Contradictory Love

Contradictory Love
15 - Backstreet Relationship


__ADS_3

Calista menghempaskan tubuhnya di sofa apartemennya. Ia benar-benar lelah seharian mengurus penjualan rumah orang tuanya. Setidaknya Ia lega karena telah mendapatkan pembeli yang cocok. Seharian Ia mengurus berkas-berkas yang berakhir didepan notaris. Proses transfer dana dan penyerahan sertifikat asli kepemilikan berlangsung dengan lancar.


Tut...tut...


Hape Calista berbunyi. Dilayar tertulis nama 'Daniel Love'. Ia tersenyum dan langsung menjawab.


"Hello there..." sapa Calista.


"Panggil aku Sayang." pinta suara diseberang.

__ADS_1


"Aku jemput kamu jam 8 ya. Kita dinner bareng."


"Baiklah, aku bersiap dulu. Bye Sayang." tutup Calista.


Calista masih menatap layar hapenya. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa bersalah tapi tetap menyangkalnya. Ia tahu Daniel sudah bertunangan. Daniel telah jujur mengatakan hal itu tanpa Calista minta. Daniel berterus terang kalau Ia tidak pernah punya perasaan dengan Lizbeth tunangannya. Pertunangan itu hanya keinginan orang tuanya yang ketakutan jika Daniel berakhir menjadi perjaka tua karena gila kerja. Daniel berencana untuk mencari waktu bertemu orang tuanya, orang tua Lizbeth, dan Lizbeth sendiri untuk membatalkan pertunangan mereka. Daniel bertekad dihadapan Calista bahwa Ia akan jujur pada mereka mengapa Ia harus membatalkan pertunangan itu. Daniel ingin memperkenalkan Calista pada orang tuanya. Setidaknya itu yang dikatakan Daniel pada Calista.


Sejam kemudian mobil Daniel tiba didepan gedung apartemen Calista. Ia memasuki lift dan menekan tombol lantai 3.


"Apa aku terlalu tampan sampai tidak dipersilahkan masuk?" ucapan Daniel menyadarkan Calista. Pipinya bersemu merah. "Masuklah. Aku ambil tasku dulu." Kata Calista sambil berlalu dari hadapan Daniel. Daniel mengaggumi Calista ketika gadis itu berjalan menuju kamarnya. Ia terlihat begitu cantik dengan rambut panjangnya yang selalu dibiarkan terurai. Tubuhnya yang sexy dalam balutan mini dress berwarna hitam, membuat Daniel menggigit bibirnya. Daniel berusaha menepiskan imajinasi liarnya. Ia tahu kalau dirinya bukanlah tipe pria brengsek yang hanya mementingkan birahi semata. Calista adalah gadis terhormat yang juga tahu batasan jika belum diikat oleh tali pernikahan.

__ADS_1


"Ayo, sayang." Suara Calista menyadarkan Daniel. Sebelum Calista membuka pintu apartemennya, Daniel menahan pinggangnya. Calista terkejut.


"Cium aku dulu. Aku kangen kamu dua hari ini. Kamu sibuk dengan penjualan rumahmu sampai aku kau telantarkan." rengek Daniel.


Calista tersenyum geli. "Sayang, kamukan lagi kerja. Aku gak mau orang-orang dikantormu curiga dengan keberadaanku disana yang sudah tak punya urusan apa-apa lagi. Bukankah kita sedang merahasiakan hubungan ini?" ucap Calista sambil membelai lembut pipi kekasihnya.


Daniel tersenyum manis. Menahan tangan Calista agar tetap dipipinya, mencium tangan itu lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Calista dan mencium bibirnya lembut. Calista membalas ciuman itu dengan lembut sambil menyilangkan tangannya dileher Daniel. Ciuman lembut Daniel berubah menjadi lebih bergairah. Calista berusaha menahan wajah Daniel ketika Ia merasakan ciuman kekasihnya yang semakin menuntut. Daniel melepaskan ciumannya. Napasnya tersengal-sengal. "Sayang... aku tak bisa janji kalau lain waktu aku masih sanggup menahan diriku. Tolong tampar aku jika hal itu terjadi."


Calista tersenyum sambil membersihkan bibir Daniel dari sisa lipstiknya yang menempel dengan jemarinya. "Lihat. Kau sudah mengacaukan dandananku."

__ADS_1


Keduanya tersenyum. Calista memeluk lengan Daniel untuk kemudian makan malam bersamanya.


__ADS_2