
Eveline berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya lumayan besar, dia yakin ada orang penting di dalamnya.
Eveline memasuki kamar itu dan ternyata seseorang itu Tengah tertidur dengan pulasnya.
"Oh, jadi aku dikurung di peti mati yang pengap itu dan sedangkan Raja yang bodoh tengah tertidur dengan pulasnya di sini ya?" Eveline dengan langkah terburu-buru menghampiri Vano yang tertidur dengan lelap.
"Hey, bangun! malah enak-enakan tidur di sini! " Eveline mengageti Vano yang tertidur pulas.
Vano tersentak kaget dah langsung bangun sambil mengucek-ngucek kedua matanya, dia melihat seseorang yang sangat dia kenal ada di depan matanya.
"Eveline?!" tanya Vano dan langsung memeluk Eveline dengan erat.
"Hey, anak siapa ini? Berani meluk-meluk, kamu siapa memangnya? Terus kenapa aku dikurung di peti mati yang tidak berguna itu?" tanya Eveline yang menghujani Vano dengan 1000 pertanyaan.
Vano merasa tak berdaya, apakah Eveline tidak mengenalnya? Lalu untuk apa dia menemuiku? Jika kalau hanya untuk memberi luka semata.
"Apa kau tidak mengenaliku, Eve?" tanya Vano dan Evelyn mengangguk.
" Kemarilah biar aku jelaskan." Vano menepuk kasur di sebelahnya, Eveline dengan sedikit ragu duduk di sebelahnya.
"Kamu adalah Istriku dan kau ditempatkan di peti itu karena kami semua pikir kau sudah tiada, Eve." Vano menjelaskan.
" Aku sudah menikah? Denganmu? Kau sedang tidak bercanda 'kan? Kau tidak mencari kesempatan dalam kesempitan 'kan?" tanya Eveline lagi.
"Tidak Sayang. Aku tak bercanda, ataupun mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Aku juga bisa membuktikan bahwa kau adalah Istriku." Vano begitu percaya diri.
"Apa?" Eveline menaikkan alisnya.
"Coba lihat di belakang bahumu, di sana ada gambar bunga lily yang sama denganku."
Eveline melihat belakang bahunya dan ternyata benar yang dikatakan oleh Vano.
"Dan kita memakai cincin yang sama." Vano mengambil tangan kanan Eveline.
"Apa kau tidak mengigatnya?" Vano mulai pasrah dengan keadaannya yang dia hadapi saat ini.
"Sungguh aku... aku... tidak bisa melupakan seseorang yang kejam juga penghisap darah layaknya nyamuk kebun." Eveline menundukkan kepalanya dan langsung memeluk Vano dengan erat dan Vano membalas pelukan Eveline.
"Kau... kau... Eveline 'kan?" Vano mencoba memastikan.
Eveline mengangguk dan ingin langsung berlalu pergi namun ditahan oleh Vano, Vano menarik tangan Eveline dan Eveline pun jatuh di dalam pelukannya.
"Lepaskan nggak?!" Eveline mengancam.
" Nggak, nggak bakalan aku melepaskanmu untuk yang kedua kalinya, Eve." Berbisik Vano tepat di telinga Evelyn.
__ADS_1
Eveline mendorong tubuh Vano dan Vano pun terjatuh di atas kasur empuk. Eveline langsung berlari keluar dari dalam kamar itu hingga tanpa sengaja menabrak Ioan yang tengah berjalan sampai mereka berdua jatuh.
Ioan memandang sosok yang tidak asing baginya.
"Eve, apa kau itu?" tanya Ioan merasa tidak percaya dan bangkit dari jatuhnya begitupun juga dengan Evelyn.
"Iya, Ioan ini aku Eveline. Kau tahu? Aku
u benar-benar mengalami perubahan itu, sewaktu aku bangun dari peti itu Aku merasa seperti ada yang merasuki tubuhku dan memaksanya untuk singgah di dalam tubuhku." Eveline menjelaskan kepada Ioan.
"Kurasa kau harus melatih kekuatan mu dari sekarang Eveline." Ioan tiba-tiba menjadi serius.
"Kapan aku bisa melatih kekuatanku? " Eveline menggaruk pipinya.
"Besok, besok pagi kau temui aku di hutan belakang. " Ioan langsung berlalu pergi dari hadapan Eveline.
