Contradictory Love

Contradictory Love
26 - Tawaran Marcel


__ADS_3

Menjelang petang di Cafe Brilliant, Marina Bay.....


Terlihat dua orang bersaudara itu sedang mengobrol dengan santai sambil sesekali tertawa.


"Katakan padaku, kenapa kamu suka pakai nama-nama samaran jelek itu huh? Dulu nama Ujang, kemudian Berry, dan sekarang apa lagi?" ucap Calista disambut tawa geli pria cute didepannya.


"Kakak.... kamukan sangat mengenalku. Aku males banget identitasku yang sebenarnya diketahui banyak orang apalagi perusahaanku sedang bagus-bagusnya. Semua meeting dan negosiasi sudah aku atur sedemikian rapi tanpa aku harus hadir disana. Semua aku wakilkan pada beberapa orang kepercayaanku. Entahlah, menurut dokter Liem yang menangani aku, kayaknya aku mengidap suatu phobia tertentu yang disebut social anxiety disorder atau fobia sosial."


"Marcel, aku mengerti ketakutanmu. Kamu paling takut berhadapan dengan orang baru.


Sejak kecil kamu memang sudah begitu. Aku harap kamu bisa mengikuti terapi dengan baik sehingga kamu bisa berangsur-angsur sembuh. Yah... walaupun mungkin keberhasilannya hanya dua puluh persen, mengingat hal ini sudah berlangsung lama." wajah Calista terlihat mengkhawatirkan adiknya.


Marcel menggelengkan kepalanya. Ia sendiri sudah pesimis dengan kesembuhan dirinya. Jika ditempat ramai, Ia pasti akan sedapat mungkin tidak mengekspos wajahnya. Ia akan memakai topi dan sunglasses dan juga jacket seperti saat ini.


"Oh ya Kak, selamat ya atas pernikahanmu. Aku turut bahagia. Aku tak menyangka secepat ini kamu menikah. Aku pikir wanita keras sepertimu akan berakhir jadi perawan tua he...he...he."


Mendengar kalimat terakhir adiknya, Calista tersenyum sinis. "Awas ya kamu. Setidaknya aku sudah satu langkah didepanmu dalam hal jodoh, walaupun aku belum sesukses kamu dalam hal pekerjaan."

__ADS_1


Marcel tertawa kecil. Kakaknya adalah satu-satunya wanita tempat Ia berbagi tentang banyak hal karena Calista adalah sosok yang paling jago menjaga semua rahasia tentang keberadaannya.


"Marcel, katakanlah sekarang, pertolongan apa yang kamu butuhkan dariku. Apakah menyangkut modal? atau..." Calista menggantung pertanyaannya.


"Oh iya Kak, begini. Aku memperoleh peluang dengan sebuah perusahaan besar di Jakarta. Dari hasil negosiasi orang kepercayaanku, kami memiliki kesempatan besar untuk memperoleh beberapa aset dari perusahaan itu dikarenakan perusahaan itu sampai sekarang belum mengembalikkan bagian yang menjadi hak kami. Aku sudah bertemu dengan seorang yang menjadi perwakilan mereka. Katanya sih dana yang seharusnya sudah ditransfer ke perusahaan kami mengalami kendala yang serius. Bulan depan adalah jatuh temponya."


Calista mengernyitkan dahinya dan mengangguk pelan. "Trus, dibagian mana aku harus membantumu?"


"Nah, begini Kak. Aku orangnya tidak sepintar dan sejeli kamu. Aku ingin masukan darimu tentang cara-cara penarikkan aset perusahaan lain yang tentunya sesuai isi perjanjian jika terjadi resiko. Aku belum begitu paham karena ini baru sekali terjadi pada perusahaanku. Aku juga ingin kamu membantuku menghitung seberapa banyak aset yang harus aku tarik jika disesuaikan dengan dana kami yang belum terbayarkan."


"Oke, begini saja. Karena besok pagi aku harus segera terbang ke Taiwan, kamu kirimkan saja berkas-berkas pentingnya ke emailku. Jangan lupa, taruh password disetiap dokumennya dan beritahukan aku kemudian. Beri aku waktu seminggu untuk mempelajarinya karena aku juga masih harus bekerja sampai dua bulan kedepan."


Marcel tersenyum senang. Ia menjabat tangan kakaknya erat.


"Oh ya Kak, jika semua berjalan lancar, aku pasti ingat padamu. Kamulah orang pertama yang layak memperoleh komisi yang besar dariku. Hitung-hitung untuk hadiah pernikahanmu."


"Gak usah repot, aku membantumu dengan tulus. Gak dapat komisi juga gak apa-apa kok. Yang penting kamu jangan sampai merugi. Perusahaanmu baru seumur jagung, sayang jika harus collapse." Calista menepuk bahu adiknya.

__ADS_1


"Makasih ya Kak. Kamu memang the best! Besok pagi jam berapa ke bandara? Nanti aku yang antar." Tanya Marcel.


"Pesawatku take off jam 09.00. Apa kamu yakin bisa datang jam tujuh tepat di hotelku?"


Marcel mengangguk mantap. "You can count on me!"


Dua orang bersaudara itu terus bercengkerama hingga tengah malam. Banyak hal yang mereka bahas terutama yang berkaitan dengan kehidupan mereka tiga tahun belakangan. Itu semua dikarenakan mereka sangat jarang bertemu.


Mereka adalah saudara kembar yang jarang bertengkar. Mereka saling mendukung satu sama lain. Jarak yang memisahkan tidak pernah melunturkan hubungan baik diantara keduanya.


 


**MARCEL CHIU**


 


__ADS_1


__ADS_2