Contradictory Love

Contradictory Love
43 - Masalah Baru


__ADS_3

Sebulan sejak kejadian Daniel yang sakit, keduanya sudah tidak pernah bertemu lagi. Masing-masing berusaha untuk tidak mengulangi kecerobohan yang sama.


Sedapat mungkin mereka berusaha untuk tidak bertemu lagi. Kalau pun bertemu secara tak sengaja, mereka akan langsung saling menghindar.


Acara launching restoran baru Calista berlangsung sangat memukau kemarin. Acaranya berjalan sangat sukses. Calista sangat bahagia karena impiannya sudah terwujud walaupun tantangan kedepan masih belum dapat Ia prediksi.


Hari ini Ia menyaksikan restorannya yang dipenuhi banyak pelanggan termasuk turis-turis asing terlihat menikmati makanan suguhan restorannya. Calista selalu mengingatkan para karyawannya untuk mengutamakan keramahan, bantuan, dan mutu makanan. Soal makanan, semua bahan-bahannya harus segar yang didapat langsung dari tangan pertama.


Di restorannya, Calista memiliki pojok khusus di ruang terbuka yang teduh namun masih terkesan berbaur dengan para pengunjung. Tempat itu sedikit terpisah dan dihalangi oleh tanaman dan bunga-bunga cantik. Ia paling senang bekerja disana jika tidak sedang hujan.


Dipojok itu Calista sedang memeriksa laporan pembukuan restorannya ketika tiba-tiba hapenya berbunyi. Nomor kode Singapura. Ia tersenyum karena sudah tahu siapa penelponnya.


"Halo Marcel." kata Calista dengan nada senang.


"Hai Kak. Apa kabar? Aku dengar impianmu sudah terwujud. Wah....banyak selamat ya."


"Makasih big boy. Gimana kabar terapimu. Sudah ada kemajuan yang signifikan gak sih?" Tanya Calista.


"Syukurlah Kak, sudah ada kemajuan. Sekarang aku sudah bisa berpakaian tanpa embel-embel tutup wajah dan kepala segala. Pokoknya udah sedikit normal." terdengar Marcel tersenyum disana.


"Aku senang banget mendengarnya. Semoga kamu cepat dapat jodoh jika sudah lebih baik lagi." kata Calista sambil tertawa menggoda.


"Amin, amin. Eh Kak....aku mau tanya, apa maksud Kakak mengembalikan uang hadiahku yang aku berikan pada Kakak? Aku tersinggung lho." Marcel terdengar ngambek.


"Maaf big boy, bukannya Kakak gak mau. Kakak hanya merasa bahwa Kakak gak pantas aja menerimanya...errr....anu... "


"Kak....apa ada masalah? Kenapa kedengarannya ada yang tak beres?"


Calista terdiam sesaat. Hening.


"Kakak, jawab pertanyaanku. Apakah hadiahku itu membuat Kakak dalam masalah?" tuntut Marcel.


Calista masih terdiam. Ia tak tega mengatakan yang sebenarnya. Ia tak ingin adiknya tahu penyebab utamanya Ia mengembalikan uang tersebut.


"Kakak. Ayo bicara. Aku mohon biarkan aku tahu masalahnya."


Marcel mendengar ada suara isakan kecil diseberangnya yang justru membuat dia semakin tidak tenang.


"Kakak, apa uang itu membawa Kakak dalam masalah besar?"


Calista berusaha menahan kesedihannya. Ia akhirnya tak tahan juga. Ia lalu menceritakan pada Marcel awal segala yang terjadi sehingga Ia diceraikan suaminya.

__ADS_1


Marcel sangat terkejut. Ia marah dan kecewa dengan apa yang menimpa Kakaknya. Ia juga baru tahu kalau perusahaan yang kehilangan aset itu adalah milik suami Kakaknya.


