
'BLACKING'
Eveline membaca tulisan yang ada di buku kecil berwarna keemasan itu.
" Blacking? Apa maksudnya? Dan... apa ini ya? Ah, nanti aku beri tahu si nyamuk kebun itu." Eveline menyimpan buku kecil itu di dalam jubah merahnya.
Sekitar 11 menit lamanya Eveline menunggu Vano belum keluar-keluar juga dari kamar mandi, membuat Eveline kesal saja.
"Hmm, Blacking? Aha, mungkinkah ini milik Daniel Blacking? Tapi kenapa sampai di sini ya?" Eveline mengetuk-ngetuk buku kecil itu.
Eveline mengalihkan pandangannya ke arah samping karena merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari sana dan benar saja, Eveline melihat seorang yang mengenakan jubah hijau sedang memberi senyum dingin.
"Hey! Siapa kau?!" Eveline langsung melompat turun dari balkon kamarnya dan mengejar Vampire jubah hijau itu.
"Eveline!" Vano meneriaki Eveline namun terlambat sudah.
Vano tidak menyusul Eveline melainkan meleset cepat menuju lemari baju untuk mengganti handuknya.
Vano baru menyusul Eveline ketika sudah selesai menggunakan jubah merah yang punya lambang 'King Manhive' . Vano berlari secepat kilat demi bisa cepat menyusul Eveline.
Eveline sendiri sedang berlari menembus rimbunnya pepohonan dan daun-daun yang masih dengan embun pagi.
Eveline mengejar Vampire jubah hijau itu dan memasuki semak belukar namun mereka tidak peduli.
"Kemana perginya Vampire itu? Ah, hampir saja tadi aku menangkapnya!" Eveline yang kesal menendang dahan kayu yang tidak jauh darinya.
"Eh, dimana aku ini?" Eveline melihat-lihat sekelilingnya yang tandus tampa pohon dan terlihat begitu luas.
Eveline yang sudah dilanda kebingungan tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa berharap Ioan atau Vano datang mencarinya di sini.
"Eveline!"
Eveline berdiri dan menghampiri Vano yang sudah berdiri di belakang dirinya.
"Kenapa harus kau yang datang mencariku sih?" Eveline menasang wajah masam.
Vano menghela nafas panjang jelas-jelas Evelyn menunggu dirinya untuk menjemputnya di perbatasan Kerajaannya dengan Kerajaan Blacking. Ya, Eveline saat ini berada di perbatasan kekuasaan.
__ADS_1
"Kenapa kau berada di perbatasan ini? Tidakkah kau memikirkan nasibmu dan nasibku, Eve?" Vano menyimpitkan matanya.
"Aku sedang mengejar penyusup!" Eveline menjawab santai tapi justru membuat Vano terkejut.
"Apa? Penyusup?!"
"Kau tidak dengar hah?! Ya, penyusup berjubah hijau."
Vano bertambah terkejut namun tidak berkata-kata melainkan langsung menarik tangan Eveline pergi meninggalkan perbatasan itu sebelum terjadi suatu hal yang membahayakan Eveline, bagi Vano itu tidak masalah.
Kali ini Eveline menurut untuk dibawa pergi oleh Vano dari perbatasan Kerajaan itu.
"Ehm, Vano. Kau kenal benda apa ini?" Eveline menghentikan langkah cepat Vano dan menyerahkan buku kecil yang Eveline temui semalam.
Raut wajah Vano menjadi buruk serta kilatan matanya terlihat menahan marah, Vano menggenggam buku kecil yang dia yakini adalah lencana milik Daniel Blacking yang sengaja dia tinggalkan di Kerajaannya. Vano juga sangat yakin bahwa yang dibilang penyusup oleh Eveline adalah Daniel Blacking.
"Eve... aku ingin memberimu satu permintaan yang sangat penting dan harus kamu patuhi." Vano membuka suara setelah selesai meredahkan sedikit amarahnya.
"Bilang aja, begitu saja susah mana lebay banget lagi!" Eveline melepaskan pegangan tangan Vano dari tangannya.
Eveline menghampiri satu pohon yang tidak jau darinya dan mulai mendorongnya hingga pohon itu tumbang.
