Contradictory Love

Contradictory Love
17 - Calista Yang Terharu


__ADS_3

Daniel meneguk minuman soda dingin yang disajikan Calista di apartemennya. Mendapat kunjungan dari kekasihnya di jam kerja adalah kesempatan yang langka.


Calista tersenyum dengan wajah penuh tanda tanya. Apa gerangan yang membuat sosok tampan ini bela-belain mengorbankan jam kerjanya hanya untuk dirinya.


"Oke, sayang. Boleh aku tahu maksud kedatanganmu di jam sibuk seperti ini?" ucap Calista sambil melihat ke arah jam besar yang menempel disalah satu dinding apartemennya. Waktu menunjukkan jam 10.15.


Daniel mendekatkan wajahnya pada wajah Calista sehingga hidung mereka bersentuhan.


"Selain aku kangen kamu, aku punya kabar baik untukmu." Daniel mengecup bibir Calista sekilas.


"Katakanlah. Aku benar-benar excited." Calista mengedip-ngedipkan matanya.


"Tadi malam aku sudah jujur tentang hubungan kita dihadapan orang tuaku, orang tua Lizbeth dan pastinya Lizbeth sendiri. Aku telah membatalkan pertunanganku dengan Lizbeth." ucap Daniel penuh semangat.


"Jadi sekarang kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Aku mencintaimu dan akan selamanya seperti itu."


Calista terharu bercampur bahagia mendengar hal itu dari mulut Daniel. Matanya berkaca-kaca.


"Kamu melakukan semua untukku?"


Daniel mengangguk mantap. "Aku tak ingin mereka lebih terluka. Walaupun menyakitkan setidaknya aku sudah jujur akan alasanku membatalkan pertunangan itu.

__ADS_1


Alasan pertama, karena aku tidak pernah menginginkan pertunangan tanpa rasa cinta. Alasan kedua, karena aku sudah menetapkan pilihanku yaitu kamu, Sayang. Aku berhak bahagia bukan?"


Daniel mengusap mata Calista yang agak lembab karena air mata keharuan.


"Calista... menikahlah denganku sebelum kamu kembali ke Taiwan."


Calista terkejut sampai mulutnya agak terbuka. Ia tak dapat berkata-kata lagi.


"Aku tahu ini mungkin terkesan terburu-buru. Kita belum terlalu saling mengenal dengan dalam. Tapi... aku tak akan sanggup membiarkanmu pergi tanpa ikatan resmi. Aku ..aku...tak akan sanggup bila..." ucapan Daniel terhenti seketika karena Calista telah membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Daniel membalas ciuman Calista dengan lembut.


Seketika Daniel dan Calista terperanjat mengetahui bahwa Kimberly sedang berdiri dihadapan mereka dengan tangan yang sedang menutup mulutnya dan mata yang membesar.


"Tuan Daniel?" Pekik Kimberly tak percaya.


Daniel dan Calista terlihat salah tingkah, mereka kehabisan kata-kata.


Semenit kemudian Daniel bangkit dari sofa.


"Aku permisi dulu." ucap Daniel kemudian menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Calista menatap Kimberly yang kebingungan.


"Jangan katakan kalau kau telah memenangkan hati Tuan Daniel, Cal." ucap Kimberly penuh selidik.


Calista hanya menunduk. Ia kemudian menatap Kimberly dengan tampang seperti pencuri ayam yang sedang diinterogasi polisi.


"Ayo, katakan padaku. Apakah kalian berkencan?" Kimberly semakin membuat Calista tersudut.


"Apakah kalian saling jatuh cinta?"


"Hahaha... ternyata benar perkiraanku kalau pesonamu pasti mampu meluluhkan Big Boss."


Calista menarik nafas dalam-dalam. "Semua yang kau tanyakan itu benar... aku terperangkap cintanya. Aku... aku... ah sudahlah. Lagian kenapa kamu bisa kemari pada jam kerja?" Tanya balik Calista mengalihkan pembicaraan.


"Dokumen pentingku kelupaan disini tadi malam gara-gara keasyikan nonton Drakor."


Kimberly berjalan kearah meja makan dan mengambil mapnya yang masih tergeletak disana. Ketika hendak melangkah pergi, Ia membalikkan badannya, menatap Calista dan berkata, "Ingat, kau masih berhutang cerita padaku. Aku mau dengar yang sedetil-detilnya." Setelah mengucapkan kalimat tersebut Kimberly menghilang dibalik pintu.


Calista membisu. Menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar.


"Menikah?" Kemudian Ia tersenyum sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2