Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Pangeran hutan


__ADS_3

"Lepaskan aku bodoh!" Vano geram dengan Adiknya Ioan yang membawanya pergi dari tenda si pemilik darah yang sangat menggodanya itu. Ioan membawa Vano menuju belakang kastel mereka.


"Kau ini mau apa, hah?!" Ioan juga sama geram dengan Kakaknya.


"Menghisap darahnya," jawab Vano dengan gaya orang yang sedang mabuk darah.


Plakkk!


Ioan menampar pipi mulus Vano pipi yang semulus tempat bedak baby itu. Mata iris merah Vano menyala tanda kemarahan Vano sudah memuncak.


"Pergi kau, Adik tidak berguna!" bentak Vano yang mencoba menahan rasa marahnya yang sudah meluap-luap.


Bagaimana pun Vano tahu Ioan adalah Adiknya, ia tidak akan membiarkan Adiknya terluka hanya karena masalah sepele.


Ioan pun langsung naik ke atas kastel meninggalkan Vano sendiri digelapnya malam yang indah.


***


Pagi pun tiba, Jam sudah menunjukkan 10.30. Eveline sudah bangun dan ia keluar dari dalam tendanya dan sudah mendapati kedua sahabatnya yang sedang makan.


"Hey, kalian tidak membangunkanku!"


Eveline mengucek-ngucek kedua matanya dan kemudian menghampiri sahabatnya.


"Tadi sudah kita membangunkanmu tapi ... kamunya saja yang tidak bangun, " ucap Tasya dan kembali melahap makanannya.


" Betul kata, Tasya! " dukung Carey.


" Ah, yang benar saja kalian membangunkanku?! " Eveline menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Sudah kau makan saja, Eveline! " cara menyadarkan sepiring makanan ke arah Eveline.


" Habis ini kita mau apa? "tanya Tasya.


" Kita beres-beres tenda saja Setelah itu kita baru menjelajah bagaimana? " usul Eveline setelah ia melahap semua makanannya.


" Oke, ide bagus. "


setelah menyelesaikan semua makanannya Mereka kemudian beres-beres dan kemudian menjelajah bukan itu.


Di tengah perjalanan Eveline merasa ingin buang air kecil ia kemudian berpamitan kepada kedua sahabatnya.


" Aduh, Carey, Tasya aku izin buang air kecil sebentar! Kalian jalan-jalan saja duluan nanti aku menyusul, " kata Eveline dan langsung pergi


"Dasar!" kesal Carey.


"Ayo, lanjut, Rey!"


Carey dan Tasya pun langsung melanjutkan perjalanannya untuk menjelajah.


Eveline mencari tempat yang nyaman untuk buang air kecil, hingga ia menemukan sebuah kastel.


"Kastel? Ah, bodoh aku sudah tidak tahan!"


Eveline langsung masuk ke dalam kastel tampa minta izin pada si pemilik kastel.

__ADS_1


"Halo, permisi ada orang? Hey, permisi!" Eveline memanggil-manggil si pemilik kastel.


Lama tidak ada sahutan, Eveline akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri kamar mandinya.


Tidak butuh waktu lama Eveline dapat menemukan kamar mandinya, ia lalu masuk untuk melepas keresahan karena buang air kecil.


Hanya sebentar saja Eveline telah selesai, ia lalu keluar untuk menyusul sahabatnya.


"Anda siapa?" tanya Ioan dengan suara tegasnya.


Eveline langsung kaget karena ketahuan oleh Ioan si pemilik kastel.


Eveline memejamkan matanya dan dengan kedua tangan mengatup seperti orang yang sedang meminta permohonan.


"Maaf, Tuan kalau saya lancang masuk ke kastel, Tuan. S-a-ya juga tidak ada niat untuk mencuri barang-barang, Tuan saya tadi sangat tidak tahan untuk buang air kecil, Tuan," jawab Eveline sambil berlutut pada Ioan.


Ioan membangunkan Eveline dari berlututannya.


"Ia, saya juga tadi sudah melihat gelagat kamu."


Eveline kemudian perlahan-lahan membuka matanya, di dalam hati Eveline berkata sungguh baik Tuan ini.


Saat Eveline melihat wajah Ioan...


Blussss!!


Ganteng, cool, lehernya kokoh, dan baik hati. Eveline terpesona dengan ketampanan Ioan. Eveline berfikir di tengah hutan yang terkenal seram ini ternyata punya Pangeran yang tampan seperti Ioan.


Apa ini yang disebut rahasia yang menyimpan keindahan? Kalau begini, Eveline tidak mau pulang saja dari hutan ini.


Husss


Husss


"Kau kenapa?" tanya Ioan.


"Ah, tidak apa-apa. Kalau boleh tanya nama, Tuan siapa?" Eveline balas bertanya.


"Namaku, Ioan Stevan Manhive," jawab Ioan memperkenalkan diri.


"Oh,"


"Kalau namamu?" tanya Ioan secara tiba-tiba.