"Ini salah paham Kak. Kenapa Kakak tidak menceritakan padaku lebih awal? Tenanglah Kak. Sedapat mungkin aku akan meluruskan semua ini. Aku tak akan diam melihatmu menderita." Marcel kemudian menutup telponnya.


Calista merasa menyesal menceritakan semua itu pada adiknya. Ia adalah wanita yang kuat, selama ini Ia bisa menanggung beban itu sendirian. Tapi entahlah, akhir-akhir ini Ia merasa sangat sensitif dan suka menagis sendiri. Ia juga mudah lelah walaupun tidak sedang berolah raga.


Selesai mengusap air matanya, Ia mendengar suara seseorang memanggil namanya sambil melambai padanya.


"Kim!" jeritnya.


Kimberly berjalan kearahnya. Hari ini Calista ingin menjamu Kim di restoran barunya. Ketika Calista hendak berdiri untuk memeluk sahabatnya itu tiba-tiba Ia merasa oleng....pandangannya berkunang-kunang. Calista segera duduk kembali sambil menutup matanya, ada keringat dingin yang membasahi dahi dan lehernya.


Kimberly memperhatikan perubahan pada sahabatnya. "Astaga Cal, kamu kenapa pucat sekali? Kamu sakit?" Tanya Kimberly sambil mengusap punggung sahabatnya.


"Aku mungkin kurang darah, Kim. Sejak tiga hari belakangan ini aku selalu merasa lemas." Calista meneguk segelas air dihadapannya.


"Cal, kamu gak boleh sakit dong. Kamu pimpinan di tempat ini. Restoranmu baru saja launching. Lha....kalau kamu sakit karena kelelahan begini kan repot nantinya." suara Kimberly terdengar khawatir.


Calista menarik nafasnya dalam-dalam.


"Jangan khawatir, paling-paling tekanan darahku turun lagi nih. Lagian ada Bu Lidya yang selalu siap menggantikanku kalau berhalangan. Ia sangat handal dan profesional. Aku telah mentrainingnya di Malaysia sebulan sebelum launching." kata Calista tersenyum dipaksa.


Ia mencoba lagi berdiri perlahan untuk membawa buku-buku laporan laptopnya kedalam. Tapi baru saja Ia mau melangkah, tatapannya berkunang-kunang lagi sehingga Ia terduduk kembali.


Calista tak dapat membantah kali ini. Ia menuruti perintah sahabatnya yang langsung melarikannya kesebuah klinik.


.


.


.


.


Setelah diperiksa beberapa menit, seorang perawat membawa hasil pemeriksaan urin Calista pada dokter yang sedang menanganinya.


"Bu Calista, hasil pemeriksaan urin menunjukkan anda sedang hamil muda."


"Apa Dok, saya hamil?" jerit Calista. Seketika tubuhnya melemas dan wajahnya terasa dingin..."Tidak mungkin....tidak mungkin..." teriaknya dalam hati.


Dokter mengangguk pasti sambil tersenyum.

__ADS_1


"Adalah hal biasa jika di tri semester pertama seorang ibu hamil mengalami pusing atau mual. Bu Calista hanya perlu tambahan zat besi agar pusing-pusingnya berkurang. Oh iya...selain vitamin, saya juga memberikan tablet anti mual. Silahkan diminum jika Bu Calista merasa mual dan susah makan. Jika tidak mual, tidak perlu diminum ya. Ini akan membantu agar Bu Calista tetap bisa punya nafsu makan demi pertumbuhan janinnya."


Calista tak berkata apa-apa lagi sampai Ia keluar dari ruangan itu. Kimberly yang sedari tadi menunggu diluar merasa kasian melihat sahabatnya yang kelihatan lemah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tatapan matanya menjadi kosong seperti tubuh yang tak bernyawa lagi. Kimberly langsung menggandeng sahabatnya untuk duduk. Ia langsung mengambil kertas resep ditangan sahabatnya dan pergi ke bagian pengambilan obat.


