
Sejak kejadian di Cafe beberapa hari yang lalu, Daniel menjadi uring-uringan. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Bila mengingat kembali bagaimana kebahagiaan Calista dengan lelaki berambut gondrong itu, hatinya serasa diobok-obok. Ada perasaan cemburu yang membakar pikiran dan hatinya.
Bila sudah begini, nafsu makan Daniel akan menurun. Seperti malam itu dan malam-malam sebelumnya, Daniel tidak memakan habis makanannya. Ia hanya menyentuhnya sedikit dan kemudian mengenyangkan perutnya dengan air putih.
"Calista, kenapa kamu gak pulang saja ke tanah air mu agar aku gak akan pernah melihatmu lagi. Sejak pertama kali mengenalmu, kamu sudah mengacaukan hidupku, bahkan sampai sekarang ini!" ucap Daniel dalam geram.
Terasa ada yang menyesak di dadanya, "Secepat itukah kamu membuka hatimu bagi pria lain? Ataukah itu sudah menjadi pekerjaanmu? Siapa lagi mangsamu kali ini?" Ada perasaan belum rela dalam hatinya, perasaan belum rela jika Calista telah melupakannya bahkan pindah kelain hati.
Daniel tiba-tiba membanting gelas yang masih berisi air putih yang berada didepannya.
Brrrraaaak!!!!
Gelas itu pecah berkeping-keping dan sisa air yang tadinya masih tersisa dalam gelas itu membasahi beberapa bagian lantai disekitar karpet dekat tempat duduknya.
Tiba-tiba Daniel merasakan perutnya melilit. Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk benda tajam seakan datang dan pergi. Mula-mula Ia masih bisa menahannya. Daniel menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sakit yang datang dan pergi. Namun intensitas rasa ditusuk-tusuk itu semakin menjadi-jadi.
Daniel tak dapat menahannya lagi. Ia meraih hape didekatnya dan mencoba menghubungi nomor dr. Brian Hendrawan, dokter pribadinya tapi yang menjawab hanya istrinya karena dr. Brian sedang melayani pasien di UGD.
Daniel meringis memegang perutnya, sakit yang Ia rasakan seakan-akan sedang mencabik-cabik ulu hatinya.
Tidak ada cara lain lagi selain menelpon Albert! Orang tuanya tinggal lumayan jauh, jika menelpon mereka dan menunggu kemungkinan Ia bisa sekarat. Ia menelpon nomor Albert dan Ia lega karena Albert menjawabnya.
"Ya, Halo Pak Daniel." terdengar suara diseberang. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Albert...to..tolong datang ke apartemenku se..karang." kata Daniel tergagap.
"Pak Daniel, apa yang sedang terjadi? Apakah Bapak sedang sakit?" Tanya Albert Demi mendengar suara bossnya yang kedengaran seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Iya Albert. Saya sedang sakit. Makanya aku mohon kamu cepat kesini." perintah Daniel.
"Bu Calista sedang tidak ada ya, Pak?" Tanya Albert.
"Di....dia...tidak bisa dihubungi." jawab Daniel sedikit terbata-bata. Belum ada yang tahu kalau Ia dengan Calista telah berpisah kecuali Laras.
"Baik Pak. Segera." Albert menutup telponnya.
.
__ADS_1
.
.
.
Calista sedang membersihkan peralatan dapurnya ketika tiba-tiba hapenya berbunyi.
Ia melihat layar telponnya. "Albert? Ada apa menelpon?"
"Halo Albert." ucap Calista.
"Met malam Bu Calista. Maaf mengganggu. Tolong Bu, segera ke apartemen Pak Daniel sekarang juga. Ia sedang sakit parah. Tolong ya Bu. Sekarang! Bapak minta tolong saya kesana tapi saya benar-benar gak bisa karena saya sekarang sedang menghadiri acara keluarga. Tolong ya Bu, segera!" Albert langsung mematikan telepon karena Ia tidak mau mendengar istri bossnya itu menanyainya dengan sejuta pertanyaan.
Sebenarnya Albert sudah tahu kalau rumah tangga bossnya sedang bermasalah sejak kedatangan Calista beberapa waktu yang lalu. Apalagi dengan kemunculan seorang wanita bernama Laras yang hampir setiap hari muncul di kantor bossnya. Makanya Albert berinisiatif menelpon istri bossnya.
Calista masih meragu antara pergi atau tidak. Tapi perasaan khawatir demi mendengar Daniel yang sedang sakit tanpa seorangpun yang bisa menolong membuatnya takut kalau-kalau terjadi apa-apa pada Daniel.
Calista cepat-cepat mengganti pakaiannya. Ia lalu menyambar tas, kunci mobil dan hapenya kemudian tergesa-gesa memacu mobilnya ke apartemen Daniel.
