Contradictory Love

Contradictory Love
09 - Belum Sepaham


__ADS_3

Rapat sudah berlangsung selama hampir satu jam setengah, tapi satu keputusanpun belum dihasilkan.


Daniel benar-benar gemas dengan gadis Taiwan itu. Ia mempertahankan bahwa profit harus 60-40, dimana perusahaannya yang mendapat bagian 60. Alasan dan data-data yang dia sajikan memang sangat masuk akal dan berdasarkan fakta dilapangan.


Daniel benar-benar resah dibuatnya. Kalau bukan menyangkut harga diri perusahaannya, Ia pasti sudah menyerah. Tapi itu bukanlah sifatnya. Ia terkenal sebagai pihak yang selalu menang dalam hal negosiasi bisnis. Tapi gadis didepannya ini benar-benar lawan yang tangguh. Daniel harus berusaha lebih keras lagi mencari strategi yang bisa lebih menguntungkan perusahaannya.


Calista berdiri. "Mohon maaf, saudara-saudara boleh kita tunda lagi rapat ini sampai minggu depan? Waktu Kita hampir habis tanpa kesepakatan. Kita belum sepaham dalam hal profit masing-masing. Bagaimana?" usul Calista langsung disetujui oleh semua menejer Daniel. Danielpun akhirnya mengangguk tanda setuju.


Diruangan itu hanya tinggal Daniel dan Calista.


"Tuan Daniel, dengan tidak mengurangi rasa hormat, sebaiknya para menejer anda bisa menyajikan prediksi kondisi pasar yang lebih real sampai 5 tahun kedepan beserta resikonya. Bagaimana anda bisa meyakinkan perusahaan saya jika yang dipresentasikan bukanlah hasil terjun langsung secara bertahap dilapangan?" ucap Calista dengan nada bicaranya yang tegas.

__ADS_1


"Saya ingin hasil kerja yang sistematis Dan bukannya random." tegas Calista.


"Jadi maksud Nona, para menejer saya belum benar-benar paham dengan masalah dilapangan?" nada ucapan Daniel meninggi.


"Ingat Nona, kapasitas anda bukan untuk menilai kinerja karyawan saya. sayalah yang berhak berkata demikian!" Daniel menatap lurus kedepan saat mengucapkan kata-kata tersebut.


"Tolong hormati lawan bicara anda jika sedang bicara, Tuan Daniel. Sedari tadi saya perhatikan anda berbicara dengan tembok tanpa menatap saya pada saat bicara." gerutu Calista dengan sedikit emosi.


"Gaya bicara saya memang begitu Nona, kalau kamu keberatan tidak perlu melihat wajah saya pada saat berbicara." Daniel melihat jam dipergelangan tangannya. waktu sudah menunjukkan jam 11.59.


"Maaf saya ada janjian. Jika sudah selesai anda boleh pulang." Daniel berkata dengan dingin. Gadis ini benar-benar menguras energi dan emosinya!

__ADS_1


Calista melangkah kearah pintu dan kemudian berbalik lagi menatap Daniel.


"Ingat, aku tidak pernah menghakimi kinerja karyawan Tuan. Kalaupun ada orang yang menganggap sebaliknya, berarti orang itu bukanlah sosok yang mau dikritik dan selalu merasa paling benar. Saya hanya memberi masukan demi kebaikan perusahaan anda, Tuan Daniel. Tapi kalaupun anda merasa itu sebuah ancaman atau olok-olokan, itu bukan urusan saya lagi. Selamat siang."


Calista mendorong pintu kaca didepannya dan berlalu meninggalkan Daniel yang masih mematung ditempatnya.


"Sial! Dasar singa betina. Dia pikir dia sudah sehebat apa mengkritik kinerja karyawanku?" Daniel melemparkan pena yang sedang dipegangnya dengan sekuat tenaga kearah pintu dimana Calista keluar tadi. Ia mengakui kalau apa yang dikatakan Calista tadi Ada benarnya juga, tapi hal itu benar-benar menyinggungnya.


Daniel meremas kepalanya yang sedikit berdenyut Karena menahan amarahnya. "Tunggu saja kau Calista. lambat laut aku akan tahu kelemahanmu. Lihat saja nanti!"


Tut...tut...

__ADS_1


hape Daniel bergetar, tertulis nama Lizbeth dilayar. "Ya, Liz. Lima menit lagi." Daniel langsung memutuskan pembicaraan dan berlalu dari ruangan itu untuk memenuhi janjinya makan siang bersama Lizbeth, tunangannya.


__ADS_2