
Daniel sedang mempersiapkan diri mempelajari lagi berkas-berkas yang akan dipakai untuk rapat jam 10 dengan Calista Chiu. Hari ini dia sudah duduk serius di ruangannya sejak pukul 7 karena dia tidak ingin terlihat bodoh di depan gadis Taiwan itu yang di julukinya singa betina.
Pukul 08.30, terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Albert masuk bersamaan dengan seorang wanita anggun berambut ikal panjang yang dicat cokelat dengan dress putih hitam yang dilengkapi dengan sepatu high heels semi boots.
"Permisi Pak. Nona Lizbeth Ada disini sekarang." ucap Albert kemudian keluar dari ruangan. Lizbeth adalah tunangan Daniel, mereka baru saja bertunangan dua minggu yang lalu.
"Maaf mengganggumu, honey." ucap Lizbeth dengan lembut. Daniel tidak melepaskan pandangannya dari kertas dihadapannya. Baru beberapa menit kemudian dia menoleh ke arah Lizbeth yang sudah duduk dengan kaki disilangkan di kursi yang berada tepat dihadapan Daniel. Wanita itu tersenyum sekilas.
"Ada apa sampai datang sepagi ini, Liz?" Tanya Daniel dengan wajah datarnya.
"Aku Hanya ingin mengunjungimu. Apakah aku tidak boleh menjenguk tunanganku sewaktu-waktu? Lizbeth bertutur pelan Dan hati-hati. "Aku kangen kamu."
Daniel masih sibuk membolak balik kertas didepannya. Keheningan tercipta beberapa saat. Hanya bunyi kertas yang dibolak balik oleh Daniel, seolah menjadi musik latar diantara mereka.
"Mungkin sebaiknya aku pergi. Kamu kelihatannya sibuk sekali." Lizbeth hendak berdiri.
"Tunggulah diruanganku sampai jam 12 atau kamu bisa ngobrol-ngobrol dengan Lina, staf HRDku di ruangannya. Kita makan siang sama-sama. Aku ada meeting jam 10 sampai jam makan siang nanti." Ucap Daniel sambil membuang napasnya dengan berat.
Lizbeth kelihatan bahagia dengan ucapan Daniel. Dia sangat paham betul sifat Daniel yang benar-benar tidak romantis dan terkesan kurang memperhatikannya. Namun diajak makan siang bareng adalah kesempatan langka bagi Lizbeth mengingat Daniel selalu menomor satukan pekerjaannnya.
"Baiklah, honey. Aku ke ruangan Lina saja sambil ngobrol disana menunggu sampai kamu selesai." Lizbeth tersenyum pada Daniel dan kemudian meninggalkannya. Daniel tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya menatap tunangannya dengan ekor matanya kemudian kembali tenggelam dengan berkas-berkas dimejanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian terdengar lagi ketukan. Albert masuk dengan wajah penuh senyum.
"Permisi Pak. Tunangan Bapak kemana?" Tanya Albert was was. Daniel mengernyitkan dahinya.
"Dia sudah ke ruang HRD. Kenapa emangnya?" suara Daniel meninggi.
"Oh anu Pak. Miss Calista Chiu sudah berada disini. Apa tidak kepagian dia datang?" Albert berkata agak pelan.
Daniel mengangkat wajahnya. "Gadis ini benar-benar ulet. Apakah dia sempat sarapan sampai datang sepagi ini?" Daniel berkata dalam hati.
"Kalau dia mau, suruh saja dia keruangan saya." perintah Daniel.
"Baik Pak." Albert telah menghilang di balik pintu. Daniel merasa sedikit gugup. "Ya ampun sejak kapan aku merasa gugup berhadapan dengan singa betina itu?" Seandainya tidak menyangkut prinsip kerjanya, Daniel ingin sekali segera mengirim gadis itu kembali ke Taiwan.
"Selamat pagi Tuan Daniel, maaf sepagi ini saya datang." tutur Calista dengan senyum tipis. Daniel menatap gadis didepannya dengan pandangan tanpa ekspresi.
Rok blus hijau lumut dengan sedikit aksen yang mempertontonkan bahu putih mulusnya, membuat Calista terkesan mempesona.
Daniel mengalihkan pandangannya dari keindahan didepannya kemudian berdiri menghampiri Calista. Bau parfum lembut beraroma rose mint, membuat konsentrasinya sedikit terpecah. Sesaat kemudian dia baru tersadar atas sikapnya yang kelihatan kaku didepan Calista.
"Apa kabar anda hari ini Nona Calista?" ucap Daniel berbasa basi. Bibirnya sedkit bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"'I'm excellent. Thanks. Bolehkah saya meminta copian minutes rapat dua Hari yang lalu? Ada yang ingin saya lihat disitu sebelum rapat dimulai." ucap Calista.
Daniel mengangguk dan kemudian memanggil Albert lewat interkom. Albert muncul dengan sebuah kopian minutes dalam map berwarna kuning kehijauan.
"Terima kasih.' ucap Calista sewaktu menerimanya dari Albert.
"Saya permisi ingin duduk sambil membaca minutes ini di ruang rapat. Boleh?" Tanya Calista. Daniel hanya bisa mengangguk.
"Silahkan Nona."
Calistapun berlalu dari hadapan Daniel menuju lantai 20.
Daniel mengumpat, "Mengapa aku bisa kehabisan kata-kata didepan singa betina itu?
Arrgh..... kenapa bila dihadapannya aku yang justru jadi canggung?" Daniel meremas kepalanya. Kini konsentrasinya telah teralihkan oleh seorang Calista Chiu.
**LIZBETH**
__ADS_1