Contradictory Love

Contradictory Love
50 - Kehilangan


__ADS_3

Dengan perasaan kalut Daniel menyandarkan tubuhnya disebuah kursi di ruang tunggu IGD rumah sakit.


Para dokter dan perawat yang menangani istrinya telah menghabiskan waktu yang cukup lama didalam sana dan hal itu membuat Daniel semakin khawatir dan sangat bersedih.


"Ya, Tuhan....tolong istri dan anakku. Aku tak ingin kehilangan mereka." bisiknya dalam hati sambil terus berdoa agar para medis dapat menolong keduanya.


Beberapa menit kemudian, terlihat Kimberly yang setengah berlari ke arah Daniel.


"Tuan Daniel... bagaimana keadaan sahabatku dan juga bayinya?" Tanya Kimberly pada Daniel dengan nada panik dan air mata yang mulai turun dipipinya.


Daniel masih membisu sambil menggelengkan kepalanya. Ia meremas rambutnya dan menghembuskan nafas dalam dalam.


Kimberly terduduk lemas disamping Daniel. Ia tahu kalau Bossnya sedang dalam kecemasan.


Tiba-tiba pintu ruangan dimana Calista sedang dirawat terbuka, dan seorang perawat keluar mendapatkan Daniel yang telah berdiri dengan wajah tak karuan.


"Pak Daniel, silahkan masuk." kata perawat itu.


Daniel pun langsung masuk mendapatkan istrinya yang masih terlelap dengan wajahnya yang sangat pucat.


Seorang dokter mendekati Daniel. "Benturan yang dialami istri anda cukup keras, terlalu banyak darah yang keluar. Maaf, kami tak dapat menyelamatkan bayinya. Istri anda sudah keguguran. Tapi kondisinya sudah stabil sekarang. Tinggal bagaimana anda membantu memulihkan mentalnya nanti. Untuk sementara istri anda dirawat inap dulu sampai dua hari kedepan. Ia masih sangat lemah. Beberapa menit lagi kami akan memindahkan istri anda ke kamar perawatan." Setelah mengucapkan itu, para crew medis itu meninggalkan Daniel dan istrinya.


Mendengar itu Daniel tak mampu berkata-kata lagi. Ia benar-benar merasa terpukul harus kehilangan anak pertamanya sebelum dilahirkan ke dunia.

__ADS_1


Daniel menatap wajah pucat itu dan mencium tangan istrinya berulang kali sambil menahan air mata kehilangan yang membuat matanya merah.


Entah berapa lama Ia berada disitu, hingga tertidur. Daniel terbangun ketika seorang perawat membangunkannya karena istrinya akan segera dipindahkan ke kamar.


.


.


.


.


Kimberly menatap wajah sahabatnya sambil sesekali membelai lembut kepala Calista yang belum juga membuka matanya.


Ia kemudian beranjak dari situ dan duduk di sofa. Kimberly ingin memberi ruang yang lebih bagi Bossnya yang sedari tadi tak mau beranjak dari samping istrinya.


Tanpa Daniel sadari mata Calista mulai bergerak dan terbuka perlahan. Ia mencoba mencari kesadarannya. Semua warna disekelilingnya hanya ada warna putih dan biru muda yang jelas-jelas tidak dikenalinya.


Daniel tersadar akan hal itu dan segera membelai pipi istrinya.


"Sayang....kamu sudah sadar?" ucap Daniel lembut.


Calista menatap wajah suaminya dengan rasa bingung. Sesaat kemudian Ia sadar kalau Ia sedang berada di rumah sakit. Calista mencoba mengingat kembali kejadian yang membuatnya pingsan. Tiba-tiba matanya membesar ketika Ia teringat kembali hal terakhir yang dilihatnya sebelum pingsan. Darah! Ada darah yang keluar meleleh di kakinya!

__ADS_1


Sontak Calista menatap suaminya sambil Ia memegang perutnya dan meremasnya.


"Danny.....apa yang terjadi padaku? Bagaimana dengan anak kita? Apakah dia baik-baik saja?" jerit Calista dengan wajah ketakutan dan suara yang bergetar.


Daniel tertunduk sesaat kemudian menatap wajah istrinya dengan muka yang sarat kesedihan.


"Sayang.... anak kita tak dapat diselamatkan. Maafkan aku. Kamu keguguran." jawab Daniel dengan suara yang lemah.


Calista menangis dipelukan suaminya. Melihat itu, Kimberly juga menangis, Ia juga sangat merasa kehilangan seperti yang sedang dirasakan dua insan dihadapannya.


Daniel terus berusaha menghibur dan menguatkan istrinya.


"Sayang..." bisik Daniel. "Jangan sedih ya... kita masih bisa bikin anak yang banyak kok. Sebanyak yang kamu mau."


Calista hanya mengangguk pelan mencoba menguatkan dirinya. Bagaimanapun kehilangan itu tak akan bisa kembali lagi.


Dalam kesedihan itu, Daniel terus mendekap istrinya. Ia bahkan tak peduli bersesak-sesakan tidur diranjang pasien tempat istrinya terbaring. Calista sendiri merasa lebih nyaman dalam dekapan suaminya.


Daniel hanya ingin istrinya bisa kuat kembali untuk menjalani hari-harinya seperti sedia kala.


.


.

__ADS_1


.


(Beberapa hari setelah insiden itu, Laras harus menjalani masa tahanan karena tuntutan Daniel.)


__ADS_2