Contradictory Love

Contradictory Love
39 - Sahabat Dari Masa Lalu


__ADS_3

Pagi itu sekitar pukul 07.00 di Wikatama Group, suasana belum ramai. Baru ada beberapa pegawai yang terlihat. Petugas cleaning service juga masih sibuk disana sini.


Daniel keluar dari lift yang menuju ke lantai dimana ruangannya berada. Suasana masih agak legang dan tentunya sepi. Daniel menuju ke ruangannya. Ia menyalakan komputer dan mulai bekerja. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah amplop plastik berwarna biru yang masih terbungkus rapi. Ada namanya tertulis disana.


Ia membuka amplop itu dan mengeluarkan dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Seketika Ia mengerti bahwa dokumen tersebut adalah kiriman dari Calista.


Daniel membuka map pertama yang berisi berkas perceraian. Ia kemudian menarik napas dan melepaskannya dengan kasar. Matanya masih tak dapat beralih dari sebuah nama yang lengkap dengan tanda tangan disitu. Kini Ia tahu kalau keputusan semua ada ditangannya. Calista telah setuju menandatangani berkas itu dan kini tinggal menunggu tanda tangan dirinya dan semuanya selesai. Daniel memijat dahinya. Ada perasaan tak rela tapi juga perasaan terluka. Semuanya bercampur aduk disana. Sejenak Ia ragu apakah keputusannya sudah benar.


Ia meraih pena didekatnya dan mencari namanya di dalam berkas itu. Ketika hendak membubuhkan tanda tangannya disitu, Ia berhenti dan mengurungkan niatnya. "Nanti saja." gumamnya. Ia kemudian menutup berkas itu dan beralih pada map kedua.


Ternyata Calista juga mengembalikan semua berkas-berkas hibah kepemilikan beberapa perusahaan yang Daniel berikan kepadanya. Tak satupun yang ditanda tangani Calista. Ia memasukkan kembali semua berkas-berkas itu dan ketika Ia mengangkat amplop plastik itu, sebuah benda jatuh dari dalamnya. "Kunci rumah? Kau juga tak menginginkannya? Sombong sekali kau Calista. Gengsi ya setelah ketahuan kedokmu? Kau pasti malu bukan? Ternyata kau masih punya sedikit harga diri." gumam Daniel sambil tersenyum sinis.


Daniel menuju ke lemari brankasnya, memutar nomor kodenya dan menyimpan semua berkas dan kunci rumah itu disana.


Ia terdiam sesaat mengingat kejadian sore kemarin. Daniel berada pada taraf kebingungan akan perasaannya pada Calista. Disatu sisi Ia masih punya perasaan pada makhluk cantik itu, disatu sisi lagi rasa sakit atas pengkhianatan Calista pada dirinya benar-benar membuatnya hampir gila!


Jam telah menunjukkan pukul delapan lebih lima menit ketika Albert mengetuk pintu. Daniel yang sedari tadi hanya melamun, tersentak dengan bunyi ketukan tersebut.


"Ya, masuk."


"Selamat pagi, Pak. Hari ini Ada seorang tamu yang mau bertemu, katanya teman lama Bapak dulu. Dia belum buat janji jadi saya tanya dulu apakah Bapak bersedia atau tidak. Kebetulan agenda Bapak masih kosong sampai jam makan siang nanti."


"Teman lama? Siapa namanya?" Tanya Daniel penasaran.

__ADS_1


"Namanya Miss. Larasati Tanujaya, Pak."


Daniel tersenyum seketika. "Laras?....biarkan dia masuk, aku ingin bertemu dengannya."


Albert pun keluar kemudian tak lama Ia sudah muncul dengan seorang wanita cantik yang mengikuti dibelakangnya. Setelah mempersilahkan tamu itu masuk, Albert pun keluar.


"Laras? Ya ampun....sudah berapa lama ya?" ucap Daniel sambil berpelukan dan bercipika-cipiki."


