
Sudah sebulan lebih Daniel terus berusaha tidak terlalu meladeni Laras. Ia bahkan sudah menugaskan salah satu menejernya untuk membantu Laras dalam menyelesaikan training di perusahaannya.
Laras semakin agresif terhadap dirinya dan Daniel tidak suka akan hal itu. Daniel berusaha mencari-cari kesibukkan dengan cara mengunjungi beberapa perusahaannya. Rumor yang mulai beredar di kantor tentang kedekatan dirinya dengan Laras sudah cukup membuat kepala Daniel pusing. Ditambah lagi orang-orang yang mulai curiga mengenai hubungannya dan Calista. Itu dikarenakan mereka tidak pernah lagi melihat istri boss mereka muncul dikantor atau sedang jalan bersama.
Bagi Daniel harga diri dan nama baiknya dipertaruhkan dalam hal ini. Itulah mengapa Ia memutuskan untuk menghindari Laras.
Ia tak mau Laras salah mengartikan perhatiannya selama ini. Bagi Daniel, Laras hanyalah seorang teman biasa. Tidak lebih! Perasaannya pada wanita itu sudah lama mati sejak perpisahan mereka tujuh tahun yang silam.
Daniel menyetir mobilnya sendiri hari itu. Ia lagi ingin melepaskan kepenatan setelah menginspeksi salah satu perusahaannya.
Ia pun memutuskan untuk melihat sendiri keadaan salah satu swalayannya di sekitar situ.
Daniel tak menyadari bahwa sedari tadi mobil Laras mengikutinya dari belakang. Laras melakukannya karena Ia ingin memastikan penyebab sebenarnya Daniel mulai menghindarinya.
Daniel turun dari mobilnya dan masuk kedalam sebuah swalayan. Karyawan disitu tidak ada yang mengenalnya. Daniel mulai melihat-lihat aktivitas disitu ketika matanya menangkap sosok yang selalu berusaha dihindarinya selama ini.
"Calista." ucap Daniel dalam hati. Daniel berusaha agar tidak mudah terlihat. Mengingat tubuhnya yang tinggi, Daniel berusaha sedikit menunduk sambil terus memperhatikan sosok didepannya yang sedang asyik membaca produk ditangannya.
Daniel merasa sedikit heran mengapa Calista berada di bagian rak maternity. Beberapa saat kemudian Calista telah mengambil dua buah kaleng susu bergambar Ibu hamil dan menaruhnya ke dalam keranjang.
"Aneh... kenapa dia membeli susu untuk ibu hamil? Apakah itu untuk temannya yang berambut merah itu atau...?" pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya. Ia berusaha menepis segala asumsi yang muncul. Ada yang tak enak bergejolak dalam hatinya.
"Kim. Ya, Kimberly. Aku harus mencari pegawaiku, si rambut merah itu. Dia pasti tahu jawabannya."
Daniel terus membuntuti Calista. Gadis itu sudah berada didepan kasir untuk membayar susunya. Daniel terus mengamati dari balik rak barang yang agak dekat dengan kasir.
Dari situ Ia bisa melihat wajah cantik yang terlihat agak pucat dan kurusan itu dengan jelas.
"Selamat pagi Bu. Boleh saya tahu apakah susu ini untuk anda?"
Calista tersenyum sambil mengangguk.
"Iya mbak, untuk saya."
"Kebetulan kami ada promo, Bu. Karena ibu membeli dua kaleng, maka ibu berhak mendapat bonus vitamin gum untuk ibu hamil. Kalo boleh saya tahu usia kandungan Ibu sudah jalan berapa bulan?" Tanya kasir tersebut.
"Sudah hampir dua bulan." jawab Calista enteng.
"Kebetulan sekali Bu, Vitamin ini khusus untuk ibu hamil pada tri semester pertama. Vitamin ini juga membantu menghilangkan mual-mual pada ibu hamil. Ini ya bu, saya masukan bonusnya."
Calista tampak tersenyum mendapat bonus itu. "Makasih mbak."
Setelah membayar, Calista keluar dari swalayan itu menuju parkiran.
Daniel semakin bertambah penasaran mendengar percakapan itu.."Calista hamil? Dengan siapa? Arrrgh...." Daniel mengepalkan tangannya. Wajahnya kelihatan memerah menahan perasaan yang seakan merobek-robek dadanya.
Ia pun memutuskan untuk segera kembali ke kantornya untuk mencari pegawainya yang bernama Kimberly!
.
.
.
Calista yang memarkir mobilnya agak tersembunyi tiba-tiba dikagetkan dengan suara seorang wanita yang sudah berada dibelakangnya. Calista berbalik dan sedikit kaget mendapatkan seorang wanita yang pernah dilihatnya bersama Daniel di sebuah cafe.
"Maaf, anda siapa ya?' Tanya Calista.
"Saya Laras, pacar Daniel. Tolong jangan ganggu Daniel lagi. Kalian tidak punya ikatan apa-apa lagi. Jangan lagi pernah mengajak Daniel menemuimu secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak akan segan-segan bertindak!" setelah mengucapkan kata-kata itu, Laras segera pergi dari hadapan Calista yang masih terbengong-bengong.
