Contradictory Love

Contradictory Love
34 - Hati Yang Hancur


__ADS_3

Pesawat yang membawa Calista telah mendarat dengan mulus di terminal tiga Bandara International Soekarno Hatta.


Perasaan bahagia Calista tak dapat digambarkan. Ia tak tahan lagi ingin menyaksikan kebahagiaan suaminya jika Ia muncul tiba-tiba memberikan kejutan manis padanya. Apakah Daniel akan langsung memintanya bercumbu dikantor seperti waktu itu? Calista tersenyum sendiri sambil melihat-lihat apakah ada yang memperhatikannya yang sedang senyum-senyum itu.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit mengambil bagasi, akhirnya Calista dapat meninggalkan bandara tersebut dengan sebuah taxi.


"Pak, antarkan ke Wikatama International Group." ucap Calista pada sopir taxi yang dijawab anggukan dan senyum ramah sopir tersebut.


Sejam kemudian taxi yang membawa Calista tiba di Kantor Wikatama dimana suaminya bekerja. "Semoga Ia tidak sedang keluar atau rapat." kata Calista dalam hati. Ia merasa sedikit gugup atau tepatnya excited. Ingin cepat-capat memeluk si ganteng macho itu.


Calista merapikan penampilannya, menambah sedikit bedak dan lipsticknya agar kelihatan lebih baik. Setelah itu, Ia menekan tombol lift ke ruangan suaminya.


Pintu lift terbuka dan Calista masuk diiringi pandangan beberapa pasang mata yang sedikit terkejut melihat istri boss mereka yang sudah lama tidak kelihatan, tiba-tiba muncul di depan mata.


Albert terlonjak dari duduknya demi melihat sosok wanita cantik yang sudah berdiri didepannya. "Bu Calista?" ucapnya dan langsung menutup mulutnya ketika melihat Calista meletakan jari telunjuknya dibibir untuk mengisyaratkan agar Albert tidak berkata-kata lagi agar tidak terdengar orang lain terutama suaminya.


Albert kemudian mengangguk tanda mengerti. Calista tersenyum manis demi melihat Albert yang mau diajak kerja sama.


"Apakah suamiku ada? Tanya Calista berbisik.


Albert mengangguk. "Silahkan Bu. Kebetulan sekali sekarang hampir jam istirahat makan siang."


Calista menitipkan koper dan sebuah tas berukuran sedang di ruangan Albert dan melangkah keruangan suaminya.


Calista mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Ia mengetuk. Samar-samar Ia mendengar jawaban dari dalam.


"Masuk." kata Daniel singkat. Calista membuka pintu itu perlahan dan mendapati suaminya yang sedang sibuk didepan monitor komputernya tanpa melihat kearahnya.


Semerbak bau parfum yang sangat dikenalinya seperti menampar kesadaran Daniel. Hanya ada satu orang yang Ia kenal memiliki keharuman yang sangat menggoda seperti ini, yaitu istrinya.


Daniel sontak terkejut dan langsung menatap wajah cantik yang sedang berdiri didepan pintu dengan senyum manis yang sangat menggoda.

__ADS_1


"Surprise, sayang." ucap Calista sambil mendekati suaminya.


Daniel masih terpana dengan expresi antara senang atau marah. Ia hanya memandang istrinya, tersenyum singkat tanpa berkata apa-apa.


Calista memandang suaminya dengan perasaan aneh. "Astaga suamiku, apakah kamu tidak suka kejutan ini?" Tanya Calista sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.


Daniel masih diam. Ia berusaha menahan perasaan yang bergejolak dihatinya. Disatu sisi Ia ingin sekali mencumbu si tubuh sexy itu yang sedang bergelayut manja didadanya. Namun disatu sisi, Ia ingin sekali menamparnya!


"Sayang, apakah kamu marah padaku karena tidak memberitahukanmu tentang kedatanganku ini? Atau....apakah kamu sedang sakit?" Calista meraba dahi suaminya. terasa biasa saja. Ia kemudian tersenyum dan berjinjit untuk mencium bibir suaminya yang sedari tadi kelu dihadapannya.


Calista mengecup bibir itu dengan penuh kelembutan. Daniel merasa sungguh tersiksa. Hasratnya yang sudah lama ingin dilepaskannya harus Ia tahan sedemikian rupa karena kekecewaan yang besar atas sebuah penghianatan.


Ciuman Calista semakin bergairah namun beberapa detik kemudian Ia berhenti karena merasa tidak mendapatkan balasan yang Ia harapkan. Daniel menarik wajahnya dan duduk kembali dikursinya. Ia tak bisa berpura-pura bersikap manis seperti dahulu.


"Pulanglah. Hari ini sangat berat bagiku. Kita bertemu nanti malam diapartemenku." kata Daniel tanpa menoleh.


