Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Upacara Pembangkitan


__ADS_3

Ioan menyaksikan semua yang Vano alami ia memperhatikan Eveline dengan tatapan serius.


"Yang mati akan bangkit kembali dengan kekuatan yang sangat besar."


"Bicara apa kau?!" tanya Vano tajam kepada Ioan.


"Tidak ada!"


Ioan menghela nafas lesu, lantas berlalu pergi meninggalkan Vano.


Vano sendiri langsung membawa Eveline pergi, Vano memabawa Eveline menuju Istananya dan memanggil para Tetuah agar cepat menyiapkan untuk menyiapkan upacara pembangkitan untuk Eveline.


Ioan yang mendengar jika Eveline akan di bangkitkan dengan cara biasa melangkahkan kakinya dengan penuh amarah menuju Sang Kakak.


Bzigggggh...


Ioan memukul Sang Kakak dengan penuh amarah, mata iris merahnya menyala namun tidak semerah punya Vano.


"Keterlaluan kau! Apa kau akan membiarkan Eveline bangkit kembali dengan Vampire biasa?!" tanya Ioan dengan penuh amarah.


******Bruakkk******...


"Memangnya kau pikir dia siapa, hah?!" tanya Vano tidak kalah kejamnya.


Ioan bangun dengan sudut bibir mengeluarkan darah, ia menghampiri Vano dengan tertatih.


"Dia cucu dari, Tuan Glade!" Ioan menunjuk Eveline yang berada di dalam peti mati.


Vano membelalakkan matanya mendengar ucapan Ioan.


"Sejak kapan kau pandai berbohong?!" tanya Vano tidak percaya.


"Cih, namanya, Eveline Zentrix Glade dia cucu dari Tuan Glade. Selama ini kau mana tahu karena Eveline tidak pernah mau bilang tengtang rahasia besar ini." Ioan memberitahu.


Vano terdiam merenungkan semua ucapan Ioan. Vano merenungkan semua ingatannya waktu masih bersama dengan Eveline.


Vano merasa, Eveline memang adalah cucu dari Tuan Glade. Soalnya semua ciri-ciri yang dimiliki oleh Eveline sama persis yang diucapkan oleh Tuan Glade waktu dia masih hidup.


"Beno!! Segera siapkan upacaranya!" Vano memberi perintah kepada Beno.


Vano, Ioan, Beno, dan juga para Tetuah itu pun melaksanakan upacara pembangkitan.


"Raja silahkan." Tetuah memberi arahan pada Vano.


Dan Vano langsung menyileti tangannya dan menampung darahnya di sebuah cangkir, lalu darah itu ia balurkan dengan tangan Vano sendiri. Lakukan hal itu menyeluruh sampai Eveline menggerakkan tangannya.


Waktu melakukannya hanya 60 detik, jika tidak terlambat pasti Eveline akan bangkit kembali, namun jika kalau sebaliknya Eveline tidak akan bangkit kembali.

__ADS_1


Vano melakukannya dengan sangat teliti, sedangkan Ioan yang menghitung waktunya.


Waktu terus berlalu...


"3... 2... 1...," Ioan langsung menepuk bahu Vano dari belakang.


"Sudahlah, Kak. Eveline sudah tak ada." Ioan tersenyum kecut dan langsung berlalu pergi dan diikuti oleh para Tetuah dan juga Beno.


Vano meratapi Eveline dengan tatapan tak percaya, wanita yang telah mengubahnya dalam waktu yang sangat-sangat singkat bagi Vano. Wanita yang telah mengajari Vano apa itu arti cinta dan wanita yang mengajarinya tengtang arti kesetiaan.


Namun sekarang, sekarang dia sudah tiada, dia sudah meninggalkan Vano untuk selama-lamanya.


"Kenapa?! Kenapa kau meninggalkan aku dengan perasaan yang sudah mulai tumbuh? Kamu tega, Eve! Kenapa kau meninggalkan aku dengan waktu yang sangat singkat? Mengapa, Eve?!" Vano berbicara sendiri layaknya Eveline masih hidup.


Vano sudah sangat tidak berdaya, dia bersumpah akan meratakan seluruh bangsa Vampire Berdarah Dingin yang sudah membunuh Istrinya dengan cara yang tidak wajar.


