
Sungguh Eveline tak menolaknya, dia menaiki tubuh Vano dan menghisap darahnya dengan rakus, sekitar 20 menit Eveline selesai dengan aktivitasnya.
Saat Evelyn ingin beranjak dari sana, Vano dengan sigap memeluk tubuh mungil Eveline.
"Dan sekarang aku mau darah kamu," ucap Vano dengan tatapan menggodanya.
"Coba aja kalau bisa!"
Vano langsung menggulingkan tubuhnya dan mengunci seluruh pergerakan Eveline, Vano membuka satu kancing piyama Eveline hingga terlihat leher jenjang Eveline.
Vano mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Eveline dan Evelyn hanya bisa diam tampa berkutik, Vano mulai mencium kening lalu turun ke hidung, ke kedua matanya, kedua pipinya dan yang terakhir Vano ******* habis bibir peach Eveline namun diciuman kali ini Eveline membalasnya. Sekitar 20 menit Vano melepaskan ciumannya dan kini beralih pada leher jenjang Eveline, kegiatan Vank itu berhenti karena Eveline sudah tertidur.
"Ya, malah tidur! Nggak jadi deh!"
Vano kembali menganci kancing piayama Eveline dan tertidur di samping Eveline tak lupa memberi kecupan hangat di kening Sang Istri.
**
Di Aula Kerajaan...
Termenunglah 3 orang yang sedang berpikir keras, siapa lagi jika bukan Ioan, Ayuan juga Beno.
"Bagaimana nih? Apa kalian menemukan rencana yang bagus?" tanya Ioan yang mulai menyerah dengan jalan pemikirannya itu.
"Aku punya ide, jadi begini, apa boleh kita melibatkan Julian dalam drama sementara ini?" tanya Beno.
__ADS_1
"Ya sudah, nggak apa-apa asal Eve nggak tahu soal ini."
"Jadi, Julian nanti jemput Eveline di balkon kamarnya pada saat agak siang. Dia akan mengajak Eveline keluar Kerajaan sampai waktunya."
"Wah, boleh juga! Beno memang kadang-kadang pintar juga, haha!" Ayuan tertawa kecil.
"Aku kan memang selalu pintar," ucap Beno menyombongkan diri.
Dan akhirnya mereka membubarkan diri dari aula, membiarkan para Pelayan mendekorasi aula Istana.
Keesokan Harinya...
Vano kali ini bangun lebih awal dari Evelyn, dia dengan cepat menuju kamar mandi, sekitar 15 menit Vano selesai dengan ritual mandinya bersamaan dengan terbangunnya Eveline.
"Mau ketemu sama para Raja Vampire." Jawab Vano dingin.
Eveline hanya mengangguk mengerti.
"Sebentar selama aku pergi keluar Kerajaan kamu jangan kemana-mana, aku mau jika aku kembali kau masih ada di sini nggak hilang-hilang." Pesan Vano dan langsung pergi.
Setelah Vano meninggalkan kamar itu, Eveline langsung bergegas mandi dan menuju balkon kamarnya menikmati angin pagi yang sejuk dan bersih.
Tidak berapa lama datanglah Julian yang mengagetkan Eveline.
"Julian? Kamu ngapain di sini?" tanya Eveline mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Nggak, aku cuma mau ajak kamu keluar Kerajaan menjelajah hutan, tapi... aku dengar tadi Raja Vano melarangmu keluar. Ya sudah, deh aku pulang dulu," ucap Julian dan hendak pergi namun dicegah oleh Eveline.
"Kau kemari lewat di situ?" tanya Eveline menunjuk bawah balkon.
"Iya, kan biar nggak ketahuan sama Raja Vano kalau aku mengajakmu keluar."
"Ah, ngapain juga dengar perintah Raja bodoh itu! Ayo, kita keluar!"
Julian tersenyum canggung dan mereka pun melompat turun lewat balkon. Mereka berdua berlari memasuki hutan yang masih basah akibat guyuran hujan semalam.
Pagi hari dengan cepat berganti siang hari, kini Eveline sudah duduk di depan meja rias dengan didandani oleh Ayuan juga para Pelayan.
Dengan gaun merah maron berpaduan dengan warna hitam dan pita pinggang berwarna putih tulang, gaun tampa lengan yang sangat tidak disukai oleh Eveline.
"Ayuan, ini mau ngapain sih? Vano ada acara lagi ya?" tanya Eveline tak mengerti.
Karenanya mulai dari dia kembali bersama Julian dia langsung didandani oleh Ayuan dan para Pelayan lainya dan Evelyn tidak mengerti dengan semua ini.
"Kan kamu mau jadi Ratu Kerajaan Manhive."
Eveline hanya diam saja, sejujurnya dia belum siap dan takkan pernah siap.
Halo, pembaca setia Cool Tuan Vampire ini apa kabarnya? Baik kan? Author mau bilang terima kasih atas semua dukungan kalian ini, terima kasih juga atas kesabaran kalian menunggu kisah ini lanjut.
Selamat berpuasa bagi yang melaksanakannya...
__ADS_1