
"Halo Kim." jawab Calista sewaktu telpon dari Kimberly masuk.
"Lagi dimana?" Tanya Kim di seberang.
"Baru saja sampai didepan pintu apartemen. Aku pulang lebih awal dari restoran soalnya capek banget. Badanku pegel-pegel semua." jawab Calista setengah meringis.
"Ya, udah. Jaga kesehatan. Kamu mudah capek karena lagi hamil. Ingat si baby yah...Aku kan Bibi siaga nih...jadi aku gak mau ada apa-apa dengan calon ponakanku." ucap Kimberly dengan bijak.
"Makasih Kim. Aku baik-baik aja kok. By the way, kok tumben sih kemarin kirimin aku segala keperluanku. Sejak kapan kamu banyak duitnya. Biasa juga kamu cuman beliin aku makanan."
"Lho...aku kan sudah bilang kalau aku ini Bibi siaga. Lagian, aku beliin semua itu untuk calon ponakanku. Makanya ini aku telpon untuk ngecek apa udah diterima. Tolong jangan ditolak. Mulai bulan ini kedepan kamu gak usah repot-repot, aku yang beliin semua keperluanmu sampai melahirkan nanti. Mau beli baju, sepatu, perhiasan juga gak apa-apa, tinggal bilang aja ya. Kamu kan single parent, jadi biarkan aku membantumu kali ini. Kamu sudah banyak nolongin aku selama ini." ucap Kimberly penuh semangat.
"Makasih ya Kim. Kamu udah buat aku terharu. Walaupun aku single parent tapi aku tetap mampu kok mengurus dan menghidupi diriku sendiri dan juga anakku kelak."
"Lha, siapa yang bilang kamu gak mampu? Kalau misal ada penghargaan wanita paling tangguh pasti kamu pemenangnya!'
Calista tersenyum. "Ah kamu ada-ada aja. Udah ya, aku mau masuk dulu. Aku mau berendam, aku benar-benar lelah. Bye, Kim."
.
.
.
Calista memasukkan nomor pin pintu apartemennya. Ketika hendak membuka gagang pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang tangannya sehingga Calista berhenti sejenak dan menoleh kearah pemilik tangan.
Seketika nafasnya seperti tercekat serta bola matanya agak membesar ketika mengetahui siapa pria yang tengah berdiri didekatnya sementara masih memegang tangannya.
__ADS_1
"Dan..Danny?" ucap Calista tergagap.
Tanpa basa basi lagi, Daniel langsung mememeluk pinggal Calista dan membawanya masuk kedalam apartemen.
Calista masih terbengong-bengong dengan ulah Daniel yang seenaknya dan tiba-tiba saja muncul diapartemennya.
"Danny! Kenapa kamu tiba-tiba muncul? Ada apa dengan kamu?" seru Calista dengan nada kesal.
"Sudah. Jangan marah-marah begitu. Aku cuma ingin menjengukmu. Sudah lumayan lama kita gak ketemu. Bagaimana kabarmu, sayang?" ucap Daniel dengan penuh kelembutan diakhir kalimatnya.
Calista semakin bingung dibuat Daniel.
"Ada angin apa dia datang kemari? Pake manggil-manggil sayang pula!" Tanya Calista dalam hati. Ia masih berdiri, menatap tajam kearah Daniel.
"Aku merindukanmu, sayang. Do you feel the same way?" kata Daniel sambil mendekati Calista. Kini jarak mereka berdiri kemungkinan hanya sekitar tiga puluh centimeter. Calista berusaha untuk mundur tapi Daniel menahan pinggangnya.
"Ya, kamu benar. Aku memang belum rela. Lagian, siapa yang menceraikanmu? Aku tak pernah menanda tangani berkas perceraian itu. Jadi, kita masih suami istri. Waktu itu aku cuman masih kecewa aja karena melihat fotomu dengan pria itu! Aku cemburu setengah mati. Aku pikir, kamu telah mengkhianatiku dengan pria itu demi uang. Sekarang aku sudah tahu semua kebenarannya." Daniel tersenyum sambil membelai wajah menawan didepannya.
Calista hendak menepis tangan Daniel tapi urung dia melakukannya. Ia masih menatap wajah tampan itu dengan mata yang penuh pertanyaan.
Seakan mengerti dengan tatapan itu, Daniel kembali menjelaskan.
"Aku sudah bertemu dengan adik iparku." katanya sambil terus membelai wajah Calista.
"Adikku, maksudmu? Marcel?" gumam Calista setengah terkejut.
"Yup! Benar. Ia menjelaskan semua tentang bagaimana sampai Ia harus menarik aset-aset itu. Baik Marcel ataupun kamu, semuanya gak ada yang salah. Aku bersyukur, adikmu datang menjelaskan semuanya padaku, kalau tidak, aku tidak akan menemukan siapa dalang dari semua ini dan... bagaimana menyelamatkan pernikahan kita." Daniel mencoba mencium bibir Calista tapi istrinya menghindar dengan memalingkan wajahnya. Ia ingin mundur menjauh tapi lengan Daniel masih melingkar erat dipinggangnya.
