
"Shit! Baru saja datang di Istana sudah disambut perasaan kesal saja!"
Ioan memalingkan mukanya dan melipat kedua tangannya ia lipat di depan dada.
"Ioan? Ya ampun dari mana aja kamu? Aku ada perlu tahu sama kamu!" Eveline muncul dari balik punggung Vano.
Eveline dan Ioan saling berpelukan sebentar.
"Huhuhuhu... ia aku juga sama Eve ingin berbicara sesuatu denganmu."
Vano mengerjap-erjapkan matanya menyaksikan adengan haru di hadapannya yang lebih menarik perhatiannya adalah tingkah Ioan yang menurutnya lebay, malah nangis segala.
"Oh, benarkah? Kalau begitu bicaralah Ioan."
"Yaa, tidak di sini juga Eve. Lihat di belakangmu ada Iblis nur jana yang siap menghantamku kapan saja," ucap Ioan berbisik kepada Eveline.
"Ohooho... iya betul!" Eveline balas berbisik pula.
"Apa?! Kalian berdua membicarakan aku ya?" tanya Vano sambil menatap tajam Eveline juga Ioan.
"Ish, geer banget sih! Ohh iya, aku sama Ioan mau pergi dulu ya... Suamiku yang kejammmm!" Eveline memberi senyum yang dipaksa-paksakan.
"Mau pergi kemana kalian?" tanya Vano dingin bagaikan es yang butuh waktu untuk dicairkan dengan Eveline.
"Ke suatu tempat yang kau tidak tahu dan kau tidak bisa menemukanku. Karena... akau akan bersenang-senang." Jawab Eveline begitu bahagianya.
__ADS_1
"Hah? Yakin sekali kalau aku tidak bisa menemukanmu. Jangan lama-lama nanti kita terlambat pergi ke pesta Nyonya Grace."
Selesai berkata Vano berbalik badan hendak masuk ke dalam kamar kembali.
"Ooh, jadi kau juga diundang ke pesta Nyonya Grace? Beruntung juga kau Kak."
Vano tidak menanggapi ucapan Ioan ia tetap melanjutkan langkahnya tampa menoleh-noleh lagi.
"Dinginya masih belum ilang juga, huh!" Ioan mendengkus kesal atas sikap Vano.
"Ya, begitulah. Ah, Ioan Jika kamu diundang juga jadi kita bisa pergi bersama ke sana gimana?" tanya Eveline menawarkan.
"Kurasa tidak kalau untuk berangkat ke pesta Eve, aku akan pergi bersama teman-temanku yang lainya."
"Oh, sayang sekali kalau begitu. Yasudah ayo kita pergi."
Eveline dan Ioan pergi ke Taman Istana Kerajaan Manhive dan duduk di ayunan yang disediakan oleh para pengurus Taman.
"Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya Ioan? Seperti nya amat penting hmm." Tanya Eveline membuka pembicaraan.
Ioan duduk di atas batu-batu di depan Eveline bersiap memulai pembicaraan.
"Jadi gini, aku... aku bertemu dengan Tasya Sahabatmu sekitar 5 hari yang lalu."
Mendengar nama Sahabatnya disebut Ioan membuat Eveline jadi antusias dan mengubah posisinya dengan duduk di hadapan Ioan bukan lagi duduk di atas ayunan.
__ADS_1
"Jadi... selama ini kamu menghilang kamu pergi berlibur di dunia manusia ya?" tanya Eveline penasaran.
Ioan mengangguk mengiyakan.
"Wah, apa yang Tasya tanyakan? Pasti dia menanyakan kenapa aku tidak masuk kuliah dan... kenapa aku tidak masuk kerja di Cafe ya 'kan?" tanya Eveline lagi, pertanyaan nya memenuhi ruang pikiran Ioan.
"Iya, ia bilang kenapa kau tidak masuk kuliah dan kerja lalu kujawab saja, kau sedang di rumah Ibuku. Simple 'kan?" tanya Ioan dengan bangga.
Eveline menoyor kepala Ioan tapi Ioan tak bergeming di tempatnya.
"Tak masuk di akal alasanmu itu."
"Ehehe, memang aku pun sependapat denganmu Eve. Tapi, kau tahu nggak Eve?" tanya Ioan menggantung ucapannya.
"Tahu apa? Jangan gantung-gantung ucapanmu lah Ioan buat aku penasaran aja." Kesal Eveline campur bingung.
"Sahabatmu Tasya itu... cantik ehehe." Ioan tersenyum malu-malu.
"Haha, kau tahu itu? Sahabatku itu pernah menang Miss Universe di perguruanku."
"Ooh, benarkah?" tanya Ioan tak percaya.
Eveline menatap Ioan dengan tatapan meledek.
"Ohh, ternyata ada yang sedang jatuh cinta rupanya?"
__ADS_1
Selamat jatuh cinta haha....