
Pagi hari telah tiba...
Eveline bangun lebih awal namun Pelayan Ayuan sudah lebih dulu menghilang di kamarnya.
"Menjadi seorang Pelayan ternyata lebih sulit dari perkiraanku," gumam Eveline pelan.
Eveline lalu kembali ke kamarnya sambil membawa segelas lemon di nampan, Eveline menaruhnya di atas nakas samping ranjangnya.
Eveline membuka horden jendela sampai cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya, Vano mengerjap-ngerjapkan matanya silau karena cahaya matahari.
"Tutup kembali horden itu!!"
"Sudah bangun Tuan tidur!" Eveline mengampiri Vano sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Eve...,"
"Haha, masih ingat juga kau rupanya denganku," ketus Eveline.
"Apa maksudmu Sayang?" tanya Vano yang kini sudah duduk di atas kasur.
"Tidak,, aku hanya menceritakan kejadian di Istana Nyonya Grace semala, sungguh memalukan bagi aku juga Ioan."
"Ugh, kejadian apa?" tanya Vano lagi, kedua tangannya memegangi kepalanya.
Eveline memberikan segelas lemon pada Vano agar dia lebih sadar dari pengaruh wine.
"Segelas lemon tidak mampan Sayang, darahmu."
Eveline berdecih namun tetap memberikan darahnya setelah itu Vano benar-benar sadar, Eveline juga menceritakan semua yang terjadi saat pesta berlangsung.
__ADS_1
Vano melebarkan matanya ternyata semalam dia benar-benar mabuk, jangankan untuk mengenal Eveline, Clarissa saja dianggap Eveline.
Selesai Eveline bercerita, Vano langsung meraih kedua tangannya dan menggenggamnya lembut.
"Eve, maaf, maafkan aku. Aku memang suami yang tidak berguna, aku sudah melukai kepercayaanmu! Jadi kau bebas untuk lepas dariku," ucap Vano dengan suara parau.
Plakkk!!
Satu tamparan dilakukan Eveline pada pipi mulus Vano.
"Tak kusangka jawabanmu seperti itu! Kemarin kau bilang semua ini sudah direncanakan, aku mempercayaimu sepenuhnya, aku tak merasa dibebani dengan ini tapi apa?! Jawabanmu malah kayak begini!"
Vano langsung memeluk Eveline yang sudah terisak.
"Maafkan aku Eve, aku sangat meminta maaf padamu... aku memang tak berguna, maaf... Aku sangat mencintaimu Eve." Vano berbisik lembut tepat di telinga Eveline.
"Aku tahu... kau tak sepenuhnya salah Vano, aku juga sangat mencintaimu."
"Ku beri nanti pelajaran pada pengetuk pintu itu!"
Vano geram ketika pintu kamarnya diketuk seseorang, lagi-lagi ada yang mengganggu momennya.
"Ada apa?" tanya Vano dingin.
Pelayan Ayuan memberi hormatnya.
"Maaf Tuan Raja, apa boleh saya bertemu Nyonya?"
"Eveline tidak ada di sini!"
__ADS_1
"Baik, saya permisi Tuan Raja."
Pelayan Ayuan memberi hormatnya sebelum meleset pergi.
Vano kembali masuk ke kamarnya namun tak menjumpai Eveline di sana, di balkon, kamar mandi, ruang kerja nya juga tak ada lantas di mana Eveline?
Vano mulai panik, ia tak menemukan Eveline di mana pun. Vano mengumpulkan Prajurit dan menggerahkannya untuk mencari Eveline.
"Ke mana kau Sayang? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu? Ah, astaga!"
Vano menepuk keningnya, rupanya dia lupa mengukir tanda pengikat di telinga Eveline. Itu artinya Vano tak bisa melacak keberadaan Eveline, sial!
***
Eveline Pov...
Ahh, akhirnya aku bisa juga menghirup udara ketenangan, kalian tahu aku di mana? Sekarang aku ada di.... eithhhs! Jangan kasih tahu deh nanti kalian beri tahu Vano, Ugh! Nggak banget ya? Tapi kasihan juga ahaha!
Aku kabur dari Istana menuju hutan saat Ayuan berbicara dengan Vano saat itulah aku melarikan diri lewat balkon kamar.
Aku tahu Ayuan akan memberiku sebuah kertas yang kupinta saat ingin meninggalkan kamarnya, aku meminta Ayuan memberiku karangan puisi yang pernah Vano buat untuk Ibunya. Yaah, memang sungguh manis bukan? Tapi itu Vano yang kecil bukan Vano yang menyebalkan sekarang.
Memang sih, balkon sangat tinggi tapi mau gimana lagi. Aku pergi ke tempat yang pernah Julian membawaku, di sana sangat tenang dan sejuk dengan pemandangan hutan serta air terjun.
Aku membuat sebuah rumah pohon yang lumayan buruk karena Julian tak sempat membantu, Julian pergi ke Istananya untuk mengambil Jack keponakan tercintanya.
"Eve...,"
Siapa yang datang?
__ADS_1
Reguler Chapter tidak setiap hari ya, Author hanya nulis saat ada waktu luang saja.