Contradictory Love

Contradictory Love
35 - Petaka Di Rumah Baru


__ADS_3

Pagi itu Calista telah bersiap-siap. Ia bangun lebih dulu dari suaminya. Berusaha melupakan kejadian kemarin, Calista menyalurkan sakit hatinya dengan membuat sarapan roti telur dan martabak manis mini cokelat keju dan jus apel dingin.


Ia berharap suaminya tidak akan bertindak sedingin dan secuek kemarin. Setelah selesai mengatur sarapan diatas meja. Ia bergegas ke kamar untuk segera mandi. Ketika memasuki kamar, terlihat Daniel baru saja selesai mandi dan sedang berpakaian.


"Met pagi, sayang." Sapa Calista dengan senyum. Namun sapaannya tidak mendapat jawaban apapun. Daniel terlihat sangat berkonsentrasi menggulung lengan panjang kemejanya keatas. Ia mengenakan jeans biru gelap pagi itu. Penampilannya yang casual sangat memikat Calista. Sayang, ketampanan itu seakan tertutup awan mendung.


Calista terdiam sesaat memperhatikan suaminya yang tak sedikitpun menoleh padanya.


"Aku sudah menyiapkan sarapan diatas meja. Makanlah dahulu, tak perlu menungguku. Aku masih harus mandi dulu." ucap Calista dan kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Ketika selesai berganti pakaian dan berdandan minimalis, Calista meraih tas dan hapenya. Tak lupa Ia menggoosok lembut bibirnya dengan lisptik lipgloss berwarna cherry pink. Ia memakai rok pendek diatas lutut berwarna merah, sedangkan blusnya sedikit longgar dan pendek sehingga memperlihatkan sedikit perutnya yang rata dan menggiurkan.


Hari itu Calista hanya memakai sepatur kets rata yang membuatnya terkesan lebih imut.


Ketika keluar dari kamar, Calista melihat Daniel yang sementara menikmati sarapannya. "Biasanya dia pasti menungguku untuk makan sama-sama." bisik hatinya.


Daniel menyadari keberadaan istrinya. Ia tak sengaja melihatnya sekilas dan langsung pura-pura sibuk menikmati sarapannya. "Sial!Mengapa setiap inci tubuhnya selalu berhasil membuatku bergetar? Caranya berpakaian benar-benar sedang mengujiku!" bisik Daniel dikepalanya.


Calista melangkah ke ruang makan dan duduk didepan suaminya. Ia mengambil sarapannya dan mulai mengunyah dengan pelan. Ia ingin memecah kesunyian diantara mereka tapi Ia tak tahu harus memulai dari mana.


Beberapa menit kemudian Daniel berdiri dan langsung menuju ke meja kerjanya. Ia mengambil dua buah map yang sudah Ia siapkan dua hari lalu dan juga sebuah amplop besar lalu menaruhnya didalam tas yang sudah Ia siapkan.


Melihat itu, Calista cepat-cepat menyelesaikan makannya. Pikirnya, mungkin suaminya sudah harus bergegas. Calista membiarkan peralatan makan mereka didalam washtafel. Ia tak punya waktu lagi untuk mencucinya karena suaminya terlihat sudah siap-siap untuk berangkat.


"Apa kamu sudah siap?" Tanya Daniel tanpa menoleh.


"Iya, aku sudah siap, sayang." kata Calista lembut sambil mengikuti suaminya dari belakang.


Sepanjang perjalanan ke rumah baru, keduanya tak berbicara sepatah katapun. Calista memperhatikan suaminya yang hanya diam sambil terlihat fokus pada jalan didepannya.


Ada sedikit rasa bergidik melihat ekspresi suaminya yang bukan hanya sedingin salju tapi juga tatapan penuh tanda tanya yang seakan siap menerkamnya sewaktu-waktu. Ada yang tidak beres dengan suaminya, pikir Calista. Ia menyetir dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari biasanya. Calista tak berani menegur cara suaminya menyetir. Ia memutuskan untuk diam agar tidak memperkeruh suasana hati suaminya.


Mobil Daniel berhenti didepan sebuah pagar tinggi, Ia menekan sebuah benda kecil mirip remote mobil dan seketika pintu besar itu terbuka perlahan. Mobil memasuki pekarangan yang dipenuhi dengan bunga-bunga beraneka warna dengan jalan-jalan setapak yang terbuat dari batu alam. Pekarangan depan itu terlihat sangat indah dan tertata rapi. Beberapa lampu taman beraksen klasik, menambah kesan elegan. Ada sebuah kolam teratai kecil di tengah-tengahnya. Rumah itu terasa sejuk dan teduh.


