
Calista mengedip ngedipkan matanya. Ada yang terasa berdenyut diatas kepalanya. Jarinya meraba raba dan mendapatkan kepalanya diperban. Ia berusaha mengingat kejadian semalam. Terakhir yang ia ingat bahwa disana ada Daniel yang datang menolongnya dari dua pria brengsek. Selebihnya, ia tidak ingat lagi.
Calista menatap situasi disekelilingnya. Warna hitam, abu-abu dan putih mendominasi dinding kamar itu. Yang jelas ini bukan kamarnya. Calista berusaha duduk dan mulai mengedarkan tatapannya. Tiba tiba ia setengah berteriak namun cepat-cepat menutup mulutnya.
"Tuan Daniel!"
Mendengar namanya disebut, Daniel terkejut dan langsung terduduk. Ia menatap sosok disampingnya yang masih menutup mulutnya dengan mata membesar.
Daniel langsung tersadar akan kejadian semalam. Ia menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Nona Calista...jangan salah sangka dulu. Aku tidak berbuat aneh aneh padamu. Aku terpaksa membawamu ke apartemenku Karena aku tidak tahu alamatmu. kamu pingsan semalam. Masakan aku meninggalkanmu di jalan?" ucap Daniel berusaha menjelaskan kejadian semalam.
Calista masih mematung. Ia tak dapat berkata-kata. Tangannya menyentuh kemeja yang dipakainya dengan mimik antara ingin marah atau menangis.
"Oh itu.." Seolah Daniel mengerti bahasa tubuh Calista. "Blusmu basah dengan bir dan juga penuh bercak darah dari kepalamu. Aku tak ada pilihan selain menggantinya dengan kemejaku." Daniel menjelaskan tanpa menatap Calista, ia sedikit gugup sekaligus pasrah dengan apa yang akan Calista katakan padanya.
Calista masih kebingungan. "Jadi...ka...kamu sudah melihatnya?" Tanya Calista dengan ragu-ragu sambil menunjuk kearah pa*****anya.
Daniel menggaruk lagi kepalanya sambil mengangguk lemah. "Percayalah, itu karena terpaksa. Jangan khawatir, aku tidak menyentuhnya sedikitpun!"
Mendengar itu, Calista menjadi sangat malu. Ia berusaha menutup rasa malunya dengan berpura-pura bersikap seolah-olah itu hal yang biasa.
__ADS_1
"Anggap semua ini tidak pernah terjadi. Aku memakluminya. Kamu hanya berusaha menolongku. Bagaimanapun aku berterima kasih padamu. Tapi tolong. Anggap kejadian semalam tidak pernah terjadi." tegas Calista sambil berdiri dari ranjang.
"Boleh pinjam kamar mandimu? Aku ingin bersih-bersih."
Daniel menganggukkan kepalanya sambil menunjuk sebuah pintu didalam kamarnya.
"Nona Calista, dilemari itu ada baju-bajuku. Pilihlah mana yang bisa kamu pakai." ucap Daniel sambil keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan.
Calista sudah selesai membersihkan badannya. Ia terpaksa memakai kemeja lain milik Daniel yang tentunya kedodoran. Tidak ada pilihan lain!
Calista keluar dari kamar Daniel dan mendapati meja makan yang sudah tertata dengan jus jeruk, susu dan juga beberapa tangkup pancake yang sudah disiram madu dan strawberry diatasnya. Calista mengedarkan pandangannya. Ia tidak mendapati Daniel.
Calista menuju bagian ruangan terbuka dengan pemandangan taman dan kolam minimalis. Ia melihat Daniel disana sedang duduk dengan kemeja dan short biru yang dipakai tidur semalam. Kemejanya tidak dikancingkan lagi karena udara diluar cukup hangat, sehingga Calista bisa melihat dada dan perut Daniel yang terkesan sexy dimatanya.
Menyadari kehadiran Calista, Daniel berdiri.
"Sarapanlah dulu sebelum kamu pulang. Aku sudah menyiapkannya." ucap Daniel lembut.
Melihat mimik Calista yang kelihatan sungkan, Daniel bergerak, menarik tangan Calista dan beranjak kedalam rumah.
__ADS_1
"Ayo, aku temani makan." tutur Daniel singkat.
Calista hanya mengikuti kemauan Daniel. Entah apa yang membiarkannya tidak melepaskan tangan Daniel yang menuntunnya kemeja makan. Mereka menikmati sarapan dalam diam.
"Aku antarkan kamu pulang Nona Calista. Ini Hari sabtu jadi aku punya waktu santai." Daniel berucap ketika Calista sudah bersiap untuk pulang. Calista tidak menolak tawaran itu. Ia hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa.
Sesampai di depan gedung apartemennya, Calista melepas seat belt yang membelenggunya. Ia menatap Daniel Dan berucap pelan.
"Terima kasih Tuan Daniel. Ingat, semua ini tidak pernah terjadi."
Daniel tersenyum tipis dan mengangguk. Ketika hendak turun, Calista membalikkan lagi badannya menatap Daniel dengan penuh selidik.
"Benarkan kamu tidak ngapa-ngapain aku, Tuan Daniel?"
Seketika wajah Daniel memucat. Ia menunduk sesaat dan kemudian menatap wajah Calista.
"Percayalah, kamu masih utuh Nona Calista."
Mendengar itu Calista tersenyum kecil dan kemudian keluar serta menutup pintu mobil itu.
Daniel menjalankan mobilnya sambil terus berpikir dan berpikir akan ketidak jujurannya.
__ADS_1
"Calista, seandainya kamu tahu apa yang sempat aku lakukan padamu..... aku benar-benar kehilangan kontrol!"
Daniel memukul stirnya sambil terus melaju dengan hati yang tidak tenang.