Wanita yang dipanggil dengan nama kecil Laras itu tersenyum manis. "Mungkin sekitar tujuh tahun ya." ucap Laras dengan senyum merekah.


Laras adalah sahabat baik Daniel sewaktu masih berkuliah di Arizona, USA. Mereka sempat menjalin kasih tapi tidak lama hanya sekitar enam bulan. Hubungan mereka sebenarnya tidak pantas dibilang kekasih karena Daniel tipe pria yang lebih mementing belajar waktu itu. Maklumlah, Daniel waktu itu hanya mengandalkan beasiswa untuk membiayai kuliah masternya dan juga biaya hidup sehari-hari.


Berbeda dengan Laras. Ayahnya seorang diplomat jadi secara ekonomi orang tuanya sangat mampu membiayai hidupnya. Itulah mengapa Daniel juga agak minder berpacaran dengan Laras hanya karena Ia tidak sanggup untuk selalu mengajak Laras jalan-jalan atau nonton bioskop sedangkan makannya sehari-hari hanya bergantung dari beasiswa.


"Danny, kamu hebat ya sekarang. Aku gak pernah menyangka seorang mahasiswa kutu buku kayak kamu, sekarang sudah menjadi pengusaha tersukses nomor dua di Asia Tenggara."


Daniel tersenyum sumringah mendengar pujian dari Laras. "Kamu sendiri bagaimana sekarang?" Tanya Daniel.


Laras tersenyum sekilas. "Aku sedang membangun sebuah cabang bisnisku disini. Bisnisku bergerak dibidang penyediaan alat-alat berat kostruksi. Pusatnya ada di Batam. Sejak aku disini, aku mendengar tentangmu. Kamu sangat populer di kalangan semua pengusaha. Jadi... aku memutuskan untuk mencarimu."


"Semoga usahamu sukses ya." ucap Daniel dengan penuh ketulusan.


"Sebenarnya..." lanjut Laras, "untuk menjadi sukses sepertimu, aku ingin meminta bantuanmu sebagai teman dan mantan pacar tentunya."

__ADS_1


Daniel tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Laras. "Sebutkan saja, bantuan apa yang kamu perlukan."


Laras menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Daniel. "Ajari aku mengelola bisnis. Biarkan aku menjadi seorang trainee untuk magang padamu langsung. Aku janji tidak akan merepotkanmu."


Daniel tersenyum sambil mengangguk tanda setuju. Baginya membantu sahabat lama bukanlah sesuatu yang merepotkan.


"Anyway, apakah kamu sudah menikah, Danny?" tanya Laras yang sontak membuat Daniel salah tingkah.


Daniel tersenyum kecut. "Iya, aku sudah menikah beberapa bulan lalu tapi....pernikahanku dan istriku sudah diujung tanduk. Pernikahan kami sedang dalam proses perceraian."


Mendengar itu Laras tersenyum dalam hati. Ia lega juga mendengar pengakuan Daniel. Dengan wajah yang dibuatnya sedih, Laras berucap, "Maafkan aku Danny. Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku turut prihatin dengan rumah tanggamu."


"It's okay. I'm fine. Kamu sendiri sudah menikah?" Tanya balik Daniel.


"Aku menikah dengan seorang bule Amerika tiga tahun yang lalu. Namanya Andrew Warren. Tapi... Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Sejak saat itu aku memutuskan untuk memulai bisnisku di tanah air agar aku dapat melupakan peristiwa itu."


"Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa suamimu." ucap Daniel dengan pelan.


"Tidak apa-apa, semua sudah takdir yang Kuasa. Begitu pula pertemuan kita ini setelah tujuh tahun, bagiku adalah sebuah takdir."


Mereka masih terus mengobrol tentang masa lalu mereka sampai jam makan siang. Daniel menawarkan makan siang bersama dan Laras menyambutnya dengan senang hati.


Sejak pagi sampai siang hari itu, dihabiskan mereka bersama-sama mengenang masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2