Mereka berdua turun dari mobil dan Calista langsung mengikuti suaminya kedalam rumah. Setelah membuka pintu utama rumah itu, Calista merasakan udara sejuk dari pendingin ruangan yang otomatis menyala ketika pintu utama dibuka.


Calista memperhatikan ruang tamu yang terkesan modern dengan paduan furnitur yang sangat cocok dengan luas rumah itu. "Hmm...ternyata Daniel sudah menyiapkan segalanya sesuai dengan seleraku." ucap Calista dalam hati.


Selesai melihat-lihat semua ruangan lantai satu termasuk kolam renang dan taman belakang, Calista mengikuti Daniel yang sudah menaiki tangga menuju lantai dua.


Daniel memasuki sebuah kamar yang sangat luas dengan kamar mandinya yang terkesan mewah, lengkap dengan segala fasilitas yang diperlukan. Ruang pakaian, sepatu, tas dan sebagainya tampak begitu luas dan didesain dengan sangat elegan. Tempat tidur berukuran king size terletak ditengah-tengah ruangan dengan seprei dan selimut berwarna biru muda serta bantal-bantal lembut berwarna biru tua. Ada sebuah sofa besar disudut ruangan dengan sebuah coffee table minimalist. Disudut lain ada juga dua buah kursi lain dan sebuah meja yang diatur untuk sewaktu-waktu dipakai untuk mengerjakan sesuatu disana. "Pasti inilah kamar kami." pikir Calista.

__ADS_1


Kamar itu memiliki sebuah balkon yang mengahadap kearah kolam dan taman belakang. Benar-benar perfect! Pikir Calista.


"Sayang, kapan kita akan pindah kesini?" Tanya Calista memecahkan lamunan suaminya yang sedang duduk di sofa.


"Kamu yang akan pindah kesini, bukan aku." jawab Daniel sambil terus menatap lurus kedepan.


Dahi Calista berkerut mendengar jawaban suaminya. "Apa ....maksudmu sayang?"


Daniel kini menatapnya dengan tatapan tajam. "Inikan yang kamu inginkan? Mendapatkan kekayaan dari suamimu? Rumah ini sudah menjadi milikmu, jadi silahkan kamu tinggal disini dan tolong jangan ganggu aku atau muncul diapartemenku lagi!" suara Daniel terdengar sinis dan keras. "Sejak hari ini aku tak akan lagi mengganggu hidupmu."


Calista benar-benar bingung mendengar perkataan suaminya yang tidak masuk akal.


"Maksudmu, a...aku...menikah denganmu hanya karena uang?"


Daniel berdiri sambil mengambil sebuah amplop besar. Ia berjalan mendekati Calista. Wajahnya memerah dalam kegeraman.


"Dengar Calista Chiu, aku bukanlah makhluk bodoh yang segampang itu kau bodohi dan khianati. Kenapa kau mau menikah denganku? Jawab!!"


Tubuh Calista terhentak mendengar teriakan Daniel di wajahnya. Ia semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.


"Aku menikah denganmu tentunya karena aku mencintaimu! memangnya karena apa lagi?" jawab Calista hampir menangis.


Calista menutup telinganya tapi tetap saja ucapan suaminya terdengar. Sungguh menyakitkan! "Aku masih belum paham dengan semua tuduhanmu padaku, sayang,"


"Stop panggil aku sayang! Kau tak pernah sayang padaku, kau hanya sayang pada uangku! Jadi, kau dan lelaki itu sudah menikmati uang dari penjualan aset-asetku yag sudah terjual kan?" teriak Daniel.


Seketika Calista terhentak lagi. Aset? aset apa yang aku jual? lelaki siapa yang dimaksudnya? semua pertanyaan itu memenuhi kepala Calista.


"Danny...tolonglah, kamu mungkin salah paham dan juga salah menuduh aku." pinta Calista dengan suara memelas.


"Dasar wanita penipu! Aku sangat jijik padamu!" Daniel menarik beberapa foto dari dalam amplop yang dipegangnya dan melemparkannya ke wajah Calista sehingga Calista sedikit terhuyung kebelakang dan foto-foto itu berhamburan diatas lantai.


Calista mulai terisak, Ia benar-benar tidak dapat menerima tuduhan Daniel pada dirinya. Dalam keadaan menangis, Calista memperhatikan foto-foto itu satu persatu. Kenapa foto-foto ini ada pada suaminya? "Astaga....jadi ...jadi... tiga aset yang dimaksud Danny itu adalah miliknya yang ditarik oleh perusahaan Marcel?" gumam Calista dalam hati. "Danny sudah salah paham!"


"Danny, biar aku jelaskan." pinta Calista.


