Contradictory Love

Contradictory Love
48 - Titik Terang


__ADS_3

Pagi itu dikantor Wikatama Group terjadi sedikit kehebohan diantara semua karyawan. Bagaimana tidak, Big Boss mereka tiba-tiba datang ke kantor menggandeng istri cantiknya yang beberapa bulan belakangan ini tidak pernah terlihat.


Daniel sengaja meminta istrinya itu menemaninya bekerja. Ia spesial meminta Calista untuk tidak bekerja dulu di restorannya. Mereka berdua menuju ke ruangan kerja dengan melewati jalan umum bagi semua karyawan termasuk menggunakan lift khusus karyawan.


Alasan Daniel meminta Calista menemaninya bekerja simpel saja. Dia masih kangen pada istrinya! Lagian, ini salah satu cara untuk menghilangkan rumor-rumor tak sedap tentang dirinya selama Laras masih magang


dulu.


Yang bikin tambah heboh lagi adalah perlakuan nyata-nyata Daniel yang terus merangkul istrinya bahkan sesekali menciumnya ketika sedang berjalan melewati ruangan tempat para karyawannya bekerja. Calista sedikit salah tingkah juga dengan perlakuan suaminya yang menurutnya sedikit berlebihan. Tapi tak dapat Ia pungkiri kalau Ia bahagia dengan semuanya itu sehingga Ia tidak menolak jika Daniel memperlakukannya dengan sangat mesra di depan karyawannya.


Ketika tiba di ruangannya, Daniel tak mengizinkan istrinya untuk duduk di sofa karena menurutnya letaknya agak berjauhan dengan meja kerjanya. Ia pun meminta Albert membawakan sebuah kursi yang nyaman untuk Calista duduk disampingnya.


Calista memanfaatkan waktunya dengan bekerja dilaptopnya. Ia tetap bekerja memeriksa semua transaksi keuangan dan operasional restorannya. Jika sudah bekerja seperti ini Calista pasti serius banget.


Daniel sesekali melirik pada Calista sambil senyum-senyum sendiri. Wajah cantik disampingnya kelihatan menggemaskan jika wajahnya sedang serius seperti itu. Pemandangan itu mengingatkan Daniel pada awal-awal kedatangan Calista di kantornya.


"Sayang.... kamu jangan sampai kelelahan ya." bisik Daniel. "Kalau kamu butuh apa-apa misalnya minuman hangat, snack, atau hal lainnya, bilang saja dan nanti aku akan meminta Albert untuk menyediakannya untukmu."


"Makasih sayang." ucap Calista tanpa menoleh sedikitpun. Matanya seperti sudah melekat pada layar laptopnya.


Melihat itu Daniel menjadi lebih gemas.


"Sayang... kalau kamu lagi serius banget seperti itu, kamu bikin aku panas dingin. Pengen cium kamu." ucapa Daniel sambil mendekatkan wajahnya dipipi Calista kemudian mengecup pipi mulus itu dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau kerja atau mau cumbuin aku terus seharian?" ucap Calista tanpa menoleh sedikitpun. Jari-jarinya tetap konsisten mengetik pada tuts laptopnya.


"Sayang...tau gak kenapa aku tergila-gila padamu padahal kamu itu sangat menyebalkanku awal-awalnya." Daniel menatap wajah Calista dengan tatapan jenaka.


"Kenapa? Coba beri tahu aku." Jawab Calista dengan mata masih tetap pada laptopnya.


"Aku paling suka kalau kamu sedang mengkritik aku atau menejerku. Entah kenapa, pesonamu sangat kuat memikat hatiku. Apalagi kalau sedang berdebat denganku dengan gayamu yang tegas itu dan terlihat sedikit angkuh.... kamu terlihat sungguh menggemaskan!" Daniel tersenyum dengan pandangan tak lepas dari wajah istrinya.


"Kalau kamu? Kenapa kamu tertarik padaku yang mungkin menurut orang-orang disekitarku justru menyeramkan dan jarang senyum?" Daniel menyentuh dagu istrinya agar perhatiannya teralihkan dari laptop didepannya.