"Siapa juga yang mau menemui pacarmu itu! Dasar wanita psycho!" umpat Calista. Ia tak mau terpancing keadaan karena Ia sadar kalau Ia sedang hamil. Ia berusaha menjaga kestabilan emosinya. Walaupun tak dapat Ia pungkiri kalau hatinya sangat sakit mendengar kata-kata wanita itu.
__ADS_1
Calista masuk kedalam mobil. Ia menenangkan sejenak perasaannya yang masih sedikit bergejolak.
Ia meraih hapenya dan menelpon Kimberly.
"Kim. Maaf mengganggu." kata Calista setelah Kimberly menjawab teleponya.
"Cal, ada apa? Tumben telpon aku di jam kerja." jawab Kimberly.
"Tolong bilangin Big Bossmu itu ya... bilangin kalau dia harus mentraining mulut pacarnya itu, siapa tadi namanya?....oh iya, Laras! Ia datang-datang menuduhku yang bukan-bukan bahkan mengancamku!" suara Calista terdengar sangat emosional dengan nafasnya yang tak beraturan.
"Sabar Cal.....sabar. Kok akunya yang dimarahin ya... ingat kamu sedang hamil, nanti tekanan darahmu bisa naik drastis kalau begini." Hibur Kimberly berusaha menenangkan.
Calista langsung tersadar akan apa yang baru saja Ia katakan pada sahabatnya, ternyata Ia masih sangat kesal dengan kejadian tadi. "Ya, Tuhan.... kenapa Kim yang jadi sasaran?" bisiknya dalam hati.
"Maaf Kim...maaf kalau kamu sudah menjadi sasaran kemarahanku. Aku sangat kesal hari ini. Aku tak menyangka akan diserang dengan kata-kata tak menyenangkan oleh si Laras itu. Ya sudah. Aku mau ke restoran dulu."
"Cal... sabar yah. Kalau dia masih berani mengganggumu lagi biar nanti dia berhadapan denganku. Kamu jangan mudah terpancing. Okelah kalau begitu, hati-hati di jalan Cal. Aku janji akan ketempatmu selesai kerja. Aku jemput kamu untuk berenang biar kamu lebih rileks dan bayimu juga sehat."
Calista tersenyum mendengar tawaran sahabatnya. "Baiklah Kim. Aku tunggu nanti sore ya. Bye." Calista mematikan telponnya dan perlahan menyalakan mesin mobil dan berlalu dari tempat itu. Ia sedikit lega. Bagaimanapun Ia menyayangi bayi diperutnya. Ia tak mau emosinya mempengaruhi pertumbuhan bayinya kelak.
.
.
.
.
#Di dikantor Wikatama Group
"Nona Kim, bisa ikut saya sebentar?" kata Supervisor Kim padanya.
Kimberly yang sedang asyik didepan layar monitornya berhenti sejenak dan mengikuti langkah supervisornya keruangan lain.
"Silahkan, Nona Kim. Pak Daniel ingin bicara empat mata dengan anda." Kata Supervisornya sambil keluar dan menutup pintu.
"Selamat siang Tuan Daniel? Tuan ingin bicara dengan saya?" Tanya Kimberly sedikit gugup. Pikirnya, sejak kapan Big Bossnya ini mau menemuinya secara privat mengingat Ia bukan orang penting dikantor ini. Kalaupun bertemu dan berbicara cuma pada moment rapat tertentu, itupun sangat jarang sekali.
"Duduklah Nona Kim. Ada yang ingin aku tanyakan. Aku hanya ingin kamu bekerjasama denganku dengan cara menjawab pertanyaanku dengan jujur." wajah Daniel kelihatan sangat serius dan dingin.
Melihat itu Kimberly setengah bergidik. Ada apa ini? Adakah kesalahan yang telah Ia perbuat? Pikir Kimberly.
Kimberly mengangguk pelan. "Baiklah Tuan."
"Tolong dijawab. Apakah sahabatmu Calista sedang hamil?" Tanya Daniel langsung ke point utama.
Deg!
Jantung Kimberly seakan mau copot dari tempatnya. Tidak bisa mengelak, kalau Ia berdusta bisa-bisa tamat karirnya disini.
"Hmm....a..anu Tuan...maksud saya, I...iya, benar. Calista sedang mengandung." jawab Kimberly tergagap.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Daniel lebih antusias lagi.
" Errr....err.... kalo gak salah sudah hampir dua bulan." Kimberly tambah gugup.
"Katakan, siapa ayah dari anak yang sedang dikandungnya." lanjut Daniel.
Deg! Deg! Deg!
Pertanyaan yang berusaha untuk tidak mau dijawab oleh Kim akhirnya datang juga.
__ADS_1
Kimberly terdiam. Wajahnya tampak bingung tak karuan.
"Ya Tuhan, aku sudah berjanji pada Calista....bagaimana ini?"
