Contradictory Love

Contradictory Love
37 - Depresi


__ADS_3

Sudah seminggu lewat sejak peristiwa itu, tapi Kimberly belum melihat tanda-tanda perkembangan baik dalam diri sahabatnya. Calista belum banyak bicara apalagi membicarakan masalah yang sedang menimpanya serta membuatnya terlihat seperti mayat hidup.


Sejak saat itu, Calista tinggal di apartemen Kimberly. Ia hanya makan sangat sedikit dan selalu melamun dengan tatapan kosong.


Hal ini semakin mengkhawatirkan Kimberly. Ia benar-benar tak tahan lagi melihat penderitaan sahabatnya.


"Calista....Calista! Dengar aku, Cal!" kata Kimberly sambil menangkupkan kedua tangannya pada wajah sahabatnya.


Calista menatapnya sesaat kemudian diam lagi.


"Cal, sampai kapan kamu akan begini. Tolong, jangan buat aku tersiksa karena mengkhawatirkanmu."


Calista masih diam. Kimberly semakin gemas dibuatnya.


"Cal, aku gak mau kamu datang ke Indonesia hanya untuk mati berdiri disini. Orang tuamu pasti akan menuntutku!"


Mendengar kata 'orang tua' Calista menatap Kimberly. "Kim benar, orang tuaku bisa mati jantungan jika tahu keadaannya yang benar-benar depresi. Tidak... itu tak boleh terjadi!"


Calista menunduk, "Kim... maafkan aku sudah merepotkanmu. A...ak...aku...."

__ADS_1


Kimberly memeluk temannya. "Mulailah bercerita padaku, Cal. Jangan kau pendam sendiri. Aku sangat menyayangimu."


Bahu Calista mulai terguncang. Ia terisak-isak dengan perasaan hancur.


"Kim. Danny telah menceraikanku."


Kimberly sedikit tersentak, melepaskan pelukannya dan membelai kepala sahabatnya. "Cal, boleh aku tahu detilnya mengapa hal itu bisa terjadi? Yang aku tahu Tuan Daniel sangat tergila-gila padamu. Sewaktu kamu pergi, Ia jarang keluar dari kantornya. Ia lebih banyak mengurung diri dan tenggelam dalam pekerjaannya. Setidaknya itu yang aku dengar dari Albert jika aku ada keperluan padanya menyangkut pekerjaan." ujar Kimberly dengan suara yang lembut.


"Ini semua salah paham. Danny menuduhkan padaku sesuatu yang tidak aku lakukan. Kelihatannya memang seperti itu, tapi...kenyataannya bukan seperti itu." ucap Calista sambil menghapus air matanya.


Calista kemudian mulai menceritakan dari awal duduk permasalahan. Ia juga terpaksa menceritakan tentang adik kembarnya Marcel yang seharusnya tidak Ia ceritakan keberadaannya pada siapapun. Tapi keadaan sudah memaksa dan menuntut klarifikasi.


Kimberly mendengar penuturan Calista dengan saksama sambil sesekali menepuk punggung sahabatnya seraya memberikan kekuatan padanya.


Kimberly berpikir sejenak. "Hmm...dari ceritamu itu menyangkut bukti-bukti, aku rasa Tuan Daniel menyewa seseorang untuk melakukannya. Dan pastinya orang itu sangat profesional dalam pekerjaannya."


Calista mengangguk tanda setuju. Ia baru menyadari kalau Daniel bukanlah tipe orang yang pantang menyerah apalagi jika harus kalah dalam masalah bisnis yang menurutnya patut diselidiki. Calista tak pernah menyangka jika dirinya ikut terseret dalam hal ini.


"Cal, terlepas dari perpisahanmu dengan Tuan Daniel, cobalah berpikir jernih untuk bangkit kembali. Kamu orang yang sangat kuat dan tegas menjalani prinsip hidupmu. Masakan kamu kalah dengan mantan suamimu? Ayo...kembali ke impianmu. Kamu bilang padaku kalau kamu ingin memulai bisnis impianmu sekembalinya kamu disini. Aku siap membantumu." Kimberly berucap sambil memperlihatkan otot-ototnya.

__ADS_1


Melihat ulah temannya, Calista tersenyum singkat.


"Nah...gitu dong. Senyum akan menguatkanmu! Ingat, kehilangan cinta bukanlah akhir segalanya. Jika kamu mati hanya karena si Tuan ganteng yang telah mencampakkanmu itu, kamu yang rugi karena belum lagi kuburmu kering, dia pasti sudah nikah lagi dengan wanita yang jauh lebih cantik dari padamu.


Ingat, Cal kamu masih punya impian besar. Buktikan padanya kalau kamu bukan wanita pada umumnya yang semudah itu hancur berkeping-keping. Janda sexy sepertimu pasti masih memiliki antrian panjang jika suatu saat kamu mulai membuka hatimu kembali. Jangan mau kalah dengan mantanmu. Kalau perlu......hmmm..." Kimberly berhenti sesaat.


"Apa Kim?" Tanya Calista yang penasaran.


"Hmm...kalau perlu...rebut kembali perhatiannya hanya untuk membuktikan apakah dia masih peduli atau tidak. Buat dia tergila-gila kembali padamu. Buat dia penasaran padamu..."


Calista berpikir akan perkataan Kimberly. Walaupun Ia agak geli juga dengan usul itu tapi...apa salahnya di coba?


Calista mulai tertawa dan Kimberly senang melihat itu. Memang itulah yang Ia harapkan. Membuat sahabatnya kembali tersenyum.


"Kamu yakin Danny masih tertarik padaku setelah apa yang Ia katakan padaku ....*******...wanita ******....dan..."


Kimberly tersenyum nakal. Jika Ia sudah tersenyum seperti itu, pasti ada saja yang Ia rencanakan. "Kita lihat saja nanti! Jangan panggil aku Kimberly jika aku tak tahu caranya membuat lelaki bertekuk lutut!"


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai air matapun keluar.

__ADS_1


"Kim..hentikan ocehanmu...aku lapar banget nih!" ucap Calista sambil merengek.


Kimberly berdiri. "Ayo Kita makan banyak-banyak hari ini. Aku sudah memasak buatmu!"


__ADS_2