikah dulu.


Untuk sementara waktu Calista dan Daniel tinggal di apartemen Daniel karena jarak kekantornya lebih dekat dibandingkan dengan lokasi apartemen Calista. Daniel sudah menyewa seseorang untuk mencarikannya sebuah rumah yang sesuai dengan kriteria yang sudah diajukkan oleh Daniel dan Calista.


Albert mengetuk pintu ruangan dan masuk.


"Pak, ada yang harus direspon dengan segera mengenai saham dengan perusahaan Way of Life dari Singapura. Setelah kunjungan Bapak tempo hari, mereka baru merespon sekarang."


Daniel membaca berkas yang ditaruh Albert diatas mejanya. Dahi Daniel sedikit mengernyit. Ada sesuatu yang ganjil disana.


"Tolong panggilkan menejer Tommy. Saya ingin berdiskusi dengannya mengenai perusahaan Way of Life." Perintah Daniel pada Albert.


"Maaf Pak. Menejer Tommy tidak masuk mulai hari ini sampai lima hari kedepan. Ia sudah mengajukkan izin cuti pada HRD sewaktu Bapak masih cuti. Katanya Ia harus cek up kesehatannya di Penang."


Daniel mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang tangani."


Daniel fokus pada layar monitornya sambil sesekali berbicara ditelepon dengan beberapa karyawannya yang berada di luar kota.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam satu siang.


Albert masuk membawa makanan dan juga minuman isotonik dingin beserta peralatan makan. "Pak, makanlah dulu. Sudah Saya persiapkan."


Daniel menatap meja yang sudah diatur Albert. "Aku tak mau makan sendirian. Tolong telpon istriku untuk datang segera. Kalau dia tanya ada apa, bilang saja ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Albert mengangguk dan keluar untuk menelpon diruangannya. Daniel sengaja tidak menghubungi istrinya secara langsung karena pasti dia akan merengek-rengek minta alasan yang rasional kenapa Ia harus kekantor secara mendadak. Begitulah Calista, Ia tipe wanita yang tidak gampang diyakinkan.


.


.


.


.


.


Hape Calista berbunyi dan tertulis dilayarnya "Hubby's Office."


"Ya, Hallo. Calista disini. Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Terdengar suara Albert diseberang.


"Maaf Bu Calista, Pak Daniel meminta anda untuk segera datang kekantor sekarang ini."


"Kekantor? Sekarang? Boleh saya tahu alasannya mengapa saya harus datang secara mendadak begini?"


"Maaf Bu, kata Pak Daniel ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Bu Calista."


Calista mengernyitkan dahinya. "Baiklah, Aku kesana sekarang."


"Oh ya, Bu Calista. Supir Pak Daniel sedang menuju kesana. Terima kasih." Albert menutup telpon.


Dua puluh menit kemudian Calista sudah tiba di kantor Daniel dengan melewati jalan khusus yang selalu dipakai suaminya.


Albert langsung membawa Calista keruangan bossnya.


"Pak, Bu Calista sudah disini."


Albert mempersilahkan Calista. Ketika hendak keluar Daniel memerintahkan Albert untuk tidak mengganggunya selama satu setengah jam kedepan. Albert mengangguk dan keluar.


Daniel buru-buru berjalan kearah pintu dan kemudian menguncinya. Ia mengambil remote, memencet tombol dengan arah panah kebawah dan tirai-tirai jendela kacanyapun sudah mulai menutup.


Daniel mendekap istrinya dari belakang kemudian mencium leher mulus itu dengan mesra. "Aku hanya ingin bermanja-manja saja. Pekerjaanku hari ini agak membuatku stress, jadi....aku butuh pelampiasan."


Calista tersenyum geli dengan tingkah suaminya, "Sejak kapan kamu manja seperti ini?"


Daniel tak berhenti mencium leher istrinya.


"Sejak aku pertamakali menikmati tubuhmu." jawab Daniel. "Akukan sudah bilang sayang, kalau aku mungkin tak akan sanggup untuk berhenti mencumbumu." Bisik Daniel menempelkan bibirnya di telinga istrinya.


"Kitakan masih punya malam panjang sebentar, sayang. Lagian setiap malam dan subuh kamu gak pernah lelah mencumbuku."


Daniel tersenyum mendengarnya.


"Malam masih lama sayang...aku mau sekarang."


