Contradictory Love

Contradictory Love
31 - Pengintaian


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu Calista telah tiba. Ia sudah mempersiapkan segalanya selama berhari-hari. Sebentar lagi pengumuman bagi penumpang untuk masuk kedalam pesawat menuju Singapura akan terdengar.


Calista sengaja tidak memberitahukan Daniel tentang hari kedatangannya. Ia berencana untuk memberikan kejutan romantis dikantornya nanti. Seandainya Ia tidak harus bertemu Marcel dulu selama dua hari kedepan di Singapura, tentunya Ia sudah mengambil penerbangan langsung. Calista membuka WhatsAppnya dan mengetik beberapa kata dalam bahasa Inggris untuk suaminya.


"Can't wait to be with you soon, honey." diiringi emoji ciuman dan gambar bibir wanita.


Beberapa saat kemudian balasan dari Daniel muncul disana. "One more week, right? Hmm... be ready to be exhausted!". Calista tersenyum geli membaca kata 'exhausted'. Ia benar-benar harus bersiap untuk dibuat lelah setiap hari oleh suaminya setiba nanti di Jakarta.


Calista sudah membayangkan wajah Daniel dan bagaimana Ia akan mencumbunya nanti. Belum pernah Ia merasa sangat tergila-gila dengan seorang pria sebelumnya. Rindu yang telah Ia tahan selama dua bulan ini membuatnya semakin bersemangat untuk segera merealisasikan semua rencananya setiba di Indonesia nanti. Calista tersenyum sendiri, Ia yang biasa mengurus diri sendiri kini harus mengurus suaminya juga.


Panggilan bagi para penumpang sudah terdengar dan Calista langsung mengakhiri chattingannya dengan Daniel. la lalu berdiri untuk mengantri sesuai nomor kursinya. Kali ini Ia tidak mendapatkan window seat karena sudah full. Ia tidak peduli lagi, mau window kek, aisle kek, yang pasti Ia sangat senang untuk segera berangkat.


Beberapa jam kemudian Calista sudah tiba di Singapura. Ia mengambil hapenya dan mulai menelpon seseorang. Yang ditelpon ternyata sudah berada dihadapannya sambil senyum-senyum.


"Kak, selamat datang kembali. Mana barang-barangnya biar aku yang bawa." suara Marcel mengagetkan Calista.


"Ternyata kamu udah dari tadi ya menunggu?"


ucap Calista penuh semangat.


"Aku selalu tepat waktu bukan?" kata Marcel dengan wajah bangga. "Ayo. Kita makan dulu di pusat wisata kuliner. Aku lapar banget nih Kak."

__ADS_1


Calista tersenyum dan berjalan mengikuti Daniel.


Sekitar lima meter di belakang mereka, seorang pria bertopi putih bertuliskan 'Las Vegas' dengan jaket hitam berkerah tinggi, mengawasi gerak gerik kedua Kakak beradik itu. Ketika dua sosok itu berjalan ke parkiran, Ia juga ikut melangkah dengan penuh kehati-hatian.


Marcel memacu mobilnya ke pusat wisata kuliner. Turis-turis dari berbagai negara memadati beberapa sudut kota untuk berswa foto. Kakak beradik itu tidak menghabiskan banyak waktu untuk makan. Hanya sekedar mengisi perut karena Calista agak lelah selama perjalanan.


Beberapa saat kemudian mobil Marcel sudah memasuki parkiran sebuah hotel berbintang empat di tengah kota.


Calista berjalan kedalam diikuti Marcel yang membawakan barang-barangnya untuk diserahkan kepada seorang bell boy.


"Kak, istirahatlah dulu. Kita bicara besok saja karena Kakak akan ke Indonesia nanti lusa, kan? Jadi, kita masih punya cukup waktu untuk ngobrol." Marcel memeluk Kakaknya dan mencium pipinya. "Kalau butuh apa-apa, langsung hubungi aku ya. Hotel sudah aku bayar, jika Kakak mau pakai fasilitas hotel lainnya, tagihannya nanti aku bayar. Aku masih harus mengurus beberapa hal sepanjang hari ini. Bersenang senanglah. Bye"


Marcel keluar dari hotel dan kembali ke perusahaannya.


Pria itu membuka galeri hasil jepretan awalnya, menandainya dan mengirimkannya pada seseorang dengan tulisan


"Maaf, wajah si lelaki tidak jelas. Masih mencari tahu siapa si wanita tersebut. Lusa mereka janjian ketemu untuk membahas sesuatu. Akan aku usahakan untuk dapat menyadap lewat pakaian. Silahkan di zoom beberapa kali untuk melihat dengan jelas wajah si wanita. Info selanjutnya menyusul."


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


#Jakarta


Daniel sedang menikmati kopinya ketika hapenya berbunyi. Ia membuka pesan WhatsApp. Beberapa gambar dan sebuah pesan tertera disana. Daniel membaca pesan itu dan kemudian mulai membuka foto-foto yang dikirimkan.


Ia mencoba memperbesar sebuah foto yang memperlihatkan wajah seorang wanita berambut hitam panjang dengan tubuh langsing dan berkulit putih. Daniel mencoba memperhatikan wajah wanita yang sedang berpelukan dan mendapat ciuman dari pria yang tidak jelas wajahnya.


Beberapa detik kemudian mata Daniel membesar dengan mulutnya yang terbuka. Air mukanya berubah drastis. Sekali lagi Ia mengamati gambar-gambar yang lain dengan tangannya yang agak bergetar berusaha menahan gejolak perasaannya yang mulai kacau balau. Perutnya serasa diaduk aduk. Seketika Daniel berdiri dan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya disana sebagai respon rasa syok, terkejut, marah, kecewa, dan berbagai rasa rasa lainnya yang tak dapat lagi dinamai satu persatu.


Daniel terduduk lemas di lantai kamar mandinya. Hapenya sudah terlempar diamping tubuhnya. Ia berusaha bangkit menuju washtafel didekat situ dan langsung mencuci wajahnya dengan kasar. Wajahnya memerah menahan geram bercampur kebencian. Daniel mengepalkan tangan kanannya dan kemudian meninju kaca didepannya hingga pecah. Darah mengalir kesela-sela jarinya. Nafasnya memburu....ada setitik air mata yang keluar dari salah satu sudut matanya. Tatapannya kosong.


Ia beranjak dari situ menuju kesebuah sofa dan duduk dengan tubuh yang lunglai tak bertenaga. Ada rasa sakit yang Ia rasakan dibagian tangannya yang terluka. Namun rasa sakit di hatinya jauh melebihi luka ditangannya itu.


"Calista... mengapa? Mengapa kau membohongiku? Daniel berucap dengan wajah yang pasrah karena tenaganya seperti lenyap.

__ADS_1


"Siapa kamu sebenarnya?"


Terasa sunyi dalam ruangan itu. Daniel memejamkan matanya. Terlalu sakit kenyataan yang harus dihadapinya. Ia tak dapat berpikir lagi, bahunya berguncang menahan tangis yang pecah seketika. Beberapa menit kemudian Ia terlelap dalam kelelahan tubuh dan emosinya.


__ADS_2