
Calista membuka email undangan dari Albert. Perusahaan Wikatama Group akan mengadakan pesta perayaan atas persetujuan kerjasama dengan perusahaan Sanyoin. Semua karyawan diundang beserta beberapa perusahaan lainnya yang sedang bekerja sama dengan perusahaan Wikatama Group.
Calista diundang sebagai perwakilan dari Sanyoin Group. Calista mengambil hapenya dan membuka aplikasi toko pakaian online ternama di Jakarta. Ia malas ke mall hanya untuk sekedar mencari baju dan sepatu pesta. Calista memesan dua pasang baju pesta dan high heels. Ia memesan dua untuk berjaga-jaga bila salah satunya tidak begitu cocok jika di pakai nanti.
.
.
.
.
Calista harus memesan sebuah taxi online karena sahabatnya Kimberly sudah harus berada digedung tempat berlangsungnya acara satu jam sebelum. Kimberly harus memastikan kalau segala persiapan sudah matang. Itulah sebabnya Calista tidak bisa menumpang mobil Kimberly.
Calista memasuki ruangan acara. Acara hampir dimulai. Beberapa pasang mata menatapnya kagum. Calista terlihat begitu bercahaya. Ia mengenakan dress berwarna biru gelap dengan belahan dada agak rendah yang memperlihatkan sedikit belahan indahnya. High heels silvernya menambah pesonanya malam itu. Calista membiarkan rambutnya tergerai dengan aksen bergelombang dibagian bawah.
__ADS_1
"Cal...." sebuah suara memanggilnya. Kimberly melambai-lambaikan tangannya dan berjalan menghampirinya.
"Wow...so charming! Hmm... semua mata tertuju padamu, princess." kata Kimberly dengan mata berbinar-binar. "Ayo, acara sudah dimulai." Kimberly menarik tangan Calista untuk bergabung dengan tamu lainnya.
Pesta berjalan lancar. Semua orang terus tersenyum dan tertawa ketika mengobrol.
Calista menuju ke salah satu meja tempat penganan. Iya mengambil secangkir minuman beralkohol yang disodorkan pelayan disitu. Calista meminumnya habis dalam sekali teguk kemudian ia meminta lagi untuk yang kedua kalinya. Calista tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya terus. Daniel tak pernah melepaskan pandangannya dari Calista. Ia sangat bergetar melihat penampilan Calista. Ia begitu sexy dengan balutan dress biru tuanya. Daniel menatap tubuh Calista yang menghilang ke arah taman samping gedung. Ia tak mau kehilangan gadis itu dari pandangannya.
Daniel bergegas mengikuti Calista yang hilang diantara tumbuhan dengan pencahayaan yang bisa dikatakan remang-remang. Beberapa lampu taman tidak dinyalakan sehingga Daniel sedikit sulit menangkap arah bayangan Calista.
Beberapa saat kemudian Daniel sudah menatap bayangan cantik itu sedang membelakanginya. Gadis itu memegang gelas winenya sambil mematung.
"Tuan Daniel? sedang apa kemari?" Tanya Calista sedikit gugup.
"Kamu sendiri kenapa disini sendirian?" Tanya balik Daniel.
Calista tersenyum menatap pria tampan di depannya. "Aku hanya cari angin saja. Di dalam sudah agak panas."
__ADS_1
Daniel bergerak lebih dekat ke Calista.
"Kapan kamu rencana kembali ke negaramu?"
"Dua minggu lagi." ucap Calista ragu-ragu.
Daniel menatap wajah Calista dalam. Dengan bantuan cahaya remang-remang, Calista dapat melihat tatapan mata Daniel yang berbeda dari sebelumnya. Ia merasakan keteduhan dan.....mata itu terlihat sarat kerinduan.
"Tinggallah lebih lama." Daniel berucap singkat.
Calista menundukkan wajahnya, jantungnya seperti sedang berlomba lari. Ia tak mampu menyusun kata-kata untuk menayakan maksud ucapan Daniel.
Daniel menyentuh dagu gadis itu. "Apakah kamu bakalan marah jika aku bilang bahwa aku jatuh cinta padamu dan ingin memilikimu seutuhnya? Kamu boleh marah padaku karena sudah berani mencitaimu. Tapi aku tak peduli lagi. Aku harus mengakui semuanya bahwa kehadiranmu sudah mengacaukan perasaanku termasuk hidupku. Jangan pernah berani mengelak dariku karena aku akan terus mencarimu dan kau..." ucapan Daniel terhenti karena telunjuk Calista sudah menempel disana.
"Jangan teruskan...kau semakin menyiksa perasaanku. Aku tak mau dipermainkan dengan rindu ini!" Calista berusaha tegar.
Daniel tak tahan lagi, ia menarik leher gadis didepannya dan menempelkan bibir mereka. Daniel ******* bibir Calista tanpa ampun. Calista merasa tubuhnya melemah, iya tak sanggup menghentikan ciuman panas Daniel dibibirnya. Terlalu nikmat untuk diakhiri. Ia membalas ciuman itu dengan gairah yang tak bisa ia hentikan. Daniel meremas pinggang Calista dengan tangan kirinya, sedangkan tangan satunya menahan wajah Calista agar bibirnya terus dan terus bertautan dengan miliknya. Calista terengah-engah...nafasnya hampir habis. Daniel memberi gadis itu kesempatan untuk menghirup oksigen. Beberapa detik kemudian Daniel sudah menghisap kembali bibir Calista lebih rakus dari sebelumnya.
__ADS_1
Entah berapa lama dua insan itu melampiaskan hasrat mereka yang terpendam dengan ciuman yang mengakibatkan bibir keduanya agak membengkak. Yang jelas baik Daniel maupun Calista ingin selalu bersama sejak malam itu.