Tiba didepan pintu apartemen Daniel, Calista terdiam sesaat. "Semoga Ia belum mengganti password pintunya." Password itu adalah tanggal pernikahan mereka.
Samar-samar terdengar suara rintihan dari ruang keluarga. Calista terkejut melihat gelas pecah dilantai dan didekat situ, diatas sofa, sosok yang masih selalu dirindukan itu tengah meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Wajahnya basah oleh keringat dingin karena menahan sakit.
Calista langsung duduk disamping Daniel yang sedang meringis dengan mata tertutup.
"Danny....Danny...kamu kenapa?"
Semerbak bau parfum dan suara yang dikenalnya itu sontak membuat Daniel membuka matanya. Ia tak menyangka siapa sosok yang sedang memegang wajahnya.
"Calista?" ucapnya hampir tak kedengaran.
"Maafkan aku, tapi Albert menelponku, katanya kamu sakit parah. Aku antar kau sekarang ke rumah sakit."
Daniel tak berkata-kata lagi. Ia tak dapat menolak. Ia pasrah karena rasa ditusuk-tusuk itu tidak tertahankan lagi.
Calista agak panik juga melihat Daniel. Kaosnya telah basah oleh keringat dingin.
"Danny, aku harus mengganti kaosmu dulu, nanti sakitmu tambah parah." kata Calista sambil berdiri.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Danny, Calista langsung menuju ke kamar yang dulunya penuh kenangan bersama Daniel. Ada perasaan resah ketika memasuki kamar itu. Calista langsung mencari-cari pakaian Daniel dan langsung keluar untuk memakaikannya.
Daniel tak berkutik ketika Calista dengan tergesa-gesa membuka kaosnya yang basah, menyeka keringat dibadannya, kemudian mamaikannya kaos yang lain.
Calista berusaha menahan gejolak rasa yang muncul sewaktu melihat dada dan perut lelaki yang sedang tergolek lemah itu. Ia terus berusaha bersikap biasa saja karena Ia tak mau menunjukkannya pada Daniel.
"Danny, kau masih bisa berdiri dan berjalan? Mobilku ada di basement." kata Calista sambil membelai rambut Daniel. Sebenarnya Calista sudah tidak sadar sewaktu membelai kepala lelaki itu.
Danny mengangguk dan mencoba berdiri.
"Aku akan memapahmu. Pelan-pelan saja."
kata Calista sambil berusaha memeluk tubuh kekar itu dari samping.
Walaupun dengan susah payah, mereka akhirnya bisa tiba di basement dan Daniel langsung duduk dengan lunglai disamping Calista. Calista memasang sabuk pengaman pada Daniel, setelah itu Ia memacu mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Daniel langsung masuk ke UGD. Calista hanya bisa melihatnya dari kaca yang ada di pintu. Terlihat dokter dan perawat sedang melayaninya sambil sesekali bertanya pada Daniel.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang perawat membawa sebuah jarum suntik dan menyuntikkan itu dilengan Daniel.
Setelah beberapa menit, Daniel sudah terlihat tenang. Ia tidak lagi meringis.
Calista diperbolehkan masuk untuk menemani Daniel. Ketika Ia masuk, dokter disitu berpaling padanya. "Apakah anda istrinya?" Tanya dokter itu.
Calista bingung antara harus menjawab iya atau tidak. Ia menatap Daniel didekat situ yang sedang menatapnya dengan lemah.
Calista kemudian menatap pada dokter itu.
"I..iya Dok. Saya istrinya." kata Calista pelan.
"Baiklah. Suami anda sakit maag. Asam lambungnya naik. Bagaimana Pola makannya? Sepertinya suami anda ini makan tidak teratur. Tapi yang menjadi penyebab utamanya bukan itu, tapi karena faktor stress. Bisa jadi banyak masalah atau pikiran yang membuat pola makannya terganggu. Kami sudah menyuntikkan penghilang rasa sakit sementara dan juga obat untuk menetralkan asam lambungnya. Silahkan tebus resepnya dan perhatikan cara dan waktu penggunaannya." kata dokter sambil menyerahkan sebuah kertas.
Calista mengangguk dan berterima kasih.
Sebelum Ia melangkah ke apotik, dokter itu berkata lagi. "Bu, tolong makanan Bapak di jaga ya. Ia harus benar-benar diperhatikkan. Suami anda boleh pulang dan dirawat jalan."
Mendengar itu Calista hanya mampu tersenyum kecut. "Diperhatikan? Dijaga baik-baik?" Ia kemudian bergidik.
"Bagaimana mungkin aku melakukannya? Danny dan aku tak punya ikatan apa-apa lagi, kecuali jika Danny masih mau menganggapku teman!"
__ADS_1