Contradictory Love

Contradictory Love
29 - Rencana Calista


__ADS_3

Ada kebahagiaan yang Calista rasakan karena tinggal sepuluh hari lagi Ia akan menyelesaikan semua pekerjaannya dan berpamitan dengan semua karyawan di perusahaan Sanyoin Group.


Penghargaan yang diberikan oleh pimpinannya sungguh diluar dugaan. Kompensasi, bonus dan pesangon yang Ia peroleh dari bosnya itu membuat Calista sempat hilang akal, akan diapakan uang sebanyak itu. Padahal suaminya hampir setiap minggu menggemukkan rekeningnya walaupun Calista tidak pernah memintanya, bahkan menggunakannya hanya untuk keperluan yang benar-benar perlu.


Calista mengambil buku catatannya. Kali ini Ia tidak menulis menggunakan bahasa Cina disana, melainkan bahasa Inggris. Ia lelah saja menulis dalam kanji.


Berbagai rencana mulai Ia susun. Ia berencana menyumbangkan sepuluh persen dari apa yang baru saja Ia peroleh untuk yayasan amal penderita kanker dan juga anak-anak autis.


Ia mengambil kalkulator dan jari telunjuknya mulai menekan disana sini. Angka-angka muncul dilayar dan sesekali Ia menulisnya.


Calista juga menuliskan rencananya untuk memulai usahanya. Ia ingin seperti adiknya, Marcel, yang sudah sukses di usianya yang masih sangat muda.


Membuka restorant franchise adalah impiannya sejak lama. Baginya bisnis kuliner tidak pernah sepi pengunjung. Calista juga mulai memikirkan konsep restorannya agar pengunjung betah berlama-lama untuk sekedar ngobrol.


Tut...tut...hapenya bergetar. Tidak ada nama tertera disana. Hanya nomor panggil dengan kode negara Singapura. Calista tersenyum, Ia tahu siapa penelpon tersebut. Pastilah adiknya karena Ia selalu berganti-ganti nomor.

__ADS_1


"Halo yang disana." Sapa Calista. Terdengar suara diseberang, "Hai Kak. Gimana kabar disana?"


"Aku baik. Mama dan Papa juga baik-baik aja. Oh iya, bagaimana dengan perusahaanmu. File-file dan immediate responses yang harus kamu lakukan dan sudah aku kirimkan tiga minggu yang lalu apakah membawa hasil?"


Terdengar suara Marcel tersenyum.


"Iya Kak. Makasih banyak atas bantuanmu. Dua hari lagi perusahaanku akan menarik tiga aset dari perusahaan tersebut. Mereka tak bisa lagi berbuat apa-apa karena perjanjian yang ada harus dipatuhi secara profesional. Aku bermaksud menguangkan semua aset itu karena semuanya berada di Jakarta. Aku gak mau repot aja mengurusnya. Uangnya akan aku gunakan untuk membiayai pembukaan cabang baru di Taiwan supaya aku punya alasan untuk pulang kapan saja aku mau."


"Wah, adikku ini memang visioner banget. Aku bangga banget sama kamu."


"Mudahan-mudahan jika tidak ada halangan, kayaknya dua minggu depan." ucap Calista sambil matanya tetap pada catatan kecil dibukunya. "Lumayan banyak yang harus aku siapkan karena aku akan segera menetap untuk seterusnya disana."


"Kak, nanti sebelum ke Indonesia, nginap lagi yah semalam disini. Aku ingin mengatur komisi yang sudah aku janjikan. Aku mau ketemu langsung supaya clear."


Calista tersenyum. "Jangan lupa ya memberi derma supaya ada juga andilmu dalam membantu orang yang membutuhkan."

__ADS_1


"Jangan khawatir Kak, aku sudah merencanakan itu. Bahkan yayasannya sudah aku hubungi." Marcel diam sesaat sebelum akhirnya bertanya pada kakaknya.


"Trus, rencana kakak setelah di Indonesia mau ngapain? Jadi ibu rumah tangga atau merealisasikan impian kakak?"


Mendengar pertanyaan Marcel, Calista berpikir sejenak. "Mungkin keduanya. Aku juga mau jadi seorang ibu. Suamiku sudah memberi signal kalau dia mau segera punya anak. Tentang impian, aku masih sedang mengaturnya. Harus step by step. Aku gak mau tergesa-gesa. Persiapannya harus matang. Aku juga mau kamu bantu aku sebagai konsultan aja jika aku menemui hambatan diawal. Kamu mau kan? Tanya Calista.


"Tentu saja, Kak. Jangan sungkan. Kakak sudah banyak bantu aku. Setelah penarikan dan penjualan aset ini selesai, aku mau fokus pada terapiku. Aku juga mau dong punya istri nantinya. Buat apa susah-susah kerja keras jika nantinya gak punya keturunan. Bisa-bisa Mama sama Papa menjodohkanku he..he..he."


Calista ikut tertawa mendengar kalimat terakhir adiknya. "Aku dukung kamu untuk sembuh, dan ingat, berusahalah untuk berhenti merokok supaya aku bisa jenguk kamu di apartemenmu."


"Aku gak janji Kak, tapi aku akan berusaha untuk itu. Baiklah, aku tutup dulu Kak. Jangan lupa untuk menghubungiku dinomor ini jika sudah sampai disini ya. Aku gak akan ganti nomor dulu untuk sebulan kedepan."


"Baiklah, jaga kesehatan. Bye." Calista menutup percakapan dengan adiknya.


Sesaat kemudian Ia sudah sibuk lagi mencatat. Lumayan banyak yang harus Ia persiapkan untuk tinggal di Indonesia. Ia benar-benar sudah tak sabar lagi untuk segera bertemu suaminya. Rasa rindu yang Ia rasakan semakin menyiksa hari demi hari.

__ADS_1


__ADS_2