
Calista tidak lagi menumpang di apartemen Kimberly. Sejak Ia merasa lebih baik, Ia telah tinggal lagi di apartemennya. Tentu saja Ia tak mau tinggal di rumah baru pemberian Daniel. Baginya rumah itu mengingatkannya pada trauma yang masih berusaha Ia hilangkan sampai saat ini.
Calista menatap berkas perceraian dihadapannya. Sedikit ragu Ia membacanya. Ada perasaan pedih ketika Ia harus memegang sebuah pena lalu mencoretkan tanda tangannya dibagian yang mana tercetak namanya.
Beberapa saat kemudian bell apartemennya berbunyi. Seorang jasa pengantaran dokumen dan barang yang sudah ditelponnya tadi telah tiba.
"Jadi semua dokumen ini akan saya bawa ke Wikatama Group, untuk Tuan Daniel Nielson."
Kata pria itu sambil membaca nama dan alamat yang tertera disitu."
"Iya Pak. Ini biayanya. Makasih ya Pak." ucap Calista menyerahkan sejumlah uang. Pria itupun berlalu dengan membawa semua dokumen yang telah diserahkan Calista padanya.
Calista duduk kembali dimeja kerjanya. Ia sedang mengurus beberapa dokumen penting berkaitan dengan izin pembukaan usahanya. Jika tidak ada halangan, begitu izinnya keluar, Ia bisa segera memulai usaha pertamanya.
Ia tak mau lagi menjadi wanita lemah dihadapan mantan suaminya. Itu bukanlah sifatnya. Benar kata Kimberly. Jika terus hidup dalam depresi, dirinya sendiri yang rugi dan mantannya akan segera melupakannya serta menikah lagi.
Namun untuk saat ini, Ia masih menutup hatinya untuk pria lain. Baginya, untuk jatuh cinta lagi bukanlah perkara gampang. Ia masih perlu waktu yang lama untuk menyembuhkan luka hatinya atas kegagalan rumah tangganya.
Calista meraih hapenya dan mulai menelpon beberapa orang yang telah dijadikan pegawainya mula-mula dalam persiapan pembukaan restoran franchisenya yang pertama. Semua persiapan sedang dalam proses dan baru rampung sekitar tujuh puluh lima persen.
Calista benar-benar sibuk hari itu sehingga makanpun hanya mie instant. Ia tak punya waktu untuk memasak untuk dirinya atau memesan makanan lewat online.
Tak terasa hari sudah menjelang sore. Calista menggerak-gerakkan pundaknya yang terasa sangat pegal. "Aku butuh berolah raga hari ini, sudah lama gak ke tempat fitness." gumamnya.
Calista meraih hapenya dan menelpon sahabatnya.
"Kim, udah selesai kerja? Aku ingin ke tempat fitness sama kamu. Bisa gak?"
Suara diseberang menjawab dengan ragu.
"Cal, besok aja gimana? Aku harus lembur hari ini dengan beberapa teman. Tim kami harus presentasi besok. Lagian kalau lembur dapat bayaran ekstra yang lumayan hehe."
"Ya udah, Kim. Aku pergi sendiri saja. Nanti besok bareng kamu. Aku udah butuh banget menggerakkan badan." kata Calista setengah merajuk.
Kim tersenyum diseberang. "Ya udah, gini aja, kamu olah raga saja, nanti aku jemput kamu untuk pulang. Aku usahakan lembur kali ini gak lama-lama, okay?"
Calista tersenyum. "Baiklah, see you later, Kim."
__ADS_1
Calista sudah siap-siap untuk ke tempat fitness. Ia sangat bersemangat karena seiring waktu berjalan Ia mulai keluar dari kesedihannya. Ia memakai sport bra yang memperlihatkan perutnya yang rata dan juga hot pants pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Ia memakai jaket panjangnya dan kemudian meraih tas yang berisi handuk dan pakaian ganti. Ia kemudian meraih hapenya untuk memesan taxi online.
"Kayaknya aku sudah harus membeli mobil sendiri. Aku sudah sangat membutuhkannya sekarang. Tak mungkin lagi terus berharap pada Kim." pikir Calista. Ia pun mengangguk mantap sambil tersenyum. Ia sudah memutuskan untuk kesebuah dealer minggu depan.
.
.
.
.
Calista tiba ditempat fitness. Seperti biasanya Ia menuju keruang aerobics untuk senam. Ia membuka jaketnya, mengambil handuknya serta menyimpan tasnya disebuah loker.
Calista mengahabiskan waktunya
hampir satu jam setengah. Sambil menyeka peluh ditubuhnya, Ia kemudian ingat kalau Ia lupa lagi membawa tumblernya.
Calista beristirahat sebentar sambil menuju ke cafe untuk membeli minuman isotonik dingin. Beberapa meter dari tempat Calista lewat, ada sepasang mata yang begitu terkejut melihatnya. Ya, sepasang mata itu adalah milik Daniel yang sedang mengangkat barbel ditangannya. Ia tiba-tiba kehilangan konsentrasi sehingga barbel kecil tapi berat itu menimpa kakinya. "Ouuch!" jerit Daniel.
"Sial! Kenapa aku harus bertemu dia disini?" ucap Daniel sambil terus meringis pelan memijat kakinya. Untunglah sepatunya agak tebal sehingga tidak sampai mencederai kakinya.
Mata Daniel terus mengawasi sosok sexy itu. Perasaannya bercampur aduk antara rindu tapi juga benci. Ia tak dapat membohongi perasaannya saat itu. Calista terlihat sangat menarik dan menggiurkan dalam balutan sport bra dan hot pants pendeknya itu. Perut dan paha mulusnya benar-benar membuat kepala Daniel berdenyut.