Vano menutup tubuh Eveline dengan selendang yang berwarna hitam lalu menutup petinya.


Vano berjalan gontai menuju kamarnya, dia menidurkan tubuhnya di kasurnya dan langsung memeluk gulingnya dengan sangat erat layaknya Eveline yang sedang ia peluk. Vano tertidur dengan perasaan yang sangat kacau.


Eveline pov...


Sesak, hening, gelap. Itu yang aku rasakan saat ini, aku rasa aku sudah di surga sekarang. Tapi apakah surga se hening ini? Kurasa tidak.


Saat aku mengedarkan pandanganku ke seluruh arah, aku melihat ada sebuah cahaya terang di sebelah kiri. Ah, mungkin itu adalah tempat peristirahatan terahirku, he he he.


"Mama... Papa!"


Aku langsung memeluk mereka, meratapi keadaan.


"Nak, mengapa kau berada di sini? Duniamu bukan di sini, Nak."


"Iya, Nak. Kamu harus bangkit, Nak!"


Aku langsung melepas pelukanku pada keduanya, apa maksud mereka? Apa mereka tidak senang aku ada di sini? Apa maksud mereka.


"Apa makaud kalian? Aku di sini untuk kalian, aku sudah tiada di dunia. Aku tidak ingin bangkit kembali! Aku mau di sini, aku kangen dengan kalian!" bulir-bulir air mata meluncur di kedua pipiku.


"Nggak, Nak. Jalan kisahmu masih panjang, jangan keras kepala, bangkitlah."


"Kami akan selalu ada di dalam hatimu, sekarang pilih diantara dua gelas itu...."


Aku menatap dua buah cangkir, satu berisi air putih dan satu lagi yang aku yakini adalah darah.


Aku ragu untuk memilih secangkir air putih itu, akhirnya aku memilih cangkir berisi darah dan meminumnya.


Aku rasakan ada kontraksi dalam tubuhku, tubuhku sangat ringan dan aku merasa ada kekuatan dalam tubuhku yang sulit untuk aku kendalikan, rasanya sangat sakit.

__ADS_1


Ioan mengetuk pintu kamar Vano namun tidak ada respon, Ioan masuk saja.


Ioan kemudian membangunkan Vano yang tengah tertidur pulas, karena ada hal yang sangat penting yang harus disampaikan kepada Vano, tengtang Eveline


Vano akhirnya bangun.


"Ada apa kau kemari?"


"Aku kemari mau memberi surat ini." Ioan menyerahkan surat itu.


"Apa ini?" Vano mengerutkan dahi bingung.


"Bacalah."


Vano membaca surat itu, surat yang pernah dibaca oleh Ioan dan surat yang diberikan Eveline.


"Apa maksudnya? " tanya Vano masih belum mengerti.


"Iya, seharusnya Eveline bangkit kembali dengan kekuatan yang sangat dahsyat karena dia adalah cucu dari Tuan Glade!" jelas Ioan dengan kesal.


"Kau tahu? Itu semua hanya khayalan. " Vano pasrah.


"Ya, semua sia-sia karena kau Vano! Andai kau tidak memperbolehkan Eveline untuk mengikuti perang itu mungkin Eveline masih ada! " Ioan geram dengan sang kakak.


" Aku sudah melarangnya namun Ia tetap mengikuti peperangan itu. " Vano sayu dengan keadaan.


" Aku pergi dulu! " Ioan langsung pergi dari hadapan Vano.


Vano meletakkan surat itu di atas nakas dan kemudian Vano kembali tertidur.


Pukul 00:00 malam...


Di sebuah peti mati yang pengap dan tidak ada udara juga diselimuti oleh selendang hitam di situlah Eveline.


Eveline mengerang kesakitan karena seperti ada ilmu yang merasuki tubuhnya, seperti memaksa.


Ketika kekuatan itu sudah merasuki tubuhnya barulah Eveline merasa tenang dan adem.


Eveline mengedarkan pandangannya 2 kata yang Eveline lontarkan saat itu.


" Aku di mana? "


Eveline lalu keluar dari peti itu dan duduk di atasnya.


"Pakaianku kenapa berwarna hitam begini?"


Eveline keluar dari tempat itu dan berkeliaran mencari siapapun orang yang telah memasukkannya ke dalam peti yang tidak berguna itu.

__ADS_1


__ADS_2