Calista terperanjat. Beginikah yang namanya pengantin baru? Tapi Calista tak ingin mengecewakan suaminya. Ia membalikkan badannya sehingga tubuh mereka sudah saling menempel.


"Sayang, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Calista.

__ADS_1


"Kamu gak perlu melakukan apa-apa, Sayang. Cukup diam dan nikmati saja."


Daniel mulai ******* bibir istrinya perlahan dan kemudian memanas. Calista tak dapat menolak kenikmatan yang sudah terlanjur mengalir disetiap sendi tubuhnya.


Daniel menyandarkan istrinya ke tembok dan memulai aksinya. Ia benar-benar terbakar gairah jika sudah berurusan dengan istrinya.


Kancing kemeja Calista sudah terbuka semuanya. Daniel mulai ******* dibagian dada sambil salah satu tangannya sudah ia selipkan diantara paha mulus istrinya. Tanda-tanda merah kebiruan yang belum hilang benar masih terpampang dibeberapa tempat di dada putih itu. Rok Calista sudah naik keatas. Ia merasa tangan Daniel melucuti celana dalamnya perlahan-lahan, kemudian dilanjutkan dengan membuka resleting celananya sendiri juga tanpa menghentikan hisapannya didada Calista.


Daniel berhenti sejenak dan kemudian berbisik ditelinga istrinya, "Aku akan berusaha untuk bermain cepat kali ini."


Dua puluh menit kemudian, kedua insan itu mengerang pelan secara bersamaan. Mereka menikmati puncak kenikmatan secara bersamaan dalam keadaan berdiri.


Daniel masih sigap menahan tubuh istrinya yang sudah lemas dipelukkannya. Ia tersenyum puas dan mencium kepala istrinya.


"Sayang....sekarang aku lapar. Temani aku makan ya?" Pinta Daniel.


"Boleh. Tapi kita bersih-bersih badan dulu." ucap Calista sambil menarik tangan suaminya kearah kamar mandi pribadi Daniel.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah kelihatan rapi dan lebih fresh.


Calista menemani suaminya yang menikmati makan siangnya yang sudah terlambat dengan lahapnya. Calista tersenyum geli melihat suaminya. "Mungkin efek warming up tadi sehingga dia kelaparan."


"Maaf sayang, tapi sedapat mungkin aku mau menikmati kemesraan kita karena sebentar lagi kamu sudah harus kembali ke Taiwan."


Kata Daniel ketika telah menyelesaikan makan siangnya.


Calista membelai rambut suaminya sambil tersenyum. "Hanya dua bulan kok, gak bakalan lama. Itu adalah waktu yang singkat jika kamu sibuk bekerja. Kita masih bisa video call, kapanpun kamu mau, sayang."


Daniel tersenyum kecut mendengarnya. Ia benar-benar gundah. Seharian saja gak lihat wajah istrinya dia sudah hampir gila rasanya, apalagi jika istrinya sudah sangat jauh nantinya.


"Oh iya....sebelum ke Taiwan, aku ada urusan sejenak di Singapura. Nanti aku kabarkan kalau sudah tiba di Taiwan." ucap Calista.


Calista tidak memberitahukkan suaminya kalau Ia akan bertemu saudara kembarnya di Singapura. Marcel menelponnya untuk suatu urusan bisnis. Sebenarnya Calista malas untuk meladeni saudaranya itu, tapi Marcel benar-benar minta tolong padanya sambil memelas. Marcel yang sangat mandiri itu bukanlah tipe pria seperti itu. Tapi kalau Ia sampai bermohon seperti itu, pastilah tentang urusan yang sangat penting.


Calista tak pernah menelpon adiknya itu. Marcel lah yang selalu menelponnya. Itu dikarenakan Marcel selalu mengubah nomor hapenya setiap bulan. Begitupun namanya....entah sudah berapa banyak nama samaran yang ia pakai sekedar agar tak seorangpun mengenalnya. "Dasar saudara yang aneh!" umpat Calista dapat hati.


"Sayang... aku boleh pulang sekarang? Aku harus packing dulu biar gak ada barang yang kelupaan nanti."


Mendengar ucapan istrinya, Daniel mengangguk pelan. Mendengar kata packing hatinya serasa diiris. Ia belum menginginkan kepergian Calista. Ia takut jika harus mati karena menahan rindu!

__ADS_1


__ADS_2