Contradictory Love

Contradictory Love
36 - Perceraian


__ADS_3

Daniel menatap tubuh istrinya yang masih diam. Wajah cantik itu terlihat pucat. Daniel mencoba mengguncang bahu istrinya berkali-kali tapi Calista tidak membuka matanya. Daniel mencoba lagi menepuk-nepuk pipi halus itu tapi hasilnya tetap sama. "Dia pingsan." gumam Daniel.


Ada rasa iba yang menyusup dalam hatinya manakala mengingat kembali bagaimana Ia memaksa istrinya untuk bersetubuh. Entah berapa kali Ia melampiaskan nafsu bejatnya pada tubuh itu. Daniel tidak ingat lagi. Yang jelas berkali-kali!


Daniel bangkit dari ranjang, menyeka semua keringat yang ditimbulkan dari pertempuran sepihak terhadap istrinya. Ia kembali memakai pakaiannya.


Ia menatap lagi tubuh polos tanpa pakaian apapun didepannya, menarik selimut dan menutupinya hingga ke leher.


Daniel membuka tasnya dan mengambil dua buah map yang sudah Ia siapkan. Ia menaruh map itu diatas meja dekat ranjang agar gampang terlihat oleh istrinya jika dia telah sadar.


Daniel mengambil sebuah kertas dan pena kemudian mulai menulis. Selesai itu, Ia meletakan catatan kecil yang baru ditulisnya itu diatas dua map yang disusunnya kemudian menindih kertas itu dengan hape Calista yang diambilnya dari dalam tas milik Calista. Ia juga meletakan semua kunci-kunci yang berhubungan dengan rumah itu di dekat dokumen yang Ia letakan tadi.


Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia mencium dahinya pelan.


"Selamat tinggal." ucapnya pelan lalu berdiri dan keluar dari kamar itu.


.


.

__ADS_1


.


.


Hari telah menjelang sore ketika Calista perlahan membuka matanya. Ia masih merasa sedikit lemas. Ia berusaha duduk dengan susah payah karena ada yang sakit dibagian tubuhnya. Bagian femininnya terasa perih dan bengkak sehingga untuk berdiri saja Ia harus pelan-pelan. Tubuhnya terasa remuk dan pegal disana sini.


Ia baru menyadari ternyata Ia hanya seorang diri di rumah baru itu. Daniel tidak terlihat lagi. Ia berusaha mengingat lagi apa yang telah Daniel perbuat padanya. Air mata tak terbendung. Calista terisak-isak. Ia telah kehilangan suaminya dan juga cintanya. Calista meremas rambutnya kuat-kuat dan tanpa sengaja melihat sebuah catatan diatas dua buah map yang ditindih dengan hapenya.


Calista membaca catatan itu:


*Sejak saat ini, kita bukan lagi siapa-siapa. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Aku tak lagi menginginkan ikatan diantara kita. Silahkan tanda tangani berkas perceraian ini dan kirimkan kembali kepadaku untuk aku tanda tangani dan kemudian memprosesnya di pengadilan.


Ingat, kita tidak lagi punya ikatan apa-apa. Baik aku maupun kamu telah bebas sejak hari ini.


Terima kasih pernah menjadi bagian hidupku dalam waktu yang sangat singkat. Aku akan berusaha melupakannya.


Danny*


Calista berusaha menahan gejolak dalam hatinya. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Tangannya bergetar memegang catatan yang masih ditangannya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Kembali ke negaraku? Tidak....tidak..." Calista menggeleng-gelengkan kepalanya karena kalut dan tertekan.


"Aku tak mungkin kembali ke Taiwan. Apa kata orang tuaku nanti? Tidak! mereka tidak boleh tahu kalau aku sudah menjadi seorang janda."


Calista beranjak ke kamar mandi yang mewah itu. Ia menyalakan air hangat dan berusaha merilekskan pikiran dan perasaannya sambil berendam. Ia masih saja terus menangis karena belum dapat mempercayai kenyataan pahit yang baru saja Ia jalani.


Sejam kemudian, Calista memakai pakaiannya yang tadi kemudian mengambil hapenya dan menelpon seseorang.


"Kim. Ini aku." ucap Calista dengan suara yang lemah.


"Cal? Ini kamu? Serius?" Tanya suara diseberang dengan nada gembira.


"Tolong jemput aku sekarang juga di alamat yang akan aku share di Google map. Tolong jangan dulu bertanya. Aku tunggu kamu sekarang." Calsita menutup telponnya, mengambil berkas-berkas, kunci rumah dan tasnya kemudian keluar menuju lantai satu.


Ia mengunci rumah itu beserta pagar tingginya. Sesaat Ia berdiri di depan pagar tinggi itu menunggu kedatangan sahabatnya.


Beberapa menit kemudian Ia telah berada didalam mobil sahabatnya. Kimberly hanya diam melihat wajah sahabatnya yang agak berantakan. Dari gelagatnya Kimberly bisa menebak kalau ada sesuatu yang hebat baru saja terjadi pada sahabatnya itu.


Mobil Kimberly melaju kearah apartemennya. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan sehingga kota besar itu terlihat semarak dalam cahaya warna warni.

__ADS_1


__ADS_2