Contradictory Love

Contradictory Love
32 - Penyadapan


__ADS_3

Calista baru saja mengatur kembali kopernya yang agak berantakan. Sebelum makan malam dengan Marcel, Ia ingin mengatur dulu semua barang-barangnya karena pesawatnya ke Jakarta besok pagi berangkat jam 07.00. Sangat pagi! Ia sengaja memilih penerbangan kedua karena Ia benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu suaminya. Calista tak ingin ada satu barangpun yang ketinggalan sehingga Ia harus mengatur semuanya dengan teliti karena pertemuan dengan Marcel bisa saja sampai tengah malam.


Ia menatap lagi layar hapenya dengan gelisah. Ada perasaan sedikit kecewa karena sejak Ia tiba di Singapura kemarin, suaminya belum video call satu kalipun. Ini bukan kebiasaan Daniel. Selama mereka terpisah jarak, suaminya tak pernah absen menghubunginya satu haripun.


Calista berinisiatif untuk menelpon suaminya beberapa kali. Anehnya tidak bisa tersambung. Calista tak mau berpikir yang aneh-aneh. Ia sangat mengerti dengan suaminya yang memikul beban sebagai pimpinan utama perusahaannya.


Sekali lagi Calista mencoba menghubungi nomor suaminya tapi tetap tidak berhasil. Calista menarik nafas dan membuangnya dengan berat. Bagaimanapun Ia tetap merasa khawatir. "Semoga dia baik-baik saja." bisiknya dalam hati.


Setelah selesai berbenah, Calista bersiap-siap di depan cermin. Ia memakai make up seadanya dan mengucir rambutnya keatas.


Beberapa menit kemudian telepon dikamarnya berdering. "Ya, halo." sapa Calista.


Terdengar suara resepsionis diseberang.


"Miss, anda ditunggu saudara Marcel sekarang di lobby."


"Oke, terima kasih." Calista menutup telepon, meraih tas dan hapenya kemudian keluar dari kamarnya menuju lobby hotel.


Marcel sudah menunggu dibawah dengan memakai jumper berwarna putih hitam, topi bertuliskan NBA dan kaca mata hitam seperti biasanya. Ia tidak mengenal siang maupun malam, tetap saja memakai kacamata hitamnya.

__ADS_1


"Hai Kak, kita ke Cafe diseberang jalan aja. Gak usah jauh-jauh karena besok pagi-pagi Kakak harus bangun pagi banget mengejar pesawat."


Permintaan Marcel langsung disetujui oleh Calista. Merekapun berjalan menuju ke tempat mobil Marcel diparkir.


Sepasang mata sedang mengawasi mereka berdua dari kejauhan. Pria itu menyulut rokoknya dan kemudian bersiap-siap mengikuti kedua orang yang sedang diawasinya.


Di Cafe itu lumayan banyak pengunjung. Marcel sedikit berkeringat melawan rasa takut yang tiba-tiba muncul. Melihat reaksi Marcel, Calista langsung mengerti. Ia langsung mengapit salah satu lengan adiknya dan menuntunnya kesebuah pojok ruangan terbuka untuk duduk disana.


Pada saat melewati pintu yang menuju keluar, seorang pria yang berpapasan dengan mereka tidak sengaja menabrak bahu Marcel. Tangannya sempat menempelkan suatu benda, kecil dan berwarna abu abu dilengan jumper Marcel dengan cepat.


"Maaf, Tuan." kata Marcel tanpa menoleh. Ia merasa bahwa dialah yang salah, entah karena sedikit pusing melihat orang banyak atau karena penerangan diruangan terbuka yang hanya samar-samar sehingga Ia tak sengaja menabrak pria itu.


"Kita duduk saja disini. Disini agak sunyi." kata Calista sambil menuntun adiknya kesebuah meja. Mereka memesan makan malam dan juga wine.


Calista mendengar penuturan Marcel sambil tersenyum puas.


"Tadi aku sudah transfer dua puluh persen untukmu. Anggaplah itu 'the gift' yang aku janjikan. Tanpa bantuanmu, aku mungkin belum bisa memutuskan mengambil keputusan ini. Setidaknya aku lega. Mulai minggu depan aku akan rutin menjalani terapiku."


Calista menggenggam tangan adiknya dengan perasaan senang. "Makasih ya atas the giftnya. Aku jadi gak enak menolaknya."

__ADS_1


"Gak boleh menolak. Nanti aku ngambek." kata Marcel seraya meneguk wine ditangannya. Tiba-tiba lengan Marcel terasa gatal. Ia menggaruk dan tanpa diketahuinya sebuah benda kecil yang ditempelkan pria yang menabraknya tadi terlepas dan jatuh didekat kakinya. Marcel menggerakkan posisi kakinya sehingga benda yang jatuh di dekat kakinya itu seketika hancur karena diinjak.


Pria yang menabraknya tadi ternyata duduk tak jauh dari mereka. Ia telah selesai mengambil beberapa gambar dua orang yang disadap itu. Tiba-tiba Ia merasa sedikit panik,


"Sial! Dasar sial! Pasti benda penyadap itu telah jatuh dan tidak menempel lagi disana!" Ia mencoba mendengar sesuatu tapi tidak ada suara apa-apa padahal jelas sekali Ia melihat kedua orang itu masih sedang berbicara serius sambil sesekali tertawa.


Pria itu memasang headsets dan mencoba mendengarkan bagian percakapan yang sempat direkamnya. Ia ingin memastikan apakah suara kedua orang tersebut terdengar jelas. Ia menutup mata dan mencoba mendengar hasil sadapannya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bagus. Ini sudah cukup sebagai bukti." Ia kemudian berdiri, meninggalkan sejumlah uang dimeja dan kemudian keluar dari cafe itu. Ia merasa misinya untuk memperoleh jawaban bagian yang diminta oleh Big Boss yang menugaskannya telah selesai. "Semoga Big Boss puas!" ucapnya sambil menyulut sebatang rokok.


Pria itu berdiri, melihat ke jam tangannya.


"Masih ada cukup waktu untuk kembali malam ini." ucapnya pada diri sendiri.


Sebuah taxi berhenti dan Ia masuk kedalam.


"Airport, Pak." katanya.


Ia hanya membawa tas berukuran sedang yang hanya berisikan beberapa potong pakaian, kamera, peralatan sadap, dan beberapa berkas.

__ADS_1


Sesuai janjinya pada Big Bossnya, Ia akan segera kembali ke tanah air jika informasi yang diperlukan sudah cukup. Lagian Big Bossnya tidak menuntut penyelidikan yang terlalu mendalam karena Ia tidak sedang menyeret siapapun ke ranah hukum. Ini semua hanya untuk keperluan pribadinya.


Taxi terus melaju ke arah Changi airport. Pria itu mengambil penerbangan malam agar bisa tiba secepatnya di Jakarta. Bayaran tahap keduanya telah menunggu. Ia tak sabar untuk menikmati hasil kerjanya.


__ADS_2