
Calista dan Daniel saling berhadapan dengan kedua tangan Daniel melingkar dipinggang istrinya.
Calista mengenakan sunglassesnya karena matanya masih agak sembab akibat menangis sejak semalam. Ia mengenakan blus kuning tua yang agak longgar dengan leher rendah berbentuk huruf 'V' dipadukan dengan jeans ketat berwarna hitam plus sepatu kets berwarna senada dengan blusnya.
Dengan sunglasses agak besar yang menutupi hampir separuh wajahnya, Calista kelihatan memukau dimata Daniel. Istrinya terlihat sangat cute siang itu dengan rambut panjangnya yang dikucir dibelakang.
"Aku akan sangat merindukkanmu, Sayang." ucap Calista pelan.
Daniel tersenyum paksa lalu menelan ludahnya. Ia berusaha tegar agar Calista juga bisa lega untuk pergi. Bagaimanapun istrinya sudah melewatkan malam dengan banyak tangisan. Walaupun Daniel telah mencumbunya dan menyetubuhinya berkali-kali semalam, istrinya itu tetap saja masih menangis.
"Kamu jaga kesehatan disana ya. Dan ingat, jangan pernah mengabaikan video call dariku." ucap Daniel sambil mencium lembut bibir istrinya.
"Kamu juga ya sayang, jaga kesehatan dan jangan kerja sampai larut sementara aku pergi. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu." jawab Daniel sambil melepaskan pelukannya.
"Masuklah...sebentar lagi pesawatmu take off."
Calista mencium kedua pipi suaminya, lalu menarik koper kecilnya, malambaikan tangan dan kemudian berjalan diantara penumpang yang lalu lalang.
Daniel menyaksikkan tubuh istrinya yang sudah menghilang. Separuh hatinya terasa ikut terbawa pergi. Ia menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan berat, lalu memakai sunglassesnya, berjalan ketempat parkir dan kembali kekantornya.
.
.
__ADS_1
.
Pesawat telah mengudara selama beberapa menit. Kali ini Calista tidak lupa meminta nomor kursi dekat jendela.
Sambil memandang awan diluar, Ia tersenyum mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan suaminya. Ada rasa rindu yang menyusup didalam hatinya.
Hari-hari singkat nan manis yang telah Ia nikmati bersama suaminya, memenuhi lamunannya. Calista mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Maklumlah, suaminya tak henti-hentinya membuatnya begadang setiap malam.
Walaupun berusaha keras untuk tidur, Calista tetap saja tidak berhasil. Pikirannya mengembara kemana-mana. Akhirnya Ia memutuskan mengambil buku catatan kecilnya dari dalam tas, membukanya dan mulai membaca beberapa catatan yang berkaitan dengan kegiatannya di Singapura.
"Jam 4 sore janjian dengan Marcel di Brilliant Cafe yang berlokasi diseputaran Marina Bay." Gumam Calista sambil terus membaca.
Calista membaca nama hotel yang sudah diatur oleh saudaranya itu. Walaupun Marcel punya apartemen sendiri dan bersedia menampungnya jika hendak bermalam di Singapura, tapi Calista selalu menolak. Kenapa? Karena apartemen Marcel itu bau asap rokok. Saudaranya itu memang perokok tapi kalau soal minum alkohol, Ia sangat payah. Perutnya gak tahan minuman beralkohol. Sedikit saja, perutnya akan langsung melilit. Jadi kalau lagi ke bar atau cafe, Ia hanya akan memesan soda biasa. Lucu memang, tapi itulah Marcel.
Calista mencoba menambahkan catatan pada bukunya ketika pria disamping bertanya padanya.
Mendengar pertanyaan pria itu, Calista tersenyum ramah. "Sure." Jawabnya singkat.
Pria itu tersenyum manis. "Boleh saya tahu jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Rupanya tadi Ia hanya ingin memastikan apakah Calista bisa berbicara bahasa Indonesia atau tidak karena sewaktu melihat ke buku catatan Calista secara tak sengaja, semuanya ditulis dalam huruf Cina.
"Sekarang sudah jam 12.45, Pak." jawab Calista.
"Dave Ardiansyah. Panggil saja Dave. Kata 'Pak' terkesan tua bagiku. Lagian aku belum tua-tua amat kan?" Perkataan Dave membuat Calista sumringah.
"Terima kasih sudah memberitahukan waktu. Layar televisi saya ada gangguan, jadi tidak bisa mengecek waktu. Lagian saya lupa pakai jam tangan karena tadi tergesa-gesa ke bandara. Senang berkenalan denganmu, ....mbak...."
__ADS_1
"Calista. Namaku Calista." jawab Calista sambil membalas uluran tangan Dave.
Akhirnya Calista mendapatkan teman ngobrol selama penerbangannya ke Singapura. Dave orangnya suka bercerita. Berbeda sekali dengan suaminya yang irit bicara dengan orang lain kecuali dengan istrinya, orang tua dan juga Ayunda, kakaknya.
Dave ternyata seorang petualang. Ia seorang konsultan free-lance yang sudah kebeberapa negara. Ia menceritakan kalau Ia tidak suka dengan ikatan pekerjaan yang terlalu mengikat. Calista kagum dengan pengalaman Dave. Ia sebenarnya sudah berencana untuk liburan ke beberapa negara setelah resign. Tapi nasib mempertemukan dia dengan Daniel dan menikah.
Dave adalah pria berperawakan lumayan tinggi dengan kulit kuning langsat. Wajahnya mirip para bintang drakor dengan rambut agak panjang jika dibandingkan dengan potongan rambut pria pada umumnya. Ia juga kelihatan sangat casual dengan kemeja putih digulung lengannya dipadukan dengan short biru gelap selutut dan sepatu sportnya. Walaupun penampilannya sangat casual, justru menambah kesan "cool" bagi orang yang melihatnya, terutama kaum hawa.
**DAVE ARDIANSYAH**
Perjalanan itu benar-benar tidak terasa bagi Calista. Ia bersyukur bisa berkenalan dengan Dave si 'tukang cerita'. Dengan begitu Calista bisa melupakan kesedihannya sejenak sampai pesawat yang mereka tumpangi tiba di Changi Airport.
Merekapun berjabat tangan lagi kemudian berpisah. Hari sangat cerah dan matahari bersinar terik membuat Calista mulai berkeringat.
Beberapa menit kemudian Ia menangkap sosok saudaranya, Marcel, di balik kerumunan dan sedang melambai-lambaikan tangan.
Calista tersenyum dan membalas lambaian itu. Tak lama kemudian mereka sudah berada didalam mobil Marcel yang membawanya kesebuah hotel untuk check in.
"Istirahatlah dahulu sebentar. Aku juga akan istirahat di lobi sambil menunggumu." kata Marcel pada saudaranya.
__ADS_1
Calista mengangguk dan meninggalkan Marcel menuju lift. Hari ini sungguh melelahkan bagi Calista. Ia pun langsung mengirimkan pesan pada suaminya untuk sekedar memberitahu bahwa Ia telah tiba di Singapura dengan selamat.