__ADS_1
"Sayang, please....maafkan aku. Aku sudah salah paham selama ini. Jujur hidupku berubah drastis sejak kita berpisah. Aku pikir aku bisa menjalaninya...tapi aku tersiksa setiap saat karena merindukanmu. Kenyataannya, aku tak pernah rela melepaskanmu! Melihatmu saja sering bersama si pria gondrong itu, rasa-rasanya aku ingin melenyapkannya!"
Calista sedikit kesal dengan ucapan Daniel yang terakhir. "Pria gondrong? Maksudmu, si Dave? Danny, dengar ya, Dave itu temanku, dia pria yang baik dan sopan. Dia tahu aku baru bercerai, tapi selama ini dia gak pernah macam-macam padaku. Ia sangat menghormatiku. Beda dengan kamu.... belum lama berpisah denganku sudah menggandeng si nenek lampir itu! Iya...siapa lagi kalau bukan si Laras. Ia pernah mendatangiku dan menuduh aku yang bukan-bukan. Malahan mengancamku! Terus....sebenarnya siapa yang mengkhianati pasangannya?"
Mendengar omelan Calista, Daniel tersenyum jenaka. "Berarti kamu masih cinta sama aku kan? Kamu kelihatannya cemburu banget deh. Laras itu tidak ada hubungan apa-apa denganku. Ia sahabat lama waktu kuliah dulu di Arizona. Ia memang dulu pernah pacaran sama aku tapi itupun cuman bentar banget karena aku gak serius. Waktu itu aku lebih fokus belajar karena baik kuliah maupun hidupku sangat bergantung dari beasiswa dan saat itu juga aku baru memulai merancang bisnisku yang sekarang. Ia sekarang sedang magang aja dikantorku. Tapi aku tidak pernah lagi menanganinya, hanya diawal-awal saja. Tapi seiring waktu berjalan, aku merasakan gelagatnya yang sudah mulai aneh-aneh padaku. Jadi sudah hampir sebulan ini menejerku yang membantunya. Lusa nanti magangnya sudah selesai. Jadi tidak ada alasan lagi untuknya datang kekantorku. Oh, iya, mengenai apa yang Ia lakukan padamu, jangan percaya apa yang dia katakan padamu. Semua itu tidak benar. Ia hanya terobsesi padaku. Jadi, maafkan aku atas kejadian tidak mengenakan itu. Aku sudah bicara padanya. Walaupun Ia sepertinya tak puas tapi aku tak peduli. Aku hanya peduli pada istriku. Calista, Aku sangat sayang padamu. Maafkan suamimu ini ya."
Hati Calista mulai meleleh mendengar penjelasan suaminya. Ia juga ternyata tidak benar-benar bisa membenci Daniel. Ia masih saja terus merindukan suaminya itu. Sekeras apapun Ia mencoba melupakan suaminya, tetap saja Ia gagal. Buktinya, Ia sendiri tak sanggup menolak kehangatan cinta dan cumbuan Daniel waktu itu yang menyebabkan Ia hamil sekarang!
"Sayang... bicaralah. Apakah kamu masih mau menerimaku? Aku rela kehilangan semua asetku asal jangan kehilangan kamu. Aku sangat...merindukanmu." Daniel mencoba lagi mengecup bibir Calista dan kali ini istrinya tidak menghindar tapi hanya diam dan tak membalas kecupan lembut Daniel.
Daniel menghentikan aksinya ketika Calista meletakkan tangannya di bibir Daniel.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Maaf, tapi aku harus mandi sekarang. Lagian ciumanmu bikin aku mual...ak...aku..."
Seketika Calista berlari kedalam kamarnya menuju ke kamar mandi. Ia muntah-muntah disana!
Daniel langsung sigap dibelakangnya sambil memijit-mijit tengkuk istrinya.
"Sayang .... kamu kenapa? Aku cuma menciummu tapi kamu langsung muntah-muntah begini. Biasanya juga kamu langsung tak berdaya dan menikmatinya."
Calista menyeka mulutnya dengan tissue yang disodorkan Daniel.
"Tolong keluar, aku mau mandi!" Bentak Calista.
Seketika Daniel berdiri dan hendak keluar dari kamar mandi itu. Ia tahu keadaan emosi istrinya yang sedang tidak stabil karena kehamilannya.
"Danny!" panggil Calista tanpa menoleh dan Daniel kembali menatapnya. "Jangan pulang, aku tak mau sendiri lagi."
__ADS_1
Seketika senyuman bahagia merekah di wajah Daniel. Ia berjanji sejak saat itu, masalah apapun yang akan terjadi diantara mereka, Ia tak akan pernah lagi meninggalkan istrinya!