
Ioan menatap sejenak Eveline dan kemudian ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.
"Eve aku ingin mengatakan sesuatu."
Eveline langsung menoleh pada Ioan sambil mengerutkan alis.
"Apa?"
"Kamu tahu 'kan? Tadi malam kamu lihat, Vano minum darah kelinci?" tanya Ioan sambil menggantung ucapannya.
"Iya, aku tahu, Ioan memangnya kenapa?" tanya Eveline semakin penasaran.
"Tapi... kamu janji jangan marah ya, Eve?" tanya Ioan sekali lagi.
Eveline hanya mengangguk dan memasang telinga jelas-jelas.
"Jadi... sesuai perjanjian para, Leluhur Vampire kalau ada seorang manusia yang melihat seorang Vampire meminum darah, Vampire itu akan kehilangan kekuatannya sedikit demi sedikit lalu musnah dan itu... yang akan dialami oleh, Kakakku," ucap Ioan panjang kali lebar.
"Ukhhhr... kasihan sekali, Kakakmu karena gara-gara aku, Vano harus kehilangan kekuatannya." Eveline menunduk sedih.
"Nah, itu masalahnya!"
"Memangnya tidak ada cara untuk menghilangkan perjanjian itu?" tanya Eveline kemudian.
"Ada dan itu adalah cara satu-satunya tapi... aku yakin pasti kamu tidak akan mau," jawab Ioan pelan.
"Apa? Apa caranya? Apa saja asal kamu tidak kehilangan, Kakak kamu apa saja syaratnya aku akan setuju, Ioan."
Eveline mulai cemas dan merasa sedih dengan wajah kesedihan Ioan.
"Pernikahan," jawan Ioan singkat dan mulus dari bibir tipisnya namun justru membuat Eveline membelalakkan matanya.
"Apa?!!"
"Kan aku sudah bilang pasti kamu tidak akan mau," kata Ioan.
"Bukan begitu, Ioan aku... m-a-u kok, Ioan asal kamu tidak kehilangan, Kakak kamu."
"Kamu yakin, Eveline?" tanya Ioan dengan wajah berseri bahagia.
"Iya, kan itu semua karena gara-gara aku," jawab Eveline mantap.
"Aku... aku sangat berterima kasih padamu, Eveline!" Ioan benar-benar bahagia.
Eveline tersenyum manis dan tulus kepada Ioan, sebenarnya Eveline sedikit sedih dan meratapi nasibnya yang sangat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan dan yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
"Sebaiknya kamu mandi dulu, aku tunggu di bawah dan bajumu ada di lemari besar itu," ucap Ioan sambil menunjuk sebuah lemari baju yang besar itu dan Eveline hanya mengangguk. Ioan pun pergi keluar dari kamar.
Eveline Pov
Kenapa nasibku menjadi seperti ini? Kan aku sebaiknya bisa berlibur di luaran sana bersama para teman-temanku dan para sahabatku. Kenapa sekarang aku malah dijodohkan dengan orang eh maksudnya Vampire yang aku tidak kenal, huffft, kenapa aku harus buang air kecil di rumah ini? Coba saja tidak seperti itu pasti tidak akan seperti ini masalahnya. Aku juga ingin seperti sahabatku yang bebas kemana pun ingin pergi.
Ada baiknya, aku menelpon teman-temanku supaya mereka tidak khawatir.
Eveline memutuskan untuk menelfon Tasya dan Carey.
~Telepon diangkat~
"Halo, Tasya!" sapa Eveline memulai pembicaraan.
"Halo, Eve kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Tasya diseberang sana dengan nada panik.
__ADS_1
"Oh, aku lagi di rumah saudara ini maaf ya, aku baru memberimu kabar. Aku menelepon kalian supaya kalian tidak khawatir atau panik dengan keadaan aku," ucap Eveline memberi tahu.
" Oh, kamu lagi di rumah saudara kamu. Ya, sudah tidak apa-apa Happy holiday, Eve." Balas Tasya dan memutuskan kontak telepon.
Sehabis menelpon sahabatnya, Eveline langsung beranjak menuju kamar mandi untuk bergegas mandi. butuh sekitar 20 menit berlalu Eveline akhirnya selesai dengan ritual mandi.
Eveline melihat baju eh lebih tepatnya sebuah gaun gaya anak remaja kekinian yang minim dan tidak berlengan sehingga terlihat bagian punggungnya. Eveline memandang tidak terlalu suka pada gaun itu.