Eveline tersenyum tipis dan kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
Kamar Eveline...
Hufft... hari yang melelahkan aku duduk di depan cermin, mengamati wajah yang kini berubah pucat dari pada sebelumnya.
" Apakah kekuatanku begitu besar sehingga harus dilatih untuk mengendalikannya?"
Aku menyentuh kedua pipiku yang terasa sedikit dingin seperti kekurangan darah, warna wajahku sedikit pucat apakah aku sekarang adalah Vampire? aku rasa begitu.
Ah, dia... si nyamuk kebun yang sedikit menyebalkan.
Eveline melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mau Apa kau kemari? " Eveline memandang malas ke arah Vano berdiri.
Vano tidak langsung menjawab melainkan langsung masuk ke dalam dan duduk di atas kasur Eveline.
"Kau bisa keluar sekarang tidak? " Eveline mulai terlihat kesal dan geram.
Vano berdehem pelan dan memandang Eveline serius.
"Beri tahu aku sekarang, rahasia apa yang kau sembunyikan dariku? Kau dengan Ioan!" Vano menatap tajam ke arah Eveline.
"Kau tidak perlu tahu, sekarang kau harus keluar!! " Eveline dengan begitu garamnya ke arah Vano.
Bukannya Vano sudah tahu bahwa Evelyn adalah cucu dari Tuan Glade? Pasti itu yang ada di mana kalian 'kan?
Vano memang sudah tahu tapi ia ingin mendengar sendiri dari mulut Eveline langsung. Jadi, dia pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Aku tidak ingin pergi dari sini! " kini giliran Vano yang membatu.
Eveline berbalik badan menjadi membelakangi Vano.
"Ya, sudah biar aku saja yang pergi dari sini, huh!" Eveline langsung pergi dari kamar itu meninggalkan Vano yang memasang wajah masam.
Eveline pergi ke hutan belakang Istana untuk menenangkan dirinya, berhadapan dengan Vano sungguh membuat otaknya menjadi panas.
Eveline duduk di bawah pohon yang sangat rindang.
"Aku sekarang adalah Vampire, tidak ada lagi rekayasa maupun ada halu. Dulu... aku tidak pernah berpikir takdirku akan berubah menjadi seperti ini huff, astagaaa sungguh aku tidak pernah menyangka hmm. Aku Vampire? Ah, sungguh aneh ya?" Eveline mengelus-elus urat pohon yang ada di samping tempatnya ia duduk.
"Tapi mengapa kuku tanganku tidak bisa panjang ya? Setidaknya seperti kuku yang dimiliki si nyamuk kebun itu." Eveline bergumam heran.
Eveline fokus mengelus-elus akar pohon itu sesekali mencoba untuk membuat kukunya panjang, namun nihil kukunya tetap pendek.
Dhukk!
"Aduh! Apa-apaan? Oh, shit dasar burung-burung kurang ajar!" Eveline mengumpat kesal, dia membersihkan kotoran burung di tangannya.
"Arggh! Sangat menjijikkan!"
Dhukkk!
Belum bersih kotoran burung di tangannya, satu kotoran burung lain kembali mengotori tangannya.
"Arggghhh!!"
Mata iris merah Eveline menyala menandakan dia sudah sangat merasa kesal.
Eveline bangkit dari duduknya dan melompat tinggi lalu mencakar-cakar burung-burung yang membuang kotoran pada tangannya.
Dua ekor burung mati dengan satu ayunan tangan dari Eveline, darahnya membasai kedua tangan Eveline terutama pada kuku-kukunya.
Hupph!
Eveline mendarat sempurna di tanah dekat pohon rindang dengan kedua tangan yang menancap di tanah.
"Rasa sakit hatiku sedikit terobati, ha ha ha!"
Eveline tertawa pelan dan mulai berdiri, dia menepuk-nepukkan kedua tangannya yang kotor.
"Eh?! Apa?!" Eveline sedikit terkejut ketika memeriksa kedua tangannya.
Kuku-kukunya yang semula pendek menjadi panjang dan runcing tajam.
__ADS_1
"Oh, jadi kau panjang jika aku marah ternyata, menarik juga menjadi Vampire."
Tampa Eveline sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari atas pohon lalu kemudian melompat di hadapan Eveline.