
Calista sudah bersiap di depan cermin. Ia menatap lagi dandanannya. Hari ini memang hari yang spesial sekaligus mendebarkan Karena ini adalah misi terakhirnya sebelum berhenti total dari pekerjaannnya.
Adapun yang sedikit membuat Calista gugup adalah bagaimana nanti dia didepan Tuan Daniel Nielson, pengusaha top yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan dikalangan pebisnis karena sepak terjangnya yang mampu melumpuhkan lawan-lawan bisnisnya. Calista sedikit bergidik. Dia khawatir jika salah mengambil keputusan. Dia harus 100x lebih teliti dan jeli dalam menentukan Masa depan perusahaannya.
"Tenanglah Calista. kamukan sudah cukup berpengalaman. Kamu dipercayakan Karena kemampuan dan ketelitianmu apalagi ketegasan dan kharismamu. Kamu pasti bisa menghadapi CEO itu." hibur Calista pada dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam.
Calista memutuskan memakai dress formal merah menyala. Baginya first impression matters most!
Ting...tong..
Bell apartemennya berbunyi. " Itu pasti Kimberly." Mereka janjian untuk berangkat sama-sama Karena tujuan mereka sama. Selama berada di Indonesia, Calista selalu menumpang atau meminjam mobil sahabatnya itu. Iya tidak mau repot-repot membeli atau menyewa mobil karena ia tidak pernah lama berada di Indonesia. Lagian sahabatnya tidak mengijinkannya melakukan Hal itu Karena Kimberly sangat ikhlas meminjamkan barang-barang yang Calista perlukan selama berada di Indonesia.
"Wah.... kamu benar-benar cuantiiiik, Cal." tatap Kimberly dengan mata terkagum-kagum pada sahabatnya. Beda banget dengan dua Hari lalu waktu dijemput di Bandara. sahabatnya itu cuman pakai kaos tanpa lengan, jeans robek dibagian lutut, ransel kecil, sepatu kets, sunglasses, dengan rambut panjangnya yg kucir kuda. Kayak mahasiswa! Tapi pagi ini, Calista tampak elegan, make up minimalis, rambut yang dibuat sedikit bergelombang dibiarkan terurai Serta dress Dan high heels yang sungguh membuat orang terpesona. sungguh berkelas!
"Woi...tutup mulutmu...ntar lalat masuk tau."
ucapan Calista menyadarkan Kim dari kekagumannya.
"First impression is very important, girl. masakan aku ketemu big boss kamu berpenampilan kayak gembel seperti dua hari lalu??" ucap Calista yang membuat Kimberly mengangguk-angguk Tanda setuju.
"Duh....kamu yang mau ketemu big bossku, kok akunya yang berdebar-debar?" ucap Kimberly dengan nada gugup.
"Ah...sudahlah. Ayo berangkat. aku paling benci terlambat!"
.
.
__ADS_1
.
.
.
Suasana lantai 20 perusahaan Wikatama Group sudah selesai dipersiapkan untuk meeting penting dengan klient dari Taiwan.
"Albert, semua sudah siap?" tanya Daniel Nielson pada asistennya.
"Sudah Pak. Semua berkas-berkas yang sudah Bapak pelajari Semalam sudah saya letakan di atas meja rapat. Oh, iya Pak. Ternyata representatif perusahaan Sanyoin Group bukan seorang pria. Dia seorang wanita yang terkenal dengan ketelitian dan performance yang super! Perusahaan Sanyoin tidak main-main mengirimkan perwakilannya kali ini. Kayaknya Bapak harus harus benar-benar kerja keras untuk meyakinkan dia bahwa perusahaan Kita layak untuk bekerja sama dengan mereka."
Mendengar penjelasan asistennya, Daniel hanya mengernyitkan dahinya dan menatap lurus kedepan.
"Profilnya?" Tanya Daniel sambil menengadahkan tangannya pada Albert.
"Hmm.... Calista Chiu, 23 tahun." tersenyum sinis. "Dia masih sangat muda. Jangan khawatir." ucap Daniel dengan wajah dingin.
"Segera bersiap, aku mau jadi tuan rumah yang baik menyambut tamu spesial Kita."
.
.
.
Ruang rapat sudah siap. semua manajer sudah berkumpul, duduk rapi sambil mengobrol pelan. Daniel juga sudah duduk di kursinya.
__ADS_1
Pintu di ketuk, asisten Albert membuka pintu dan mempersilahkan tamu spesial itu masuk sambil mengucapkan selamat pagi dan membungkukkan badannya.
"Selamat pagi dan selamat datang Miss. Calista Chiu". serentak semua peserta rapat ikut berdiri dan mengucapkan Salam pada Calista. Daniel berjalan kedepan menyambut Calista sambil memberikan tangannya untuk bersalaman. Kedua mata mereka bertautan, seiring tangan mereka saling menjabat. Ada rasa terkejut yang bagaikan bogem menabrak wajah keduanya. "Kau..." sama-sama mereka berucap dalam hati. Namun keduanya sadar bahwa mereka dalam suasana formal.
Merekapun sama-sama tersenyum tipis Dan berpura-pura belum pernah ketemu.
Daniel kembali ke tempat duduknya. "Jadi, Calista Chiu adalah si anak ingusan di pesawat itu?" ucap Daniel dalam hati sambil terus berpura-pura biasa saja dengan tampang serius dan tatapan lurus.
Calista juga berusaha menenangkan hatinya. sungguh, dia hampir saja kehabisan napas karena kaget luar biasa. "Ternyata CEO itu si banci kurang sopan di pesawat itu?? tenang Calista.....tenang.....semuanya baru dimulai.
Meeting tersebut berlangsung alod. Pertanyaan Calista tentang data-data yang di sodorkan Daniel Dan para manajernya sedikit membuat mereka kewalahan walaupun bisa diatasi pada akhir meeting. Tapi Calista tidak puas. Bukan Calista namanya jika tidak mengejar hal-hal yang baginya masih belum jelas. rapatpun akan digelar lagi pada lusa.
"Dia benar-benar lawan yang tangguh! Pantas saja perusahaan Sanyoin yang baru 3 tahun berdiri sudah memperoleh nama di Asia." gumam Daniel sewaktu rapat hendak ditutup.
"Miss Calista, boleh bicara sebentar diruangan saya?" ucap Daniel dengan mantap.
"Maaf Tuan Daniel, waktu saya tidak banyak. Kalau anda mau bicara disini saja!"
Mendengar jawaban itu Daniel menelan ludahnya Karena tenggorokannya tiba-tiba menjadi kering.
"Sombong benar wanita ini!"bisik Daniel dalam hati.
**CALISTA CHIU**
__ADS_1