
Calista memandang sepasang suami istri dihadapannya dengan perasaan yang Ia sendiri tak bisa menggambarkannya.
Bagaimanapun dua orang dihadapannya adalah orang tua Daniel. Wajar jika Calista merasa sedikit gugup dan grogi.
Calista berusaha untuk tetap tersenyum ramah karena baik Tuan Waraney Permadi maupun Nyonya Alejandra Nielson sedari tadi kelihatan ramah kepadanya.
Daniel memulai percakapan untuk mengatasi suasana canggung yang tercipta.
"Ma... Pa...Aku ingin memperkenalkan kekasihku pada kalian. Seperti yang sudah pernah aku ceritakan, namanya Calista Chiu."
Daniel menggenggam jemari tangan kanan Calista kemudian menciumnya lembut.
"Selamat malam, Om...Tante. Senang mengenal kalian berdua." ucap Calista lembut.
Baik Waraney maupun Alejandra tersenyum sambil mengangguk.
"Jadi, Nak Calista tinggalnya di Taiwan?" Tanya Alejandra sambil menaikkan kacamatanya.
"Iya Tante. Saya lahir disini tapi pada umur delapan tahun keluargaku memutuskan untuk menetap di Taiwan karena papa orang Taiwan dan punya bisnis disana." Jawab Calista sambil berusaha menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Bahasa Indonesiamu lancar banget ya? Waraney menimpali.
Calista tersenyum malu mendapat pujian.
"Mama aku selalu berbicara pakai Bahasa Indonesia sehari-sehari kalau kami dirumah. Papaku juga sudah bisa berbahasa Indonesia walaupun dengan accent Taiwan. Jadi kalau Papa ngomong Indonesia, kedengaran lucu ditelinga kami"
Waraney, Alejandra dan Danielpun tertawa kecil mendengar jawaban Calista.
Waraney menatap anaknya dengan wajahnya yang kelihatan sungguh bijaksana dan berkharisma.
"Anakku Daniel. Baik Papa maupun Mamamu tidak pernah melarangmu untuk menentukan pilihanmu. Kamulah yang akan menjalaninya. Selama kalian benar-benar saling mencintai, kami merestuinya. Tapi ingat, jangan teruskan hubungan kalian jika rasa cinta diantara kalian hanya untuk sesaat."
Mendengar penuturan orang tua Daniel, ada rasa bahagia yang menyusup dalam hati Calista. Orang tua kekasihnya sungguh bijaksana dan sangat mendukung pilihan anaknya.
Daniel tersenyum bahagia. Ia kemudian merangkul bahu Calista.
"Makasih Pa....Makasih Ma. Daniel akan ingat semua nasihat itu. Jadi..... apakah Papa dan Mama merestui jika aku menikahi Calista dalam waktu dekat?"
Nafas Calista seakan tercekat mendengar kalimat terakhir kekasihnya. Bibirnya kelu Dan tak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Daniel dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"Semua terserah kalian, sayang." ujar Alejandra sambil tersenyum. "Lagian kamu keburu tua nanti. Buat apa punya uang banyak tapi gak punya istri dan anak?"
Baik Daniel maupun Calista tertawa malu mendengar penuturan Alejandra.
"Dengar tuh Sayang, kita sudah direstui jadi malam ini aku ingin melamarmu didepan orang tuaku." Daniel mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari saku jasnya. Ia telah menyiapkan cincin tersebut sehari setelah Ia membatalkan pertungannya dengan Lizbeth. Ia sudah bertekad untuk melamar Calista di depan orang tuanya. Ia tak mau berlama-lama mengikat Calista dalam tali pernikahan mengingat gadisnya itu sudah harus kembali ke negaranya dalam waktu dekat.
Daniel membuka kotak itu didepan wajah Calista.
"Maukah kau menjadi istriku?"
Mata Calista berkaca-kaca, antara ragu, terkejut Dan bahagia. Ia berusaha mengatur nafasnya.
"Ayo, Nak Calista. Dijawab dong." Kata Alejandra ketika melihat Calista yang masih mematung karena kaget.
"I...Iya...Saya mau." jawab Calista gugup.
Ketiga orang dihadapannya tersenyum bahagia. Daniel menyematkan cicin berlian ke jari manis Calista dan kemudian mengecup keningnya lembut.
Waraney dan Alejandra berdiri dan memeluk Daniel dan Calista bergantian. Suasana yang tadinya sedkit tegang diawal, kini berubah ceria.
__ADS_1