
Eveline terdiam saat dilontarkan pertanyaan oleh Vano sejujurnya ia begitu nyaman saat dipeluk Vano.
Inilah yang dirindukan oleh Eveline saat ia dipeluk oleh Vano, ia berhenti berontak dan hanya diam karena saat Vano memeluknya semua amarahnya runtuh tampa sisa yang di mana tadi ingin meluapkan semua amarahnya dan kekesalannya jadi tiba-tiba kalut sendiri.
"Pergi kau! Hiks, hiks aku selama ini salah mempercayai orang! Kau hanya memanfaatkanku Vano!" Eveline berucap datar namun terisak.
"Mengapa kau berfikiran seperti itu Eve? Hanya karena Daniel berbicara seperti itu kamu langsung mempercayainya? Ini semua sudah di rencanakan Sayang, juga Daniel juga Clarissa." Vano menjelaskan dengan lembut dan penuh kesabaran.
Eveline terdiam hanya terdengar isakan kecil di sana.
"Seharusnya kamu tidak terlalu percaya pada mereka Eve, mereka hanya mau menghancurkan pernikahan kita, mereka itu licik. Jadi kamu jangan termakan dengan omongan mereka." Vano tersenyum lembut suaranya masih sama lembutnya.
"Aku ragu untuk meyakinkannya Van." Sahut Eveline pelan.
"Kau cukup percaya saja padaku dan aku akan menjaga kepercayaanmu."
Eveline melepas pelukan Vano dan menatap dalam kedua mata tajam Vano berusaha mencari-cari kebenaran di dalamnya, memang tak ada kata-kata dusta di dalamnya.
"Ya, aku mempercayaimu. Tapi tolong jaga kepercayaanku." Eveline menunduk dalam, diam-diam mengembangkan senyum kecil.
Vano tersenyum penuh arti dan kembali memeluk Eveline kali ini Eveline membalas pelukannya.
Tok!
Tok!
Tok!!
Vano mendengkus sebal di masa-masa romantisnya ada pula yang datang mengganggu rasanya Vano ingin menguburnya hidup-hidup.
"Ada apa lagi hah?!" tanyanya dingin cukup membuat Asistenya Beno bergidik ngeri.
"Ini ada surat dari Nyonya Grace dari Kerajaan WereWolf. Mereka mengadakan pesta tahunan untuk merayakan kesenangan."
Ya, sore itu ada utusan dari Kerajaan WereWolf yang mengantarkan surat undangan kepada Beno.
__ADS_1
Vano menerima surat itu.
"Ya, sekarang kau boleh pergi."
Vano menutup pintu kamarnya dan menaruh surat itu di nakas.
"Aih, Tuan Vano masih saja dingin hihh!" Beno mengeleng-geleng sebelum meleset pergi.
"Malam ini kita akan pergi ke pesta Nyonya Grace."
Eveline langsung menoleh kepada Vano, yang tadi dirinya sibuk menyisir rambut sehabis mandi.
"Nyonya Grace? Ibunya Julian ya?"
Raut wajah Vano langsung berubah menjadi dingin mendengar nama Julian disebut.
"Kenapa pula nyangkutin nama Wolf bau itu!"
"Ya, kupikir kau sebaiknya tak perlu ikut Eve."
"Loh, memangnya kenapa? Pokoknya aku akan tetap ikut titik!"
"Tapi aku takkan mengajakmu!"
"Kau!!"
Eveline geram dan menjuk wajah masam Vano dengan sisir rambut.
"Mau apa kau?!" Vano menatap tajam Eveline yang mengacungkan sisir itu.
"Menurutmu?" Eveline menyeringai.
"Ohoho, baiklah, baiklah. Jika begitu tak perlu kau ikut!"
Plakk!!
__ADS_1
Sisir rambut menyapa wajah Vano seiring dengan selesainya ia berbicara.
"Rasakan itu!" Eveline menyunggingkan senyum puas.
Tok!
Tok!
Tok!!
Suara pintu diketuk kembali terdengar kali ini ketukannya terdengar cepat dan tak beraturan.
"Eve, Eveline!! Oh, ayolah keluarlah!"
Sebuah suara terdengar yang sangat vamiliar bagi Eveline.
"Ada apa kau berteriak-teriak?!"
"Eh?!"
Seseorang itu terkejut saat Vano yang membuka pintu bukan, bukan itu yang membuatnya sangat terkejut tetapi jari ketukannya hampir mengetuk wajah Vano.
"Ehehe, aku, aku... boleh bertemu dengan Kakak iparku tidak?" tanyanya ketawa-ketiwi.
"Tidak boleh Ioan!"
Ioan memasang wajah masam dengan jawaban Vano.
"Kakak tak rindu denganku?"
"Tidak." Sahut Vano dingin.
Wajah Ioan bertambah masamnya tak disangka-sangka jawaban Sang Kakak seperti itu.
Hayo siapa yang rindu sama Ioan nih?
__ADS_1