
Calista baru saja menjemput mobil barunya di sebuah dealer. Surat-surat mobil itu sudah lengkap semuanya begitu pula dengan SIM internationalnya. Semua masalah pengurusan apapun tidak pernah memiliki kendala karena Calista memiliki dua kewarganegaraan karena memiliki orang tua yang berbeda negara. Ia merasa sangat beruntung dalam hal ini.
Ketika hari menjelang sore, Calista baru saja selesai menginspeksi restoran yang akan di launching dua minggu lagi. Setelah itu Ia pun berolah raga sebentar disebuah tempat fitness yang baru.
Selesai membersihkan dirinya dikamar mandi tempatnya berolah raga, Calista langsung merapikan dirinya dengan pakaian bersih yang selalu Ia siapkan setiap selesai berolah raga dan mandi. Ini semua karena Ia malas untuk mandi lagi jika sudah sampai di apartemennya. Jika sudah pulang Ia pasti langsung ketiduran karena lelah.
Tidak jauh dari tempatnya berolah raga, ada sebuah cafe yang sangat nyaman dan berkelas. Calista memutuskan untuk makan saja disitu sebelum pulang karena Ia ingin langsung tidur kalau sudah sampai di rumah.
Suasana cafe itu sangat homey. Beberapa pengunjung sedang santai sambil menikmati penganan disela-sela obrolan mereka.
Calista mengambil tempat duduk yang agak private dengan berbagai tanaman hias yang sedikit menutupi dirinya. Terdengar samar samar lagu sendu Sam Smith mengalun. Calista tersenyum pada seorang pelayan yang membawakan pesanannya. Tom Yum Seafood pedas, nasi dan juga segelas jus buah naga plus sirsak yang segar.
Calista sangat kelaparan sore itu sehingga Ia tidak menghabiskan waktu lama menyelesaikan makanannya. Ia mulai menatap layar hapenya untuk sekedar memeriksa kalau-kalau ada pesan atau email dari karyawannya. Setelah membalas beberapa pesan, Calista mengedarkan pandangannya pada setiap sudut cafe itu.
Seketika matanya terbelalak melihat sosok makhluk yang sedang memasuki cafe. Sosok itu adalah pria yang amat Ia benci. Pria yang telah menghancurkan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Daniel. Yang semakin membuat Calista terkejut adalah disamping Daniel ada seorang wanita cantik yang kelihatan seumuran dengan Daniel, sedang bergelayut mesra di lengan Daniel.
"Benar kata Kim, belum saja aku mati Ia sudah secepat itu mendapatkan penggantiku, apalagi kalau aku sudah mati karena depresi!"
gumam Calista dalam hatinya. Ia berusaha menguatkan hatinya. Ada rasa marah menyaksikkan kemesraan dua orang itu.
Apalagi si wanita itu tak pernah melepaskan tangannya dari Daniel.
Calista masih mengawasi keduanya yang duduk tak jauh darinya dan membelakangi Calista. Mereka tampaknya sedang mengobrol serius. Si wanita kelihatannya banyak pertanyaan dan kelihatan Daniel berusaha menjawabnya dengan sabar.
__ADS_1
Sesekali terlihat Daniel seperti ingin melepaskan tangan wanita itu darinya, tapi wanita itu tetap ngotot merapatkan lengannya pada Daniel.
Perasaan Calista seperti sedang diobok-obok. Ingin rasanya Ia menarik rambut wanita itu, tapi....eits tunggu dulu, Ia kemudian menyadari kalau Ia tak punya lagi hak apa-apa terhadap diri Daniel.
"Ya ampun, ingin rasanya aku tampar wanita itu! Tapi.... aku tak punya hak lagi. Danny adalah masa laluku." pikirnya pasrah.
Karena sakit hati melihat kedua orang itu, Calistapun memutuskan untuk membayar makanannya dan segera berlalu dari situ. Ia berjalan menuju pintu lain agar tidak kelihatan oleh Daniel.
Sesampainya diparkiran, Calista berlari kecil menuju mobilnya. Namun karena berjalan sambil menunduk, Ia menabrak seseorang.
"Maaf, Tuan. Aku tak sengaja." seketika Calista terpana sesaat demi melihat sosok yang baru saja ditabraknya.
"Calista, kan?" suara itu bertanya sambil memamerkan senyumnya yang sangat cool.
"Ya ampun, Dave? Oh my god, Dave... aku mohon maaf sudah menabrakmu!" kata Calista dengan mata yang masih terkejut.
"Tapi...." suara Calista ragu... di dalam sana ada mantan suaminya. Ia benar-benar tak ingin melihatnya lagi.
"Tapi kenapa?" Tanya Dave dengan wajah kecewa.
"Tapi aku masih kenyang, baru selesai makan." ucap Calista dengan nada memelas.
"Kalau begitu kamu temani saja aku minum. Segelas wine atau champagne pasti masih muat kok diperutmu." ucap Dave membujuk.
__ADS_1
Calista tersenyum, "Baiklah." pikirnya, apa salahnya, toh Ia seorang wanita bebas sekarang. Kalaupun Danny bisa bersama wanita lain, Ia pun bisa bersama pria lain, selama itu masih wajar-wajar saja.
Mereka berdua memasuki cafe dari pintu utama, Calista berusaha untuk berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Daniel. Ia berusaha untuk tidak melihat kearah Daniel dan wanita itu.
Calista membiarkan Dave memilih tempat duduk mereka. Naas bagi Calista, karena Dave memilih tempat duduk yang hampir bersebelahan dengan Daniel.
Calista langsung menarik kursi yang membelakangi Daniel, sehingga kalaupun Daniel melihatnya, Ia hanya akan melihat punggungnya. Calista dan Dave duduk berhadapan. Kalaupun Daniel melihat kearah mereka, pasti wajah Dave akan sangat jelas terlihat oleh Daniel.
Sewaktu Calista dan Dave masuk ke dalam Cafe, Daniel ternyata sudah memperhatikan mereka sehingga Ia kurang fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Laras.
Ada rasa panas aneh yang menjalar dalam dada Daniel. Apalagi sewaktu melihat Calista yang selalu dibuat tertawa oleh pria itu. Hatinya terasa sakit!
Seandainya Calista masih miliknya, tentulah Ia sudah meninju pria setengah gondrong itu agar menjauh dari Calista.
Daniel merasa semakin tidak nyaman berada di Cafe itu. Ia kemudian melonggarkan dasinya dan lantas melepaskan jasnya. Cafe yang sangat adem itu terasa bagai di dalam oven bagi Daniel.
Laras yang mulai merasakan ketidaknyamanan Daniel berusaha untuk bertanya.
"Danny, kamu gak enak badan ya?"
Daniel kemudian mengangguk singkat. "Mungkin aku kelelahan karena kurang tidur. Aku antar kamu pulang sekarang ya. Maaf sudah merusak diskusi kita."
Laras tersenyum tanda mengerti. "Jangan dipikirkan. Kamu butuh istirahat. Ayo kita pergi." ajak Laras.
__ADS_1
Merekapun membayar makanan pesanan mereka yang tidak habis dimakan dan kemudian berlalu dari tempat itu.
Daniel masih sempat melirik kearah Calista dan pria gondrong itu. Hatinya bagaikan diiris-iris!