
"Eve...,"
Eveline melihat kesan Empu suara, apa mengenalnya? Yappss, Eveline sangat mengenalnya.
"Aku bukan Eveline!" ketus Eveline dusta kepada sang suami, siapa lagi kalau bukan Vano dan para prajuritnya.
"Owh ya?" tanya Vano menaikkan alisnya dan langsung menghampiri Eveline.
"Ngapain kau kemari? 'kan tempat ini rahasia Kamu kan orangnya bocoran. Nanti kau beritahu semua orang agar main ke tempat ini," ucap Eveline tampak sebal karena kehadiran Vano, niatnya menenangkan diri gagal.
"Kau itu yang ngapain di sini?!" tanya Vano sambil mendengkus kesal.
Vano berjalan kearah Eveline yang berada di bawah derasnya air terjun dengan langkah supaya karena banyaknya bebatuan licin.
"Mau ngapain kek yang penting hari ini aku nggak mau lihat muka kamu dan... apa ini? Kenapa kau bawa-bawa prajurit ke sini? Memangnya aku tahanan apa?!" suara Eveline meninggi mengharuskan Vano menutup kupingnya.
Vano memberi kode pada para prajuritnya, menyuruhnya agar pergi dari sana.
"Iya, kamu tahanan. Tahanan di hati aku hehe, kamu kenapa marah sama aku hmm?" tanya Vano lembut.
Mereka berdua berada di bawah derasnya air terjun.
"Kamu cemburu ya Sayang?" tanya Vano lagi, kini ia menunjukkan senyum lebar.
"Ish! Siapa juga yang cemburu? Sana sih aku mah! Kalau kau mau dengan Clarissa nggak apa-apa kok!" Eveline memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Masa?" singkat Vano sambil memandang Evelyn dengan lekat-lekat.
"Ya sudah sana sama si Clarissa itu!" ketus Eveline sambil memonyongkan bibirnya.
Vano tertawa kecil sebelum menarik pinggang Eveline dan memeluknya sambil menatap nya lekat-lekat.
"Yakin nggak cemburu nih?"
"Yakin wlee,, nanti jika kau sama Clarissa aku tinggal sama Julian," ucap Eveline tampa rasa dosa.
Vano mengernyitkan dahinya, kenapa dia bisa menyebut nama Julian saat mereka sedang berdua seperti ini?
"Jangan sebut nama Julian! " peringat Vano tajam.
"Cih, lagiannnmm...," ucapan Eveline terhenti.
Eveline terkejut dengan perlakuan Vano namun di detik kemudian Eveline membalas ciuman itu, di menit kemudian Vano menyudahi ciumannya lalu tersenyum manis kepada Eveline.
"Issh, dasar nyebelin nggak sopan!" Eveline memukul pelan dada bidang Vano.
"Tapi tadi kau membalasnya, tadi kamu bilang lagian apa hmm?" tanya Vano berbisik tepat ditelinga Evelyn.
"Lagian nyebelin, udah tahu-"
"Udah tahu apa? Hmm, bilang aja kamu cemburu 'kan? Kamu enggak mau kan aku diambil oleh Clarissa?" tanya Vano sambil menggoda Eveline.
__ADS_1
"Eeh, enggak, nggak kok! Jangan GR jadi orang makanya!" ketus Eveline dan memeluk Vano dengan eratnya.
"Tapi kenapa meluk aku sampai segitunya?"
Eveline semakin tak tahan dan langsung mendorong tubuh Vano lalu lari.
Eveline berlari ke rumah pohon dengan susah payah karena gaunnya sungguh berat, Eveline tak sempat mengganti gaun pestanya semalam.
Gaun yang sangat mengekspos punggung belakangnya dan tak punya lengan membuat nya berat ke bawah saat basah.
Saat Eveline berlari tak sengaja ia menginjak batu licin hingga terjatuh, kaki Eveline terkilir.
"Awwwwwwww!!!" pekik Eveline saat terjatuh di dalam air.
Vano kaget, secara sigap langsung menghampiri Eveline dan menggendongnya ala bridal style menuju istana, Eveline terus meringis karena kakinya sangat sakit.
Vano langsung meleset secepat kilat dan membaringkan tubuh mungil Evelyn di kamarnya.
"Aduh Vano sakit, sakitt! Sakit!" Eveline terus mengerang kesakitan.
Vano menggaruk kepalanya yang tak gatal dan duduk di tepi kasur.
"Kamu kenapa Eve?"
Ya elah, pertanyaan apa itu Vano?
__ADS_1
jangan lupa likenya hehe...