
Seseorang itu melompat tepat di hadapan Eveline membuatnya kaget dengan hal itu. Namun didetik kemudian exspresi wajah Eveline berubah menjadi biasa saja seolah dia sudah biasa melihat wajahnya.
Eveline baru menyadari orang itu menggunakan jubah hitam yang membuatnya lebih waspada, di pikiran Eveline bukan lagi Ioan maupun Vano karena mereka berdua tidak pernah menggunakan jubah yang berwarna hitam.
"Siapa kau?!" Eveline menatap tajam orang di hadapannya.
"Hmm, maaf sedikit membuatmu terkejut. Aku Julian Blackwolf dari Kerajaan Werewolf dan kau?" tanya Julian balik sekarang dia membuka penutup jubahnya membuat wajahnya terlihat.
Eveline sedikit bernapas lega karena orang itu ah, lebih tepatnya Julian tidak berbahaya di matanya.
"Aku Eveline dari Kerajaan Vano." Eveline tersenyum kecil.
Julian sedikit heran pasalnya Eveline tidak mengenal nama Kerajaannya sendiri.
"Kau berasal dari sini tapi kau tidak tahu nama Kerajaanmu sendiri ya?" Julian tersenyum canggung.
Eveline mengangguk tanda dia memang tidak tahu.
"Lupakan saja, kau akan mengetahunya juga nantinya." Julian tidak menjelaskan lebih.
Eveline mengendus-endus bau dari tubuh Julian.
"Rupanya kau bukan Vampire." Eveline melangkah mendekati bawah pohon rindang dan duduk di sana.
"Iya, aku memang bukan Vampire tapi aku adalah Wolf. Dan Ayahku adalah seorang Alpa di bangsa kami." Julian memperkenalkan diri.
Kenapa Eveline bisa tahu yang sedang dia alami sekarang? Kan biasanya jika baru pertama kali menjadi Vampire sedikit bodoh 'kan? Itulah Eveline bertanya aneh dan tidak cepat tahu tengtang Kerajaan Werewolf dan masih bertanya Julian Vampire atau bukan. Itu menjadi alasan Eveline tidak terlalu terkejut dengan Wolf karena sudah pernah membacanya dibuku THE LEGEND OF VAMPIRE kalian Masih ingatkah partnya? Author harap masih ingat ya, he he he oke, kembali.
"Oh, jadi seorang Alpa. Lalu kau ini sendirian?" Eveline memandang Julian sejenak.
"Aku lagi mencari inspirasi saat aku dipaksa jalan dengan mate palsuku. " Julian menjelaskan kepada Eveline.
"Mate palsu? Apa maksudmu?" tanya Evelyn tidak mengerti.
"Ya, aku dijodohkan. Memang sih wanita itu baik, cantik, juga penyabar tapi entah mengapa hatiku tidak memberinya tempat." Julian sedikit curhat.
"Oh, begitu ya, kenapa kau tidak mau saja? Kan dia baik, memang sih cinta tidak bisa dipaksakan tapi meski seperti itu, cinta akan tumbuh diantara keduanya kalau mereka saling mengasihi. Coba kamu mengerti dirinya pasti kamu akan luluh dengan sendirinya." Eveline mengelus-elus cincin pernikahannya dengan Vano.
"Terima kasih sudah memberi pengarahan dan pencerahan. Dan kamu sendiri sedang apa di hutan ini?" Julian menyandarkan tubuhnya di batang pohon rindang itu.
__ADS_1
"Aku... ah, kau pasti tidak akan percaya dengan hal ini." Eveline tersenyum kecut.
"Ceritalah... aku akan coba untuk percaya padamu." Julian meyakinkan Eveline.
"Kau tahu Vano Stevan Manhive 'kan?" tanya Eveline dan mendapat anggukan kepala dari Julian.
"Aku... aku adalah...," Eveline masih sedikit ragu ingin mengatakannya.
"Baik, kau Istri dari si Vampire Iblis itu?" Julian berlagak sedikit sombong dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bagaimana kau bisa tahu, Julian?!" Eveline sedikit merasa terkejut.
"Jelas aku tahu, karena kau adalah cucu dari Tuan Glade. Dan Tuan Glade sudah kehilangan dirimu selama 1000 tahun lamanya. Sekarang Vanolah Vampire yang sangat beruntung akan hal ini dia bisa memiliki Istri cucu dari Tuan Glade." Julian menjelaskan sambil menyunggingkan senyum bangga.
