
Para menejer Daniel saling menatap dalam diam. Setelah mempresentasikan kenyataan pahit yang baru saja mereka hadapi, tak satupun yang memberi komentar.
Daniel masih tertunduk menatap meja. Ada kekecewaan dan juga amarah yang sedang ditahannya.
"Boleh sebutkan lagi ketiga aset yang sudah diambil alih itu?" Tanya Daniel tanpa mengangkat kepalanya.
"Ehem... biar saya bacakan lagi." Kata salah satu menejer. "Sebuah Giant Market di Mall S, Hotel X dijalan Dukuh, dan Restoran G di pusat kota. Aset-aset ini nilai jualnya sangat tinggi."
Daniel meremas dagunya, sedang tangan satunya meremas kertas didekatnya.
"Kenapa bisa kita terlambat membayar hak mereka sehingga aset-aset ini bisa melayang? Apa penyebabnya?" Nada suara Daniel mulai meninggi dan membuat peserta rapat bergidik mendengarnya.
Menejer Tommy yang ada disitu berdiri dan mulai berbicara. "Saya sudah berusaha untuk meyakinkan mereka dengan dana yang ada, tapi mereka menginginkan bunga yang sangat tinggi dan hanya memberikan masa tenggang waktu sebulan. Dan dengar-dengar perusahaan itu sudah akan menjual semua aset itu. Hari ini pengumumannya sudah dirilis mereka."
Albert mendekati Daniel dan kemudian menunjukkan sesuatu pada tablet yang sedang di pegangnya.
"Permisi, Pak. Silahkan baca link berita ini."
__ADS_1
Kata Albert kemudian menyentuh link yang dimaksud dan membiarkan bosnya membaca.
"Jadi aset-aset itu telah laku hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah pengumumannya dirilis?"
Daniel bergumam diikuti pandangan kaget para menejernya.
"Sungguh luar biasa! Kita bisa diperangkap oleh perusahaan yang baru seumur jagung!!"
Daniel berdiri dan meninggalkan kursi rapat.
"Silahkan bubar." Kemudian dia berjalan keluar ruangan.
#Di cafe hotel B menjelang petang.
Penyidik yang telah disewa Daniel itu melirik jam ditangannya. Sosok yang sedang Ia tunggu belum juga muncul. Ini adalah pertemuan yang kedua mereka untuk membahas pekerjaan yang harus Ia lakukan di Singapura. Semua harus rapi dan sesuai keinginan orang yang menyewanya karena bayaran yang Ia terima tidaklah sedikit.
Penyidik itu berdiri ketika melihat sosok yang Ia tunggu-tunggu sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Daniel mempersilahkan penyidik itu duduk dan mereka memesan minuman.
"Saya tinggal menunggu instruksi dari anda, Pak. Untuk sekedar masukkan, saya usulkan agar diizinkan melakukan penyadapan agar semuanya clear. Saya juga akan ambil beberapa gambar sebagai bukti. Memang penyadapan sedikit melanggar kode etik, tapi...selama hanya akan digunakan untuk pembuktian pribadi dan tidak untuk dibawa ke ranah hukum, saya rasa sah-sah saja."
Daniel tersenyum sinis dengan air muka yang sedang menahan kekesalan.
"Lakukan saja! Oh iya, aku juga ingin tahu dengan siapa saja Ia akan berbagi keuntungan. Itu saja."
Pria di depan Daniel mengangguk tanda mengerti. Kemudian Daniel mengeluarkan sebuah amplop berukuran sedang dan menyerahkannya pada penyidik itu.
"Ini separuhnya. Didalam juga sudah ada print out tiket pulang pergi Singapura Indonesia. Hotel Q di Orchard Street. Semua sudah dibayarkan. Makan juga sudah ditanggung semuanya oleh pihak hotel. Ada juga uang jajan lebih didalam khusus untuk keperluan saat kamu menjalankan misi tersebut. Silahkan kamu gunakan itu untuk transportasi, ke cafe, pub, atau tempat lain yang kamu anggap perlu selama bertugas. Ingat, jangan sampai melakukan kesalahan."
Pria itu menerima amplop tebal berwarna coklat yang diserahkan Daniel padanya. Ia membuka amplop itu dan mengintip ke dalam. Ia lalu tersenyum puas dan mulai menyalakan rokoknya.
"Aku pastikan anda tak akan kecewa, Pak." kata pria itu sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya.
Daniel mengangguk. "Baiklah, hubungi aku jika mengalami kendala. Aku paling tidak suka kegagalan!"
__ADS_1
Daniel berdiri, memanggil pelayan dan menyerahkan sejumlah uang. Ia kemudian berlalu dari tempat itu.