Eveline lalu duduk di atas batang pohon itu membelakangi Vano.
"Katamu, kau punya satu permintaan padaku? Mengapa tidak mengatakannya?" Eveline membuyarkan lamunan Vano.
"Hmm, begini." Vano berjalan mendekati Eveline dan duduk di sebelahnya.
Vano menghela nafas pelan dan memandang wajah Eveline dari samping, ada debar-debar halus dari dalam diri Vano namun dia sendiri tidak tahu itu petanda apa. Munkin kah... Vano sudah jatuh cinta dengan Istrinya? Mungkin saja itu petanda rasa cintanya kepada Eveline.
"Aku mau kau jangan pernah lagi pergi maupun menginjak perbatasan Kerajaan itu, Eve. Jangan kamu pergi menginjak daerah kekuasaan Vampire Iblis itu, Eve." Vano menggenggam jemari Eveline dengan lembut.
Eveline menoleh ke arah Vano yang juga sedang memperhatikan dirinya, mereka saling bertatapan. Sama dengan Vano rasakan, Eveline juga mengalami debar-debar halus di dalam sana.
Burung-burung di dahan-dahan pohon berkicau merdu saling bersahut-sahutan, menambah suasana mengesankan bagi Eveline maupun Vano.
Angin sepoi-sepoi berhembusan dan menerbangkan serbuk bunga menuju kedua pasangan yang masih larut dengan tatapan tulus.
__ADS_1
"Hacthi... hacthi!" Eveline mengosok-gosok batang hidungnya yang terasa gatal karena serbuk bunga di hutan.
Vano tersedar dan segera menjauhkan wajahnya dari wajah Eveline jika tidak ingin terkena liur Eveline yang masih bersin-bersin.
"Ck! Menggangu saja!" Vano mengumpat kesal namun tidak memperlihatkannya kepada Eveline.
"Em, Eve kau dengar kan apa yang aku katakan tadi? Ya, soal permintaan itu." Vano menanyai Eveline setelah dia sudah terlihat sedikit tenang.
Sebenarnya Vano ingin sekali tertawa karena melihat ujung hidung Eveline memerah seperti badut karena terus digosok olehnya, namun jika Vano tertawa Eveline akan marah lagi padanya.
"Ya, aku dengar. Kau bilang, jangan pergi ke daerah kekuasaan Vampire Iblis 'kan?" Eveline menaikkan alisnya, Vano mengangguk membenarkan pertanyaan Eveline.
Cih!
"Untuk apa aku ke sana? Sedangkan di sini sudah ada Vampire yang melibihi Iblis dan bahkan melebihi Siluman." Eveline tersenyum sinis, dipandangnya Vano dengan tajam.
Vano membalas tatapan tajam Eveline dengan pandangan yang tak kalah tajam.
"Kau mau aku cium, hah?! Memandangku dengan tajam begitu?" Vano bergumam serius dan berhasil membuat Eveline menarik tatapan tajamnya.
'Lebih baik aku dicium monyet dari pada dicium dengan Vampire Iblis seperti dia, hih jijik!'
Eveline berlagak ngeri membayangkannya, sementara Vano tersenyum jahil padanya.
"Di sini banyak monyet loh! Mungkin salah satu dari mereka mau memciummu ya?" Vano menyeringai dan menggaruk-garuk kepalanya seperti monyet.
Eveline yang sudah berdiri hampir tersungkur mendengar perkataan dari Vano, Eveline lupa bahwa Vano bisa membaca pikirannya sekarang.
"Sudah, aku mau pulang saja!" Eveline bersiap berlari secepat kilat meninggalkan Vano secepatnya.
"Awas dihadang monyet, ha ha ha!" Vano tertawa dan berlari duluan dari Eveline.
Eveline berdecak kesal karena Vano dan sekarang dia sudah sangat menyesali perkataan batinnya tadi.
Khikkk!
Khikk!!
__ADS_1
Muncul suara-suara dari tempat yang tidak jauh dari tempat Eveline berdiri, dari suaranya Eveline berpikir itu suara monyet.
"Argh! Jangan cium aku monyet!!" Eveline berteriak histeris dan berlari secepat kilat menyusul Vano di kejauhan.