"Ah, tapi kau janji jangan memberi tahu luaskan namaku ya, Tuan?"


Ioan sedikit heran namun ia juga merasa penasaran.


"Ia, janji aku tidak akan memberi tahu orang lain. Memangnya kenapa?"


Eveline terdiam sejenak, ragu.


"Jadi waktu kedua orang tuaku ingin meninggal dunia mereka memberi tahuku bahwa aku harus menutupi nama panjangku dan sampai sekarang aku juga tidak tahu apa alasannya," jawab Eveline mantap.


"Oh, namamu?"

__ADS_1


"Eveline Zentrix Glade," jawab Eveline dengan percaya diri.


Ioan membelalakkan matanya, ia langsung teringat wasiat Tuan Glade pada peperangan 300 tahun yang lalu yang menewaskan Tuan Glade selaku Raja Vampire yang paling kejam dan ganas tapi sekarang Vanolah yang menggantikan kekejaman Tuan Glade.


Tuan Glade adalah Kakek dari Eveline dan Tuan Glade punya seorang anak laki-laki bernama Thomas Glade yang menikah lari dengan Mama Eveline. Karena itulah Eveline disuruh merahasiakan nama panjangnya.


"Glade? Apa dia, Cucu dari, Tuan Glade? Jika benar, aku harus membuktikan ciri-ciri yang, Tuan Glade bilang."


Yaitu, memiliki rambut yang berwarna merah pada bagian kanannya, wangi darahnya levender dan berbau vanilla, dan mempunyai gambar taring pada bagian lehernya.


Ioan memeriksa ciri-ciri yang Eveline punya dengan cara hanya menatapnya.


"Benar dia, Cucu dari, Tuan Glade! Semua ciri-ciri itu ada pada dirinya!" batin Ioan pada dirinya.


Eveline menatap bingung laki-laki depannya itu yang tidak lain adalah Ioan


karena sedari tadi Eveline sudah berbicara panjang kali lebar tapi Ioan hanya memandanginya dengan tatapan yang serius.


" Hei, apakah masih hidup? " Eveline mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ioan.


seketika Ioan langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah, ya, Eve kenapa?" tanya Ioan kepada Eveline.


"Ia, Ioan aku pergi dulu ya, Ioan pasti sahabatku sudah lama menunggu. Aku takut mereka khawatir padaku hari juga sudah mau malam."


Eveline pun berjalan untuk meninggalkan kastel.


"Ah, tunggu! Apa tidak menginap saja di sini dan apa kau tidak takut diluaran sana? " tanya Ioan.


Eveline langsung menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik untuk menatap Ioan.


" Terima kasih tidak usah, Ioan" Eveline tersenyum ke arah Ioan sebelum melanjutkan kembali langkahnya untuk kembali ke tenda karena ia tahu sahabatnya Carey dan Tasya pasti sudah sampai di tenda.


Di sisi lain Ioan masih belum percaya apa yang baru saja ia alami, Iya baru saja bertemu dengan cucu dari Raja terganas dan terkuat di sejarah bangsa Vampir dan kini kakaknya Vano Ia juga menjadi seperti itu Glade.


disisi lain pula sahabat Evelin Tasya dan Carey baru menyadari mereka berjalan terlalu cepat hingga meninggalkan Eveline tidak tahu di mana.


" Rey, kita meninggalkan Eveline tahu! " Tasya menghentikan langkahnya dan ikuti dengan Carey.


" Iya, aku juga baru sadar kalau kita berjalan begitu cepat sampai tidak meninggalkan jejak untuk, Eveline! " Carey seketika menjadi panik.


"tunggu, Carey kamu ingat tidak tempat ini? " tanya Tasya sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar dengan rasa ketakutan.


Carey ikut mengedarkan pandangannya juga dan seketika ekspresinya juga menjadi takut.


" Iya, aku ingat! ini adalah tempat ketika kita bertiga ingin masuk ke hutan, terus bagaimana kita bisa keluar seperti ini?! " tanya care balik ia mulai merasa panik dan cemas.


Disaat mereka berdua sedang ketakutan dan merasa gelisah, seseorang menepuk bahu Carey dari belakang.


" Sedang apa kalian di depan hutan ini? " tanya seseorang itu yang ternyata adalah sang Kakek.


Dengan nafas memburu Carey dan Tasya mencoba menahan mulut mereka agar tidak teriak sekencang-kencangnya.


" Eh, Kakek buat kami kaget saja ini, kakek kami tadi berniat untuk menjelajah tapi tidak sengaja meninggalkan, Eveline di belakang, " ucap Carey sekaligus iya menjelaskan masalah mereka.

__ADS_1


" Saya tidak peduli nanti juga teman kalian keluar tapi yang jelas kalian harus pulang ingat pulang!! "


Sang Kakek langsung meninggalkan Carey dan Tasya tanpa mendengar pembicaraan mereka lagi.


__ADS_2