Calista tersenyum menatap wajah tampan suaminya. "Sayang... aku justru terpesona padamu kalau melihatmu sedang kesal karena gak bisa jawab pertanyaan dari aku. Apalagi kalau kamu gak terima kritikanku, .....caramu menatapku itu seakan-akan ingin menelanku saja...super cool. Aku sangat suka tatapanmu itu padaku. Bikin aku jadi susah tidur."


Wajah Daniel sedikit memerah mendengar perkataan istrinya. Kalau sudah begitu, mana bisa Ia tahan untuk tidak mengecup bibir manis itu.


"Mmm...maaf Pak..tadi saya ketuk tapi mungkin gak kedengaran, jadi saya masuk saja." kata Albert dengan wajah memerah.


Baik Daniel maupun Calista sama-sama berusaha untuk bersikap wajar walaupun sedikit salah tingkah juga.


"Ada apa Albert?" tanya Daniel dengan tampangnya yang kembali datar.


"Ada seorang pria yang ingin bertemu Bapak. Katanya sudah janjian langsung kemarin dengan Bapak." kata Albert.


Daniel yang langsung tahu siapa yang dimaksud Albert langsung mengiyakan dan menyuruh Albert mengantar pria itu masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian seorang pria masuk dan langsung menyalami Daniel. Daniel mempersilahkan pria yang tak lain adalah penyidik itu untuk duduk. Namun melihat gelagat terkejut diwajah pria itu waktu Ia melihat Calista yang sedang serius didepan laptopnya, Daniel tersenyum.


"Dia....wanita yang kamu selidiki dulu adalah istriku. Jadi yang didalam foto itu sebenarnya adalah istriku dan saudara kembarnya. Aku sudah bertemu dengan pria dalam foto itu yang tak lain adalah adik iparku. Semua cuma salah paham dan sudah diluruskan."


Penyidik itu kemudian mengangguk tanda mengerti.


"Saya sudah mengirimkan semua bukti-bukti ke email anda dan juga ke auditor anda. Jadi, menejer Tommy sudah terbukti bersalah menggelapkan dana yang harusnya ditransfer ke perusahaan Way of Life dan juga memalsukan laporannya. Jadi perusahaan di Singapura itu tidak bersalah sama sekali. Mereka sudah memenuhi aturan perjanjian.


Sekarang manajer Tommy sedang berada dikantor polisi untuk proses hukum. Penggelapan itu dilakukannya sewaktu Ia izin dengan alasan sedang berobat ke Penang. Ternyata Ia sedang proses untuk melebarkan bisnisnya disana dengan uang anda."


Daniel mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, good job! Oh iya, komisi anda mau saya kasih tunai atau ditransfer?" Tanya Daniel dengan wajah puas.


"Di transfer saja, Pak, biar lebih aman." jawab pria itu sambil menyalami Daniel. "Sekalian saya pamit. Senang bekerja sama dengan anda."


Pria itu kemudian berlalu dari hadapannya.


Daniel merasa sangat lega karena scandal penggelapan dana di perusahaannya telah terungkap. Ia merasa rileks dan senang karena telah terlepas dari masalah yang telah membuatnya depresi dan sempat memporak porandakan rumah tangganya.


"Sayang...maafkan kalau kamu sempat mendengarkan percakapan tadi dan sempat menyebut-nyebut dirimu," kata Daniel pada istrinya yang sedang meluruskan badannya karena terasa pegal.


Calista tersenyum. "Maaf, tapi aku sudah tak memikirkan hal itu lagi. Bagiku masalah itu sudah lama selesai. Sekarang....aku lapar banget nih. Pengen makan bakso tiga mangkok sambil disuapin sama kamu!"


Daniel tersenyum geli mendengar perkataan istrinya. Segera Ia memanggil Albert untuk memenuhi permintaan Calista. Ia senang kalau istrinya makan yang banyak. Ia ingin agar istri dan anaknya sehat terus.

__ADS_1


__ADS_2