Contradictory Love

Contradictory Love
24 - Pamit


__ADS_3

Kimberly menatap sedih sahabatnya yang sedang berusaha menghiburnya. Bagaimanapun Ia belum puas melepas rindu, tau-tau sahabatnya itu sudah mau pergi lagi.


"Kenapa sih Cal, kedatanganmu kemari pasti tidak pernah lama. Aku pikir kalau kamu sudah menikah, kamu gak bakalan balik lagi."


Mendengar itu Calista menepuk bahu Kimberly lembut. "Lho, akukan pergi cuman sebentar. Setelah semua urusan dengan perusahaanku selesai aku segera kembali lagi dan menetap untuk seterusnya disini. Cuman dua bulan kok! Itu adalah waktu yang singkat bukan?"


Kimberly berusaha tegar. Ia tahu kalau Ia harus menjalani lagi hari-hari sepinya sepeninggal sahabatnya itu. Jika Calista telah pergi nanti, Ia pasti keluyuran lagi dengan teman-teman cowoknya hampir setiap malam.


"Aku pasti merindukanmu, Cal." ucap Kimberly sambil menggenggam jemari sahabatnya.


"Ingat, kamu kurangi ya keluyuran malam-malam. Gak baik untuk kesehatanmu. Lagian kamu sudah memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik dan lebih sejahtera dalam hal gaji dan tunjangan di perusahaan suamiku. Aku akan minta Danny untuk mengawasi kinerjamu." Ancam Calista dengan wajah tegasnya yang serius."


Kimberly tersenyum. "Siap Bu Big Boss!"


"Oh iya, tolong apartemenku perawatannya dijaga yah. Seperti sebelumnya, biayanya plus bonus untukmu aku transfer setiap awal bulan, dan... mulai bulan depan aku naikkan jumlahnya." ucap Calista dengan mata menggoda.


Mata Kimberly berbinar-binar sekaligus Ia menjadi tidak enak akan kebaikkan sahabatnya. "Walaupun kamu tidak membayarku, aku akan tetap melakukannya untukmu."


"Oh iya, aku berangkat besok siang. Kamu pasti gak bisa mengantarku kan? Besok hari Senin dan pasti sangat sibuk."


Kimberly mengangguk lesu mendengar pertanyaan sahabatnya. Untuk menghilangkan rasa gundahnya Ia pun mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku dengar kalian sudah mendapatkan rumah baru ya...wah selamat ya, walaupun sayangnya kamu belum sempat menempatinya dengan Tuan Daniel."


Calista tersenyum. "Iya, rumahnya sesuai harapan kami berdua. Aku suka taman bunganya dibelakang. Bagus banget. Selain itu, kolam renangnya juga menyatu dengan tempat Barbeque. Rumahnya gak besar-besar amat, hanya ada empat kamar tidur utama dan satu kamar tidur pembantu. Dua kamar utama dilantai satu dan yang duanya lagi dilantai atas. Danny dan aku emang gak begitu suka dengan rumah yang terlalu besar. Bagiku rumah yang terlalu besar itu selain perawatannya mahal, aku ketakutan kalau lagi sendirian hehe..."


"Aku senang banget mendengarnya Cal. Nanti kalau kamu sudah balik kesini lagi, kita pesta barbeque di rumah barumu ya."


"Pasti dong!" Seru Calista sambil membayangkan rumah barunya. Ia berharap rumah itu akan menjadi tempatnya dan Danny untuk berbulan madu nanti ketika Ia kembali.


"Kamu sudah pamit sama mertuamu?" Tanya Kimberly.

__ADS_1


"Sudah kemarin. Kami makan malam dirumah mereka. Papa Waraney sebenarnya keberatan kalau aku pergi sementara, karena aku Dan Danny baru saja menikah. Mama Alejandra malahan suruh Danny untuk cuti lagi ke Taiwan bersamaku, tapi.... Danny tidak bisa. Ia sedang menghadapi masalah dengan sebuah perusahaan di Singapura. Jadi....yah, dia harus menyelesaikan semuanya. Tak bisa ditinggal."


"Aku juga sebenarnya berpikir kalau sebaiknya Tuan Daniel ke Taiwan saja bersamamu. Hitung-hitung untuk berbulan madu sekaligus bersilaturahmi dengan keluargamu disana."