"Tak ada lagi yang patut kau jelaskan, wanita penipu!" Daniel kemudian mengambil hapenya dan memperdengarkan sebuah rekaman pembicaraan antara Calista dan Marcel.


"Apa ini tidak cukup untuk membuktikan wanita macam apa kau ini?"


Air mata Calista semakin deras. "Danny, biarkan aku menjelaskan semuanya."

__ADS_1


"Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan. Semua sudah sangat jelas bagiku. Kau datang ke Indonesia lebih cepat dari jadwal yang kau rencanakan semula hanya untuk berkedok memberiku kejutan? Huh..kau memang wanita yang penuh dengan kejutan!"


"Memberi setengah dari semua kekayaanku padamu aku tidak pernah keberatan. Tapi mengkhianatiku dengan laki-laki lain untuk sejumlah uang? Kau benar-benar *******!! Wanita murahan!" ucap Daniel berteriak didepan wajah Calista yang basah dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Seketika Calista menampar wajah Daniel demi mendengar kata '*******' dan 'wanita murahan' yang ditujukan padanya. Calista tidak tahan lagi dengan tuduhan dan penghinaan Daniel pada dirinya.


Daniel terdiam sesaat dengan nafasnya yang naik turun karena amarah yang semakin membuatnya tidak dapat mengontrol lagi kata-katanya.


Calista menatap Daniel dengan kebencian. Harga dirinya terasa diinjak-injak oleh suaminya sendiri.


"Aku sangat benci padamu, Danny. Apa yang kau lakukan padaku sudah kelewat batas. Kau memang laki-laki kejam!" teriak Calista.


Mendengar teriakan Calista padanya, Daniel langsung mendorong tubuh Calista ke atas ranjang dan menindihnya.


"Kau bilang aku lelaki kejam setelah pengkhianatanmu padaku? Baiklah, akan aku buktikan kalau aku memang kejam!"


Calista meronta, sekuat tenaga Ia berusaha menjauhkan tubuh Daniel yang sudah kesetanan diatasnya. "Lepaskan aku, Danny!" jerit Calista.


Tapi naas karena Daniel semakin mengunci tubuhnya dengan tubuh kekarnya. Calista merasa tenaganya semakin lemah. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Kau memang kejam, Danny. Aku sangat membencimu! Cuiiih! Calista meludahi wajah Daniel. Daniel terdiam sesaat, menyeka wajahnya dengan lengan bajunya kemudian tersenyum menyeringai dengan kemarahan yang tidak lagi terbendung.


Ia langsung ******* bibir Calista dengan kasar. Calista berusaha menjerit tapi bibir Daniel begitu lihai menggigit bibirnya hingga terasa ada yang asin disana. Namun rasa asin darah itu tidak dihiraukan Daniel. Ia terus menciumi Calista dengan buas.


Beberapa saat kemudian Ia sudah menelanjangi Calista dengan paksa, kemudian melepaskan juga pakaiannya.


Calista kembali meronta melihat aksi Daniel yang memperlakukannya dengan tidak sewajarnya seorang suami memperlakukan istrinya.


Ketika Daniel mulai menggigit leher dan ********nya, Calista menjerit kencang. Tak ada lagi kenikmatan yang pernah Ia rasakan sewaktu bersetubuh dulu dengan Daniel. Daniel yang sedang mencumbunya saat ini bukanlah Daniel yang pernah Ia kenal.


"Ku mohon, Danny. Hentikan! Kau menyakitiku." suara Calista terdengar lemah. Tapi bukannya berhenti, Daniel malahan memasuki daerah initimnya dengan hentakan-hentakan kasar yang sangat menyakitkan Calista. Terasa ada yang perih dibagian itu, tidak ada kenikmatan secuilpun yang Ia rasakan. Rasa sakit menjalar disetiap sendi dan saraf-sarafnya. Daniel semakin buas, sesekali terdengar desahannya yang lebih mirip geraman seekor serigala.


Calista semakin tak berdaya. Ia pasrah menikmati rasa sakit dan nyeri yang semakin menyiksanya sampai ketulang-tulangnya.


"Ya, Tuhan beginikah rasanya diperkosa? Mama...tolong anakmu....a...aku diperkosa!"


Jerit Calista dalam hati. Beberapa detik kemudian matanya tertutup. Dia pingsan!


****************************************


Halo readers, gimana novel aku ini? Semoga kalian menyukainya ya. Ini adalah novelku yang pertama. Segala kritikan dan saran pasti saya terima dengan penuh sukacita dan kerendahan hati, karena semua itu sangat membantukku untuk menulis lebih baik lagi. Enjoy it and jangan lupa dikasih jempol ya 🙏🙏😊😊

__ADS_1


__ADS_2