Contradictory Love

Contradictory Love
27 - Aku Rindu


__ADS_3

Beberapa saat setelah tiba di Taiwan, Calista langsung mengambil taxi untuk mengantarkannya ke apartemen sewaannya di pusat kota yang hanya berjarak dua kilo meter dari perusahaan Sanyoin, tempat Ia bekerja.


Ia sangat lelah sampai-sampai Ia belum sempat mengabarkan orang tuanya kalau Ia telah tiba di Taiwan. Calista menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang berukuran sedang miliknya. Ia memejamkan matanya sesaat. Ia merasa malas untuk segera berendam air hangat seperti kebiasaannya setiap pulang kerja atau baru selesai bepergian. Ia pun tertidur pulas disana.


Petang telah tiba, tapi Calista belum juga terbangun. Tiba-tiba Ia terkejut, mengucek matanya karena bunyi hape diatas ranjangnya.


Calista mengambil hape tersebut dan memperhatikan layarnya. "Video call dari Danny." ucapnya bahagia.


Calista menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan suaminya.


Beberapa detik kemudian mereka sudah saling menatap wajah.


"Hai sayang, baru bangun tidur ya..." ucap Daniel sambil tersenyum manis.


Calista membalas seyuman suaminya dengan mata yang masih mengantuk.


"Iya. Aku ketiduran sampai gelap."


"Jadi, kamu belum makan dong..." suara Daniel terdengar khawatir.


"He...he...Iya sayang. Aku gak nafsu makan. Aku pengennya makan bareng kamu." rengek Calista.

__ADS_1


"Wah... mana bisa. Waktu makan kita gak pas karena perbedaan zona waktu."


Calista tersenyum lagi. "Aku mau pesan delivery aja. Diluar udara lumayan dingin, beda dengan di Indonesia."


"Sayang, aku dah kangen banget nih. Sejak kamu pergi aku jadi sulit tidur. Maunya peluk kamu." ujar Daniel manja.


"Aku juga, sayang. Kamu sabar ya... gak bakalan lama kok. Kamu konsentrasi aja dengan pekerjaanmu, perlahan-lahan pasti rindu kamu sama aku bisa teralihkan." hibur Calista.


"Aku ada sedikit masalah disini dan kayaknya aku perlu menyewa seseorang yang sangat profesional untuk mencari akar permasalahannya."


Mendengar itu Calista memasang wajah serius. "Emangnya ada apa Sayang? Jangan buat aku khawatir dong!"


"Kecuali apa, sayang? Jangan simpan masalahmu sendiri dong. Akukan istrimu. Aku ingin mendukungmu disetiap situasi apapun."


Daniel tampak menyapu wajahnya dengan berat...."kecuali kamu meninggalkanku jika suatu waktu aku .... bangkrut."


Mendengar penuturan suaminya Calista menegakkan tubuhnya dengan wajah sedih.


"Kenapa kamu berpikir bahwa aku mencintaimu karena kamu kaya? Sekalipun kita berdua harus memulai dari nol, aku tetaplah istrimu yang akan selalu ada untukmu."


Daniel terlihat lega. Ia kembali tersenyum.

__ADS_1


"Makasih sayang. Aku akan terus berusaha berjuang untuk kita. Aku bisa mengatasi semua ini. Aku gak mau membebanimu disana. Melihat wajahmu saja sudah memberiku kekuatan!"


Calista menatap suaminya dengan senyum penuh kelegaan.


"Aku ingin sesegeranya menyelesaikan semua urusanku disini dan kembali padamu. Doakan aku segera kembali ya sayang."


Daniel mengangguk diseberang.


"Kalau kamu tiba nanti, hal pertama yang ingin kulakukan adalah menghamilimu. Aku harus berhasil dan aku akan menidurimu siang dan malam."


Daniel mengedipkan matanya dengan nakal.


Mendengar itu, Calista tertawa geli.


"Kamu pria paling mesum yang pernah kutemui. Tubuhku bisa-bisa hancur kalau harus digituin terus... he..he..he."


Daniel ikut tertawa diseberang. Ia paling suka menggoda istrinya. Jika saja istrinya ada benar-benar dihadapannya, mungkin mereka sedang bercinta saat itu juga.


Merekapun mengakhiri percakapan panjang itu. Setidaknya mereka telah melepas rindu.


Setiap hari mereka saling video call, entah Daniel yang memulai, atau Calista. Begitulah keseharian mereka setiap hari. Terkadang bukan hanya sekali dua kali, tapi bisa lebih dari itu mereka melakukan video call dalam sehari. Semua itu hanyalah satu-satunya cara mereka untuk tetap menjaga komunikasi selama menjaladi LDR ( Long Distance Relationship).

__ADS_1


__ADS_2