
Eveline Zentrix Glade namanya, seorang wanita cantik, menawan, pintar, punya tubuh tinggi, namun mungil. Tapi sayangnya ia terkadang bodoh ya, itulah Eveline.
Suatu hari Eveline dan teman-temannya sedang berbincang-bincang di kantin sekolahnya.
"Oh, besok mulai libur 'kan? Bagusnya kemana kita?" tanya temannya Tasya.
"Tanya, Eveline saja. Diakan punya banyak inspirasi buat jalan-jalan," ucap teman Eveline lagi, Carey namanya.
Tangan Carey masih setia mengaduk-aduk minuman alpukatnya.
"Menurut aku ya, semua tempat di London ini sudah kita kunjungi semua tapi... masih ada yang belum kita kunjungi," kata Eveline sambil menumpuk tangannya di atas meja kantin.
"Ah, yang benar kamu? perasaan sudah semua, Eve!" Tasya memajukan wajah ke hadapan Eveline.
"Tempat itu menantang nyali kita semua tempatnya sedikit seram ya, karena sudah jarang yang datang kesana dan mungkin sudah tidak ada lagi sekarang jadi hutannya tidak terurus lagi," kata Eveline.
"Tidak apa-apa ya, itukan lebih menantang nyali kita semua. Memangnya tempatnya dimana, Eve?" tanya Carey sambil menatap Eveline.
"Tempatnya di belakang kota London ini, guys!"
"Oh, itumah dekat. Tapi... setahuku tidak ada hutan disana." Sahut Carey.
"Jadi kita camping?" tanya Tasya bersemangat.
"Ada baiknya begitu kita camping!" Eveline memberi senyum manisnya.
"Yeyy! Yasudah kita pulang ke rumah buat siap-siap untuk besok," kata Tasnya dan berdiri kemudian menarik kedua tangan sahabatnya.
Kedua sahabatnya hanya menurut, selanjutnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
Eveline Pov...
Disinilah aku tinggal di rumah yang sederhana namun tampak mewah bagiku. Rumah yang bertingkat dua dan ya, aku tinggal sendiri. Aku hidup sebatang kara, orang tuaku sudah meninggal dan aku tidak tahu aku punya keluarga.
Ah, aku harus bersiap-siap untuk besok karena mulai besok aku akan camping bersama Tasya dan Carey sahabatku.
Aku hanya membawa baju dan peralatan lainnya tidak banyak yang aku bawa karena lagi pula aku tidak akan lama disana nantinya, mungkin hanya tiga hari saja tidak lebih.
__ADS_1
Setelah setengah jam lebih, aku akhirnya bisa merebahkan badan ke kasur empuk dan memeluk guling kesayanganku ini dan mulai terlelap dalam mimpi indah.
Pagi hari...
Waktu sudah menunjukkan jam 07:30 pagi, namun Eveline belum juga bangun dari mimpi indahnya.
Hingga ketukan pintu yang keras di depan pintu kamarnya terdengar.
Tok!!
Tok!!!
"Waduh, siapa sih pagi-pagi sudah ketuk pintu kamar keras banget ganggu tidur orang saja!"
Eveline bangkit dari kasur ia benar-benar geram dengan si pengetuk pintu itu.
"Eveline buka! Ini aku, Carey katanya mau pergi camping tapi jam seperti ini belum juga bangun!!" teriak Carey yang ternyata dialah yang mengetuk pintu kamar Eveline.
"Ia, masuk aku mau langsung mandi saja! Dasar tukang penyusup!"
Eveline menarik handuknya menuju kamar mandi setelah ia membuka pintu kamar untuk Carey dan Tasya.
Tasya melompat ke atas kasur Eveline dan meraih handphone Eveline.
Tidak butuh waktu lama Eveline untuk menyelesaikan mandinya, ia terlihat sudah keluar sambil menggulung rambutnya dengan handuk dan ia pula sudah selesai memakai baju.
"Kalian memang sahabat paling baik dan rajin. Oh, kalian masuk ke rumahku lewat mana?" tanya Eveline diakhir katanya.