Ada kekecewaan yang mengalir ditubuh Calista. Ia tak tak tahu harus bersikap bagaimana. Seumur-umur mengenal suaminya, Daniel belum pernah bersikap dingin seperti itu sesibuk apapun dia. Calista mendekati suaminya untuk pamit.


"Baiklah, aku tunggu kamu malam ini yah. Aku akan memasak untukmu." kata Calista lembut kemudian berusaha mengecup lagi bibir suaminya tapi Daniel langsung memalingkan wajahnya kearah berlawanan sehingga bibir istrinya hanya menyentuh pipinya.


Calista keluar dari ruangan suaminya dengan wajah penuh kekecewaan. Albert yang memperhatikannya sedari tadi hanya bisa diam sewaktu istri bossnya mengambil barang-barangnya dan berlalu dari situ. Pikir Albert, ada yang tidak beres dengan keduanya. Padahal Ia sudah membayangkan kalau bossnya bakalan menyuruhnya untuk tidak mengganggu mereka selama kurang lebih satu atau dua jam untuk melepas rindu.


Tapi kali ini prediksinya benar-benar meleset!


.


.


.


.

__ADS_1


.


#Di apartemen Daniel


Calista sudah selesai menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya. Ia memasak ayam bumbu Bali yang diajarkan sahabatnya Kimberly sewaktu Ia berkunjung lalu.


Kini semua sudah rapi. Calista sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Rambutnya yang masih setengah basah dibiarkan saja tergerai. Ia mengenakan daster selutut tanpa lengan berbahan satin yang warnanya sangat menonjolkan warna kulitnya yang putih mulus dan glowing. Ia juga tak lupa menyemprotkan parfum favoritnya yang sangat disukai suaminya.


Beberapa saat kemudian Daniel telah tiba. Calista menyambutnya dengan senyum hangat. Daniel terpana sesaat melihat sosok yang mampu menggetarkan sisi kelaki-lakiannya. "Sial... kenapa makhluk cantik ini berpakaian seperti itu?" bisik Daniel dalam pikirannya. Namun Daniel langsung menepiskan rasa itu dan langsung masuk ke kamar untuk mandi.


Melihat tingkah Daniel yang hanya menatapnya sekilas, membuat Calista terduduk lunglai diatas sofa. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada suaminya dan mengapa dirinya diabaikan sedemikian rupa.


Selesai mandi dan berpakaian, Daniel menuju meja makan. Ia tak dapat menolak yang satu ini karena selain istrinya yang memasak, Ia juga merasa sangat lapar karena sudah beberapa hari ini nafsu makannya hilang.


Calista membantu suaminya mengambil makanan. Walaupun Ia sangat kecewa karena mereka berdua harus makan dalam keheningan, tapi setidaknya suaminya menikmati masakannya dengan nikmat sampai tiga kali tambah.


Selesai berbenah dan membersihkan meja makan dan peralatan dapur, Calista menawarkan suaminya untuk dibuatkan secangkir kopi. Namun niat baiknya itu disambut suaminya dengan gelengan kepala.


"Aku lelah dan ingin tidur. Besok weekend, jadi kamu bersiap-siaplah besok karena kita akan melihat rumah baru kita yang sudah siap ditinggali." Daniel langsung beranjak ke kamar setelah mengucapkan kata-kata tersebut, meninggalkan Calista yang masih terdiam dalam kebingungan.


Calista menarik nafasnya dalam-dalam. Keinginannya untuk melihat rumah baru mereka tidak lagi sebesar sebelumnya. Adakah kesalahan yang telah Ia perbuat? Atau sebesar apakah masalah perusahaan yang sedang suaminya hadapai sehingga suaminya mengabaikan dirinya? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Calista. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Daniel untuk tidur.


Daniel langsung menghadapkan badannya membelakangi istrinya ketika Calista berbaring disampingnya.


Daniel terkejut ketika sebuah tangan memeluknya dari belakang dan mulai membelai dada bidangnya. Sekuat tenaga Daniel menahan gairah yang meronta meminta untuk dipuaskan. Bagian intimnya telah menegang dan terasa agak sakit karena diabaikan dirinya.


"Ya ampun...apa yang dia lakukan? Dia mulai mencium wajahku?"


Calista terus menciumi pipi suaminya kemudian turun ke bagian leher. Calista ingin ******* bibir suaminya tapi posisi mereka tak memungkinkannya melakukan itu.


Daniel meremas pinggiran tempat tidurnya menahan gairah yang semakin hebat. Seketika bayangan foto istrinya dengan seorang lelaki yang telah membuatnya hancur berkelebat dipikirannya. Secara refleks Daniel mendorong tubuh istrinya.

__ADS_1


"Hentikan!!" teriak Daniel yang langsung membuat Calista terkejut.


Calista yang hancur hatinya langsung menghentikan aksinya, kembali berbaring dan membelakangi suaminya. Ia menangis pelan. Hatinya sungguh hancur dengan penolakan suaminya!


__ADS_2