Contradictory Love

Contradictory Love
28 - Kejanggalan


__ADS_3

Sebulan berlalu sejak kepergian istrinya kembali ke negara asalnya, Daniel benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Terkadang Ia harus pulang larut karena terpaksa dan tidak punya pilihan.


Betapa disaat-saat sulit seperti ini, Ia sangat mendambakan kehadiran istrinya untuk memberinya kekuatan ekstra.


"Calista... aku benar-benar merindukanmu." bisik Daniel pada dirinya. Ia menarik nafasnya dengan berat dan kemudian menghembuskannya dengan cepat.


Daniel benar-benar kesepian. Kalaupun Ia butuh teman bicara, Ia hanya akan menelpon Billy untuk fitness atau berenang bersama sambil mengobrol. Billy juga sudah agak jarang dapat menemaninya. Sahabatnya itu masih sedikit kecewa sejak tahu Daniel menikahi wanita yang diincarnya. Ia lebih kecewa lagi ketika Daniel tidak mengundangnya di pesta pernikahannya dengan Calista.


Tapi hubungan pertemanan mereka tidak menjadi renggang hanya karena masalah wanita. Yang membuat Billy agak jarang keluar bersama Daniel adalah karena Ia sedang jatuh cinta dengan seorang wanita bule keturunan Finlandia. Billy benar-benar mabuk kepayang kali ini sehingga waktunya lebih banyak Ia habiskan untuk si bule itu. Daniel juga memaklumi hal itu. Ia tak ingin mengganggu sahabatnya hanya karena egonya.


Daniel kembali berkonsentrasi pada kertas-kertas dihadapannya. Ia terus membaca dan membaca sambil sesekali mencocokan apa yang tertera disana dengan laporan elektronik dari auditor independennya di layar komputer. Ia memijit kepalanya yang agak berdenyut. Ada sebuah kejanggalan yang masih samar-samar disana. Tapi Ia masih belum menemukan titik terangnya.


Daniel terus mencari dan mencocokkan laporan demi laporan dengan hasil audit yang ada.


Tiba-tiba terdengar ketukan dan Albert masuk dengan memegang sebuah tablet ditangannya. "Maaf Pak, ini adalah data-data yang Bapak minta tentang perusahaan Way of Life.


Daniel menerima tablet dari tangannya dan mulai membaca sambil sesekali menggeser layar didepannya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Sejak kapan kita mempertaruhkan aset aset kita sebagai jaminan?" Daniel setengah berteriak. Albert yang berdiri didepan mejanya hampir-hampir terlempar dari tempatnya. Ia takut berbicara.


"Albert, tolong panggilkan menejer Rusli kesini. Segera!!" perintah Daniel.


Albert mengangguk tanpa bicara. Ia pun buru-buru keluar dari ruangan itu.


.


.


.


.


"Jadi...bisa kan kamu atur pertemuanku dengan penyelidik itu? Aku akan mengirimnya ke Singapura untuk mencari data-data yang aku perlukan." suara Daniel menahan emosinya.


"Jangan khawatir Pak. Saya akan urus pertemuannya sesegera mungkin." ucap menejer Rusli.

__ADS_1


"Sesegera mungkin? Aku maunya hari ini, sebentar malam pas pulang kerja." suara Daniel meninggi.


"Ta...tapi Pak Daniel, saya harus minta konfirmasinya dulu." kata menejer Rusli tergagap.


"Ya sudah! Tunggu apa lagi. Kamu telpon dia sekarang! Bilang dia silahkan menuliskan jumlah yang dia mau! Kita tidak punya waktu lagi..."


"Baiklah Pak." Menejer Rusli langsung mengeluarkan hapenya dari kantong celana dan semenit kemudian terdengar suara diseberang.


Daniel mengawasi menejer Rusli yang sedang bercakap-cakap ditelepon dengan tatapannya yang tajam.


Beberapa saat kemudian menejer Rusli berhenti sejenak, menyuruh orang diseberang untuk menahan percakapan mereka.


"Pak, Daniel, dua ratus lima puluh juta plus fasilitas akomodasi selama di Singapura. Bagaimana?


"Setuju!" jawab Daniel singkat.


Menejer Rusli kembali berbicara di telepon dan kemudian mengakhiri perkapan mereka.

__ADS_1


"Pak Daniel, Pub Starfish jam 10 malam ini. Pria berkaos kotak-kotak biru putih dan topi putih bertuliskan 'Las Vegas'.


Daniel mengangguk. Setalah itu, menejer Rusli keluar dari ruangan itu.


__ADS_2