"Kok, kau bida tahu semuanya? Ta-pi tidak ada kan yang memberi tahumu semuanya? Aku juga belum pernah bertemu denganmu sebelumnya." Eveline sedikit khawatir Ioan memberi tahu tengtang dirinya kepada Julian.
"Aku tahu semuanya bukan karena siapa-siapa, kami semua tahu ciri-ciri yang dimiliki anak juga cucu dari Tuan Glade dari rambutnya dan semuanya. Aku janji tidak menyebarnya secara luas jika kau bangkit kembali menjadi Vampire apa lagi sampai ketahuan dengan si Vampire licik itu, Daniel Blacking." Julian menjelaskan panjang kali lebar.
"Itu siapa lagi? Cucunya Tuan Blacking?" tanya Eveline menebak-nebak.
"Ya, kau benar sekali, Eve."
Disaat Eveline dan Julian sedang bercanda gurau, ada seseorang yang berdehem keras di belakang mereka.
Eveline mendengkus kesal, dia sudah tahu itu pasti Vano.
"Untuk apa kau kemari? Mau menghancurkan mood aku lagi?!" Eveline berbalik ke belakang dengan ketus.
"Eh, Raja Vano. Eveline kamu mengapa seperti itu dengan Suami kamu sendiri? Ah, aku pulang dulu Eveline." Julian langsung berlalu pergi.
"Bye... byee, Julian!" Eveline memanas-manasi Vano
"Aissh! Apa yang kau lakukan?!" Vano menurunkan tangan Eveline yang sibuk melambai-lambai kepada Julian.
"Dasar kau! Julian itu orangnya asikk nggak seperti kau yang dinginnya seperti kulkas!" Eveline memasang wajah terpukau.
"Apalah salahku Eve?" Vano sedikit kesal.
Tiba-tiba saja Vano membawa Eveline ke suatu tempat yang sangat indah dan hanya Vano yang tahu dengan tempat itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku, sakit!!" Eveline geram dan menggenggam tangan Vano lalu memukulnya membuat Vano meringis.
"Lihat pemandangan ini, Eve indah bukan?"
Eveline pun mengalihkan pandangannya dengan sekitar, Eveline sangat takjub sampai mulutnya terbuka lebar.
"Wah, indah betul pemandangannya mana lagi malam-malam jadi tambah indah." Eveline tidak henti-hentinya mengembangkan senyum takjub.
Vano memeluk Eveline dari belakang dan menyenderkan kepalanya di bahu Eveline, Eveline membiarkannya karena dia sendiri sudah sadar bahwa dia harus mulai menerima Vano sebagai Suaminya.
Vano membalikkan tubuh Eveline hingga menjadi menghadap dirinya, memeluknya dari depan. Vano menatap Eveline dengan tatapan sendu seperti tak ingin kehilangan Eveline untuk yang kedua kalinya.
"I love you, Eveline."
"I love you to, Levano."
Vano tersenyum begitu pun dengan Eveline, tiba-tiba saja Vano mendekatkan wajahnya ke wajah Eveline dan mencium bibir Eveline dengan sangat lembut.
Eveline sedikit tercenggang dengan hal itu namun lama-kelamaan Eveline membalas ciuman Vano dengan lembut pula.
*Tasya Pov...
Sudah lama Eveline tidak masuk kuliah, aku dan Carey sudah ke rumah Eveline sekitar seminggu yang lalu. Namun rumahnya sepi tidak berpenghuni tidak ada siapa-siapa terus gelap. Aku dan Carey berfikir Eveline lagi ke rumah Saudaranya.
Sekitar 3 hari yang lalu, aku diteror dengan sebuah surat misterius dan tampa ada kejelasan siapa yang mengirimnya*.
'TEMUI AKU'
*Itulah isi dari surat miaterius itu, masalahnya bagaimana aku ingin menemuinya.
Perasaanku juga tidak enak dengan Eveline namun sebagai Sahabatnya aku pasti mendoakannya semoga dia baik-baik saja*.
***
Eveline dan Vano duduk di sebuah bangku di tempat itu.
"Eveline, aku punya satu permintaan padamu... aku ingin kau menjadi Ratu di Kerajaan Manhive karena kau adalah Istri dari diriku."
"Ya, itu terserah kamu saja kalau aku nurut-nurut saja." Eveline menjawab santai.
__ADS_1
"Ya, sudah sekarang kita pulang." Vano berdiri dan jongkok di depan Eveline.
Eveline tersenyum manis, dan dengan malu-malu dia naik di punggung Vano dan Vano langsung berlari seperti kilat menuju Kerajaan Manhive.