Setelah itu Ia memapah Calista menuju mobilnya dan kemudian melaju kearah apartemen Calista. Kimberly bertekad untuk menjaga Calista di apartemenya itu. Ia takut meninggalkannya sendiri dalam keadaan sakit.


Sepanjang perjalanan hingga sampai ke apartemennya, Calista tidak berbicara satu katapun pada Kimberly. "Ya Tuhan, masalah baru apa lagi ini? Kenapa aku terlalu bodoh pada waktu itu? Masakan aku harus hamil tanpa suami?" Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Calista. Tak terasa air matanya terasa hangat turun ke pipi.


Calista berbaring di sofa. Ia tak dapat menahan air matanya. Tangisannya semakin menjadi-jadi.


Kimberly yang melihat itu semakin bingung dan ketakutan.


"Cal, bicara padaku sekarang. Kamu sakit apa? Apakah sakitmu parah sekali."


Calista menyeka wajahnya. "Ini memalukan Kim."


"Memalukan bagaimana? Apa maksudmu?" Tanya Kimberly yang semakin kebingungan dibuatnya.


"Aku....aku.... hamil Kim." kata Calista terbata-bata.


Mata Kimberly membesar, Ia terkesiap sesaat. "Hmm.... kalau boleh aku tahu, siapa yang telah melakukannya padamu?"


Calista tak berani menatap wajah sahabatnya. Kimberly sendiri tahu kalau Calista tidak pernah sangat dekat dengan seorang pria, kecuali si pria gondrong bernama Dave yang menjadi sahabat baru Calista akhir-akhir ini.


Tapi itupun mereka sangat jarang bertemu, kalaupun bertemu hanya satu atau dua jam. Itu sih menurut cerita Calista. Tapi sahabatnya itu bukanlah tipe orang yang suka berbohong. Lagian Calista yang Kimberly kenal dengan baik bukanlah tipe wanita yang mudah menyerahkan kehormatan dirinya pada seorang pria yang baru dikenalnya. Kecuali...., pikir Kimberly.


Tiba-tiba matanya membesar dan mulutnya terbuka. Ia lalu cepat-cepat menutupnya


"Cal..... jangan bilang kalau kamu hamil dengan mantan suamimu!"


Calista semakin tertunduk. Ia malu menatap sahabatnya itu.


"Jadi benar ya...kamu dihamili Tuan Daniel? Ayo ngaku..." selidik Kimberly dengan wajah menuntut kejujuran dari sahabatnya.


"Itu sebuah kecerobohan.... aku..aku...yang bodoh. Sekitar sebulan yang lalu Danny sakit dan tak ada yang bisa menolongnya saat itu. Albert asistennya menelponku. Jadi....jadi akulah yang membawanya ke rumah sakit dan mengurusnya semalaman. Kami tidak tidur bersama malam itu karena aku tidur di sofa. Entah kenapa keesokan harinya ketika Ia sudah sembuh...kami justru lepas kontrol... dan....aduh bagaimana ini Kim?"


Kimberly hanya tersenyum. "Semua sudah terjadi. Tuan Daniel harus tahu bahwa kau sedang mengandung anaknya!'


"Tidak Kim....tolong jangan biarkan Danny tahu kalau aku sedang mengandung anaknya. Aku janji akan menyayangi anak ini tapi....jika kau membocorkannya, aku tak akan segan-segan menggugurkannya!"


Kimberly tersentak mendengar ancaman Calista. Ia lalu berjanji untuk tutup mulut.

__ADS_1


"Jangan khawatir Cal. Rahasiamu Aman ditanganku. Kalaupun nantinya Tuan Daniel tahu tentang semuanya ini, itu akan dia dengar dari bibirmu sendiri."


Calsita merasa sedikit lega mendengar ikrar sahabatnya. Ia menutup matanya. Ada kehidupan lain didalam dirinya kini yang jelas-jelas baru saja merubah hidupnya secara drastis!


__ADS_2