"Habisnya kepala aku pusing lihat keadaan kamarmu yang lebih bagus disebut sarang ****," kata Carey sambil melipat kedua tangannya.
"Ya, biasa kita lewat pintu yang biasanya tidak dikuncu si pemilik rumah," jawab Tasya setelah ia menaruh handphone Eveline.
Selanjutnya ketiga bersahabat itu berangkat menuju hutan yang lebat itu. Sekitaran jam 12:00 meraka sudah tiba di hutan lebat itu, namun tiba-tiba datang seorang Kakek tua yang menepuk bahu Eveline hal itu membuat mereka semua kaget.
"Ada apa kalian semua datang kesini?" tanya si Kakek.
"Ohh, jadi, Kakek yang punya hutan ini? Kenalin, Kek nama aku, Eveline dan ini sahabat aku, Carey dan Tasya. Tujuan kami datang kesini untuk camping dan jelajah hutan. Boleh tidak, Kek. Kami bertiga berjanji tidak merusak alam hutan ini," jawab Eveline panjang lebar sambil memberi senyum.
__ADS_1
Sang Kakek terdiam sejenak...
"Tapi... kalian sudah tahu konsekoensinya jika masuk hutan ini 'kan? Apa kalian yakin mau masuk?" tanya si Kakek dengan nada suara misterius dan ia fokuskan menatap pada Eveline.
"Yakin, Kek. Kami juga sudah tahu tentang konsekoensinya, Kek," kini Tasya yang menjawab.
"Kalau seperti itu silahkan masuk." Sang Kakek mempersilahkan mereka bertiga masuk.
Sang Kakek kemudian menggeser sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa dan kemudian pergi.
"Itu tadi manusia apa bukan?" tanya Carey ketakutan.
"Ya, manusia, Carey. Kalau dia bukan manusia kakinya tidak menginjak tanah sementara tadi ia menginjak tanah," jawab Eveline.
Tampa menunggu lama lagi mereka bertiga pun masuk ke dalam hutan itu. Hingga senja pun tiba dan keindahan hutan itu terlihat. Hal itu membuktikan bahwa hutan ini menyimpan keindahan tersendiri.
"Wah, bagus banget pemandangannya!" Tasya terkagum-kagum.
"Ia bagus banget!" sahut Carey ikut menikmati senja itu.
"Kita bangun tenda disini saja udara disini juga sejuk dan punya pemandangan indah!"
Mereka pun sepakat mendirikan tenda di tempat itu. Karena merasa lapar mereka mulai memasak dengan bantuan kayu bakar di sekitar tendanya.
Tidak terasa sudah malam, 3 orang gadis itu masuk ke dalam tenda masing-masing untuk tidur.
***
Seorang Raja muda yang terkenal, sangat ganas, sangat kejam, jutek, judes, dan pemarah.
Raja itu bernama, Levano Stevan Manhive panggil saja ia Vano. Raja dari segala Raja bangsa vampire yang punya sifat sepertinya. Vano punya seorang Adik laki-laki bernama Ioan Stevan Manhive yang punya sifat dingin tapi jika sudah dekat dengannya maka Ioan bersifat humoris.
Vano dan Beno (Asisten kepercayaan Vano) sedang berjalan-jalan di tengah gelapnya malam di bawah sinar bulan dan bintang di kota London hutan yang satu-satunya jarang pengunjung. Vano sedang mencari kesegaran di malam itu tiba-tiba penciumannya mencium bahwa ada manusia di hutan itu hutan yang sangat luas itu.
Vano mencium darah yang sangat segar, berbau vanilla dan bunga levender, sangat menggoda bagi Vano.
"Sebaiknya kau pulang lebih dulu ke kastel nanti aku akan menyusul," ucap Vano kepada Beno.
__ADS_1
Bano pun pergi, sementara Vano mencium-cium bau darah yang sangat menggodanya itu hingga sampailah ia ke sebuah tenda yang berwarna biru tapi disana ada 3 buah tenda yang berwarna pink dan kuning.
Vano yakin di tenda birulah manusia yang punya darah itu berada. Saat Vano ingin menerkam tenda biru itu, ada seseorang yang membawanya pergi menjauh dari tenda itu.