"Arrgh....sial, sial, sial." bentak Daniel pada dirinya. Seandainya Calista masih miliknya, Ia pasti sudah memaksa si sexy itu memakai jaket atau apalah untuk menutup tubuhnya yang telah membuat beberapa pasang mata lelaki disekitarnya sesekali mencuri-curi pandang.
Daniel keluar dari tempatnya berlatih dan berjalan menuju toilet.
Di antara toilet pria dan wanita, ada sebuah ruangan ganti darurat yang jarang dipakai orang karena terkesan kurang nyaman. Calista yang sudah kebelet pipis segera menuju ke toilet. Beberapa saat kemudian Ia bermaksud untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah diruang ganti darurat itu.
Pada saat Ia bermaksud membuka pintu yang agak keras itu karena jarang digunakan, Daniel tiba-tiba muncul dari dalam toilet pria dan hampir menabrak tubuh Calista.
Keduanya sama-sama terkejut dengan wajah salah tingkah. Mereka kemudian saling bertatapan. Calista tersenyum sinis kemudian berusaha memalingkan wajahnya dari Daniel.
Calista terus berusaha membuka pintu didepannya. Namun tangannya ditahan Daniel. "Kenapa? Ingin menghindariku? Apakah kamu takut?" Tanya Daniel dengan suara mengejek.
Calista pura-pura tidak mendengarnya. "Minggirlah... jangan halangi aku." Pintu terbuka dan sebelum masuk kesana, Calista kembali menatap Daniel dengan tatapan penuh kebencian, "Dan agar kamu tahu, Aku tak pernah takut padamu! Aku hanya jijik!"
__ADS_1
Mendengar perkataan sinis Calista, Daniel langsung mendorong tubuh itu kedalam ruang ganti dan menutup pintu dibelakangnya. Ruang kecil itu seketika terasa sangat sempit sehingga Calista terpojok dengan posisi Daniel yang berdiri dengan tubuhnya sudah agak menempel pada Calista.
"Apa lagi yang akan kamu lakukan padaku, Danny. Tidak cukupkah kau pernah memaksaku meladeni nafsu bejatmu? Kamu benar-benar lelaki.....yang..."
Belum selesai Calista menuntaskan isi hatinya, Daniel telah menarik lehernya dan mulai ******* bibirnya. Calista berusaha berontak tapi Daniel terlalu kuat baginya.
Calista merasa percuma untuk melawan, Ia terlalu lelah karena berolah raga tadi.
Ciuman Daniel tidak sebuas yang terakhir, Ada kelembutan disetiap hisapannya. Calista tak sadar telah menutup matanya dan mulai membalas lumatan Daniel, seketika mulutnya terbuka, lidah Daniel langsung menari-nari di dalam sana.
Ciuman itu semakin dalam dan memabukkan! Entah sadar atau tidak, kedua tangan Calista sudah melingkar dileher Daniel sehingga keduanya merasakan menyatuan bibir mereka yang semakin sempurna. Keduanya terus dimabuk gairah yang membakar tubuh mereka yang berkeringat. Daniel terus ******* tanpa berhenti sambil sesekali menggigit pelan bibir Calista.
Tangan Daniel tanpa sadar mulai mengerayangi tubuh sexy itu. Calista mendesah....sesaat kemudian keduanya seperti tersadar atas apa yang tidak semestinya mereka lakukan. Keduanya saling melepaskan ciuman dan pelukan dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Calista mendorong tubuh Daniel dari hadapannya kemudian meraih gagang pintu dan membukanya. Pikirannya jadi kacau balau. "Dasar brengsek!" umpat Calista pada Daniel sebelum berjalan keluar.
Daniel berusaha mengatur nafasnya. "Brengsek? Bukankah kamu juga menikmatinya?" gumam Daniel pada dirinya. Ia tersenyum puas dan keluar dari ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Daniel melihat Calista yang sedang masuki mobil yang dikendarai oleh seorang gadis berambut merah. Ia pun bersiap-siap untuk pulang.
Didalam mobil Kimberly memperhatikan temannya yang kelihatan aneh. Antara kesal dan salah tingkah. Dan juga ada yang salah dengan bibir itu...
"Kamu habis dicium ya?" Tanya Kimberly langsung ke inti pertanyaan. "Bibir kamu agak bengkak tuh... boleh aku tahu siapa yang sudah merebut hatimu?"
Mendengar pertanyaan Kimberly, Calista langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kelihatan sangat kesal, marah, dan juga bingung.
"Aku...aku..ah sudahlah. Pokoknya aku jijik padanya!"
Kimberly mencoba mencerna maksud jawaban Calista. Sedetik kemudian, Ia menyeringai sambil tersenyum menggoda.
"Jangan katakan kalau kamu bertemu Tuan Daniel disana. Hmm.... "
Calista menghentakkan kakinya dengan kesal. "Itu sebuah kecelakaan yang tidak disengaja!" jawab Calista seperti sedang membela dirinya.
"Oww....ketidaksengajaan." kata Kimberly mengangguk berkali-kali. "Hmm.... aku bisa membayangkan berapa lama dan panasnya kecelakaan itu hingga bibirmu bengkak seperti itu."
Calista cemberut. "Ah sudahlah...Aku tak mau membahasnya lagi. Aku mau pindah tempat fitness aja mulai besok!"
__ADS_1
Kimberly hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya. Pikirnya, baik Tuan Daniel maupun Calista sebenarnya masih saling menyayangi dan membutuhkan Hanya saja ego masing-masing terlalu mendominasi.