"Ayo dijawab, Nona Kim. Saya paling tidak suka dibuat menunggu!" suara Daniel agak meninggi.
"A...anu..Tuan" suara Kimberly bergetar. Ia benar-benar kalut.
"Ayo jawab sekarang! Siapa yang menghamili Calista!" Daniel membanting meja degan tangannya.
Astaga! Ia benar-benar marah! Pikir Kimberly.
"Tuan...sa...saya sangat menghormati privasi sahabat saya. Untuk pertanyaan yang satu ini saya tidak bisa menjawabnya. Saya sudah berjanji padanya." suara Kimberly bergetar seperti hendak meminta belas kasihan dari sosok di depannya.
"Nona Kim. Anda berani mempertaruhkan kehilangan pekerjaan atau harus menjawab pertanyaan saya?" suara Daniel sedikit lembut tapi tersirat sebuah ancaman disana.
Kimberly serasa lemas. Ya ampun, kejam sekali makhluk ganteng ini! Ia tahu betul kalau aku sangat butuh pekerjaan ini. Harus bagaimana ini? Kimberly semakin kalut.
"Calista.... maafkan aku...kayaknya aku harus mengingkari janjiku padamu. Aku benar-benar terpojok!" jerit Kimberly dalam hatinya.
Kimberly mengangkat wajahnya dan kemudian menatap Bossnya itu yang masih sedang menunggu jawaban pertanyaannya dengan tatapan tajam kearah Kimberly.
"Tuan Daniel, jika Tuan memaksa, baiklah akan saya katakan."
Daniel tersenyum tipis mendengar pegawainya yang bisa diajak bekerjasama itu.
"Kalau begitu, siapa dia?"
Kimberly menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tuan adalah ayah dari bayi didalam kandungan Calista. Hmm.... sebulan sejak tidur di apartemen Tuan sewaktu menjaga Tuan sakit, Calista mulai pusing-pusing dan sedikit mual. Kemudian dokter menyatakan bahwa Calista hamil. Maaf kalau aku jadi tahu awal mula ceritanya mengapa semua ini terjadi."
Mendengar penjelasan Kimberly, Daniel terdiam seribu bahasa. Terlintas kembali kejadian pagi itu dibenak Daniel, adegan panas yang tak terelakan antara dirinya dan Calista. Daniel tersenyum antara bahagia tapi juga khawatir dengan Calista. Ia sungguh ingin berada disampingnya untuk menemani Calista melewati masa-masa sulitnya... tapi...
Ia bingung harus mulai dari mana.
"Tuan Daniel....Tuan? suara Kimberly membuyarkan pikirannya.
"Tuan...jangan sampai Calista tahu kalau Tuan sudah tahu tentang hal ini karena Calista mengancam untuk menggugurkan kandungannya bila Tuan tahu informasi ini dari saya." sungut Kimberly dengan nada cemas.
"Tenanglah... semua akan baik-baik saja." Daniel kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Kimberly.
"Saya boleh minta tolong?" Tanya Daniel.
Kimberly mengangguk.
"Tolong gunakan kartu ini untuk membeli apapun yang diperlukan Calista selama masa kehamilannya. Ia tak akan menerimanya kalau aku atau kamu yang memberikannya. Jadi, tolong kamu yang pegang kartu ini dan belanjakan segala keperluannya. Dengan begitu Ia tidak akan curiga. Dia pasti menganggap bahwa itu pemberian tulus darimu."
Kimberly menerima kartu itu dari tangan Daniel dan kemudian mengangguk tanda mengerti. Kimberly menjadi terharu atas kebaikan Big Bossnya. Ia ternyata seorang lelaki yang bertanggung jawab.
Tiba-tiba Kimberly teringat akan kejadian yang baru saja menimpa sahabatnya.
"Oh iya, Tuan Daniel. Sekedar informasi, beberapa jam yang lalu Calista menelpon saya. Ia sangat kesal dan marah karena pacar anda yang bernama Laras menemui Calista dan menuduhnya yang bukan-bukan. Ia juga mengancam Calista. Saya mohon Tuan katakan pada pacar anda untuk jangan mengganggu sahabatku lagi. Ia sedang hamil dan butuh ketenangan emosi.
Ia sudah cukup menderita dengan perceraian ini jadi, jangan buat lagi dia tambah menderita."
Daniel sangat terkejut mendengar permohonan gadis berambut merah itu.
"Laras? Kenapa kamu menemui Calista? Dasar wanita tak tahu diri! Berani-beraninya kamu menyakiti Calista?" umpat Daniel dalam hatinya.
"Jangan khawatir Nona Kim. Saya akan mengurus semuanya. Ingat, tolong permintaanku yang tadi kamu lakukan ya?" kata Daniel sambil berdiri dan bersiap-siap pergi.
__ADS_1
Kimberly mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya. Ia merasa lega sekaligus was-was. "Que sera, sera. Whatever will be, will be..." ucapnya dengan pasrah.
Note: Que sera sera, whatever will be, will be artinya: Yang akan terjadi nanti, biarlah terjadi.