Contradictory Love

Contradictory Love
42 - Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Malam itu mau tak mau Calista harus menginap menjaga Daniel.


Ketika tiba, Daniel sudah bisa berjalan sendiri karena rasa sakitnya sudah reda. Hanya keringat dinginnya yang masih terlihat disana-sini.


Calista membimbing Daniel ke sofa dan lelaki itu langsung berbaring disana.


Calista membersihkan sisa-sisa pecahan gelas dilantai dan kemudian berjalan ke dapur untuk membuat bubur ayam untuk Daniel. Kebetulan di dalam kulkas masih ada beberapa potongan kecil ayam kampung.


Daniel memperhatikan Calista yang sibuk mengurusnya. Walaupun Ada perasaan malu tapi Ia tidak memungkiri kalau perasaannya sangat bahagia melihat gadis itu ada disaat-saat seperti ini. Ingin rasanya Daniel memeluk tubuh itu dari belakang seperti yang sering Ia lakukan dulu sewaktu mereka masih bersama.


Calista menuangkan bubur kedalam mangkuk kecil, kemudian Ia melihat ke arah jam didinding. "Sudah sejam setelah obat yang pertama. Waktunya untuk mengisi perut." gumamnya.


Ia berjalan menuju kearah sofa dimana Daniel berbaring.


"Danny... makan dulu ya walaupun hanya sedikit. Kata dokter perut kamu harus diisi setelah tadi kamu minum obat sejam yang lalu."


Daniel menaikkan badannya dan mengangguk.


"Calista, terima kasih sudah menolongku." kata Daniel lembut. Calista tersenyum tapi Ia tak mau membalas tatapan Daniel mengingat posisi duduk mereka kini berhadapan dan sangat dekat.


Calista mulai menyuapi Daniel pelan-pelan. Ia benar-benar salah tingkah. Jantungnya berdetak tak beraturan lagi.


"Kenapa pipimu memerah?" Tanya Daniel yang terus menatap Calista dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Tatapan seperti orang yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Pipi Calista semakin bersemu merah mendengar perkataan Daniel. Ia pun langsung buru-buru berdiri untuk mengambil air.


"Kayaknya sudah cukup. Aku ambil air dulu."


Daniel masih terus menatapnya dan kali ini dengan senyuman. "Tapi aku masih mau makan."


Calista menatap Daniel untuk mencari kesungguhan disana. Bukannya tadi meringis-ringis kesakitan? Cepat sekali nafsu makannya kembali. Pikir Calista.


"Akan aku ambilkan lagi buburnya."


Calista mulai menyuapi Daniel lagi. Dan benar saja, bubur mangkuk ke dua habis dilahapnya. Ada rasa senang di hati Calista melihat Daniel sudah terlihat lebih baik dari beberapa jam yang lalu.


Calista membimbing Daniel ke kamarnya untuk tidur. "Tidurlah Danny. Kamu istirahat dulu. Nanti aku yang hubungi Albert untuk memberitahukkan kalau besok kamu izin dulu."


Calista melirik sebuah sofa didekat tempat tidur itu. Ia beranjak kesitu untuk siap-siap tidur. Daniel memperhatikan itu. Ingin rasanya Ia menarik tubuh sexy itu untuk tidur diranjang yang sama tapi Ia tak mau membuat gadis itu merasa tak nyaman.


Mereka berdua terlelap di tempat masing-masing. Calista benar-benar kelelahan malam itu sampai-sampai Ia tak lagi merasakan tangan kekar Daniel yang memindahkan tubuhnya ke atas ranjang dan menyelimutinya disana.


Matahari yang masuk disela-sela gorden membuat Calista tersadar. Ia sedikit kaget melihat posisi dirinya yang sudah berada di atas ranjang Daniel. Seperti dihantam sebuah sansak, Calista langsung memeriksa tubuhnya. "Syukurlah. Tidak terjadi apa-apa." gumamnya setelah melihat dirinya masih berpakaian lengkap seperti tadi malam.


Daniel sudah tak ada ditempat itu. Ia telah bangun sejak subuh jam lima karena ada beberapa email yang harus dibalasnya Hari itu. Lagian, Ia sudah merasa lebih baik dan segar pagi itu.


"Selamat pagi." Sapa Daniel yang muncul dipintu kamar. Ia datang mendekati Calista yang masih duduk dalam keadaan bingung dengan selimut masih menutupi setengah badannya.

__ADS_1


"Maaf, aku memindahkanmu semalam. Aku lihat kamu kedinginan." Daniel tersenyum sangat manis dan langsung duduk disamping tempat tidur di mana Calista sedang duduk. Ia kelihatan sangat segar pagi itu. Calista terpana menatap Daniel yang begitu tampan. Matanya, hidungnya, dan bibir itu...yang selalu suka melumatnya...ah..serasa membuat Calista bergetar.


Sesaat Calista tersadar akan kebodohannya.


"Aku akan membuat sarapan untukmu." kata Calista gugup. Ia hendak beranjak dari ranjang itu tapi Daniel menahannya.


"Aku sudah membuat sarapan. Maaf, Aku sudah duluan sarapan karena sejam sebelumnya aku sudah minum obat sesuai anjuran dokter. Aku harus bisa mengurus diriku sendiri. Aku sudah membuatkanmu sarapan. Anyway, terima kasih sudah mengurus dan menjagaku semalam." ucap Daniel dengan tatapan mesranya yang membuat Calista tak berkutik. Pipinya terasa panas... mereka masih saling menatap agak lama dengan jarak yang sangat-sangat dekat.


Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja bibir keduanya sudah saling bertautan. Tidak terkesan buru-buru tapi mengalir dalam kelembutan. Bahasa tubuh masing-masing mengisyaratkan betapa mereka saling merindukan, membutuhkan belaian, dan tentunya rasa yang terpendam untuk melepaskan gairah cinta yang masih tersisa.


Keduanya hanyut lebih dalam lagi. Masing-masing tak mengiraukan lagi apa status mereka sekarang, dan kebencian yang ada seakan terhalang sementara oleh kenikmatan yang sedang direngkuh.


Kamar itu dipenuhi suara desahan demi desahan yang sahut menyahut. Calista merasakan kenikmatan yang sangat berbeda saat itu. Daniel melakukannya dengan sangat lembut, perlahan, tapi memberikannya kenikmatan akhir yang mengejutkan. Ia tak lagi buas dan kasar seperti terakhir kali mereka melakukannya.


Keduanya tak sanggup menolak kenikmatan puncak yang berkali-kali datang menyengat. Dan ketika tersadar dalam kelelahan tubuh masing-masing, keduanya hanya bisa terdiam dan tak sanggup berkata apa-apa. Ada rasa bersalah yang menyusup dalam hati masing-masing.


Calista berdiri, memungut pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Daniel yang tersadar atas apa yang baru saja terjadi, segera pula memakai bajunya dan buru-buru keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian Calista keluar sudah dalam keadaan rapi.


Daniel menatapnya dengan salah tingkah.

__ADS_1


"Calista, maaf." ucapnya singkat.


Calista berjalan kearah pintu tanpa menoleh lagi. "Aku pulang dulu. Anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi." Ia pun melangkah pergi meninggalkan Daniel yang masih resah dengan dirinya sendiri.


__ADS_2