Calista tersenyum tipis. "Sebenarnya aku sedih meninggalkan Danny pada saat hubungan kami lagi hot-hotnya, hehe.... tapi aku harus profesional dengan pekerjaanku. Lagian mana aku tau kalau tiba-tiba aku jatuh cinta dan langsung menikah. Konyol memang sih kalau aku ingat-ingat lagi. Tapi semua sudah terjadi dengan sangat cepat.... aku tak bisa menolak takdir hidupku."


Kimberly tersenyum sambil mengelus-elus punggung sahabatnya. "Disyukuri aja. Tuan Daniel itu sudah jodohmu. Cinta itu memang datang tidak mengenal tempat dan waktu. Bagiku, kamu wanita yang sangat beruntung mendapatkan pria mapan dambaan banyak wanita. Lagian.... sifat kalian agak mirip, yaitu sama-sama tegas dan.....hehe agak menakutkan kalau lagi serius kerja!"


Mereka berdua sama-sama tertawa sambil terus menikmati kebersamaam mereka sore itu. Walaupun di hati keduanya ada rasa sedih.


Kimberly sedih akan kepergian Calista, sedangkan Calista sedih akan meninggalkan suaminya!


Tut..tut.. hape Calista berbunyi. "Dari Danny. Aku angkat dulu yah..."


Kimberly mengangguk tanda mengerti.


"Hello sayang,... jemput sekarang? ..... aku dengan Kim di Cafe Taman. Lima belas menit lagi? Baiklah." Calista mengakhiri pembicaraan.


"Danny segera menjemputku. Kami antar kamu pulang yah?" kata Calista menawarkan.


Beberapa saat kemudian mobil Daniel sudah memasuki area parkiran. Kedua sahabat itu masuk dan mobilpun melaju kearah tempat tinggal Kimberly.


Kimberly melambaikan tangannya begitu Ia diturunkan diapartemennya. Sebelum itu Ia dan Calista berpelukan lama karena besok tidak akan lagi berjumpa.


.


.


.


Daniel banyak diam selama perjalanan mereka menuju ke apartemen miliknya. Calista dapat merasakan kesedihan yang sedang dirasakan suaminya. Sejak tadi pagi Daniel tidak banyak bicara.

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu akan mendiamiku terus seperti ini?" Tanya Calista sambil membelai kepala suaminya.


Daniel tetap membisu. Ia benar-benar tak dapat membayangkan kalau besok Ia tak akan dapat lagi melihat istrinya, membelainya dan memanjakannya untuk sementara waktu.


"Sayang... bicaralah. Jangan buat aku tersiksa." Rengek Calista.


Melihat ruang kosong yang cukup lebar disisi kiri jalan, Daniel menepikan mobilnya perlahan. Ia menatap kosong kedepan sambil menarik nafas dalam-dalam serta membuangnya dengan cepat. Sesaat kemudian Ia menatap istrinya disamping.


"Berjanjilah, kamu akan segera kembali. Aku tak biasa lagi tidur sendirian. Aku tak biasa lagi tanpa memelukmu." ucap Daniel dengan matanya yang sarat kesedihan.


Calista menggigit bibirnya. Ia menundukkan wajahnya. Ada air mata yang menetes disana.


Daniel membiarkan Calista terisak, Ia serasa tak punya kekuatan untuk menghibur istrinya karena Ia pun merasa lemah tak berdaya karena kesedihan.


Beberapa saat kemudian Daniel melepaskan seat beltnya, menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. Ada sedikit air mata yang keluar dikedua sudut mata coklatnya.


Mereka saling mendekap erat dan lama. Tak ada lagi kata-kata yang terucap. Hanya bahasa tubuh mereka yang berbicara.


Samar-samar terdengar suara penyanyi Gita Gutawa mengalun lembut lewat radio yang sedari tadi diputar Daniel dengan volume yang kecil.


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


*Janganlah kau tinggalkan diriku,


Takkan mampu menghadapi semua,


Hanya bersamamu ku akan bisa...


Kau adalah darahku,


Kau adalah jantungku,

__ADS_1


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku,


Oh, sayangku kau begitu... sempurna*...


__ADS_2