" Benar bajunya seperti ini? " tanya Eveline pada dirinya sendiri dan akhirnya Eveline memakai gaun yang berwarna hitam dengan campuran warna merah tidak berlengan.
Eveline memakainya walaupun ada rasa tidak suka di dalam hatinya, setelah berpakaian dan berdandan seperlunya Eveline menuju ke bawah untuk menemui Ioan.
"Ioan... Ioan... Ioan....," Panggil Eveline.
Tanpa sengaja Eveline melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tamu dengan memegang segelas darah yang berbau anyir bagi Eveline. Eveline menghampiri sang pemuda itu.
"Ioan." Pangil Eveline hati-hati karena pemuda itu hanya menunduk.
" Eveline aku disini! " Ioan berteriak sambil melambaikan tangan tepat tidak jauh dari belakang Eveline.
"Kalau itu, Ioan lalu ini siapa?" Apa itu pemuda yang kurang akal itu?" batin Eveline.
Eveline menghampiri awan dengan hati-hati.
" Ioan itu siapa? apa, Papamu? atau..." tanya Evelyn menggantung ucapannya.
" Oh, itu, Vano Kakakku, " jawab Ioan memperkenalkan Kakaknya.
" Jadi kenapa kamu menyuruhku untuk menemuimu di sini? " tanya Eveline untuk yang kedua kalinya.
"Jadi... hari ini lebih tepatnya nanti sore kamu akan menikah dengan, Kakakku," ucap Ioan tanpa dusta, meski ada rasa kasihan terhadap Eveline yang berlebihan karena ia harus menikahi yang jelas-jelas mungkin bukan impiannya atau juga bisa jadi bukan yang ia cintai. Tapi malah harus dipaksa untuk menikahi seseorang yang ganas, dingin, keras kepala dan juga kejam.
" Entahlah, Eve mungkin bisa atau sebaliknya, " jawab Ioan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.40, Eveline dan Vano melaksanakan upacara pernikahan yang sangat sederhana upacara pernikahan dilaksanakan dengan lancar.
"Apa, Nona Eveline siap untuk menikah dengan Tuan Levano?" tanya sang Tetuah kepada Eveline.
" Siap tidak siap demi, Ioan! " Eveline menjawab dengan mantap.
Jawaban Eveline membuat para Tetuah menggeleng\-gelengkan kepala.
"Apa, Tuan Levano siap untuk menikahi, Nona Eveline? " tanya lagi Sang Tetuah.
"Siap," jawab Vano singkat tapi jelas.
__ADS_1
" Kalau bukan karena, Ioan aku tidak akan menikah dengannya. Memang dia ganteng, tinggi pokoknya idaman para perempuan tapi tidak seasyik dan seceria, Adiknya." Gumam Eveline di dalam hati.
Tetuah membacakan sebuah mantra lalu berkata...
"Silahkan, Tuan."
Eveline mengerutkan dahi bingung.
Vano langsung menggoreskan sebuah pisau yang tajam ke jari telunjuknya dan mengarahkan ke mulut Eveline.
" Minum, " ucap Vano dingin, Eveline lalu menggeleng dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
" Jagan menolaknya, cepat minum! " lanjut Vano lagi.
Akhirnya Eveline meminum darah seorang Vampire tampan walau ada bau anyir. Ia menghisap jari telunjuk itu sebentar lalu melepaskannya Apakah Eveline meminumnya? ya, Eveline meminumnya.
"Sekarang giliran, Nona Eveline," ucap Tetuah dan membuat Eveline membelalakkan matanya terkejut.
"A\-ap\-a? A\-k\-u?" tanya Eveline dengan jari telunjuknya mengarah pada dirinya.
Tetuah mengangguk tanda iya.
"Tidak! Biar aku yang melakukannya."
Vano membuka suara dan mendapat anggukan oleh para Tetuah yang tidak berguna itu.
Vano melangkahkan kakinya menuju Eveline, semakin dekat dan dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka berdua.
Tangan kanan Vano melingkar di pinggang Eveline dan tangan kirinya menyingkirkan rambut Eveline.
***Apa yang kira\-kira akan dilakukan Vano pada Eveline? Jangan lupa dukung ya, I love You buat kalian***.
__ADS_1