Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Malam Yang Indah


__ADS_3

"Daniel! Lepaskan Istriku!"


"Cih, Istrimu? Ambil saja jika kau bisa," ucap Daniel meremehkan Vano.


Daniel menatap Evelyn dengan tatapan mengejek, satu dorongan saja nyawa Eveline melayang jatuh ke jurang.


Vano tiba-tiba menghilang dari pandangan Beno juga Daniel sebelum muncul kembali dengan Eveline yang berada di belakangnya.


"Bawa Eveline menjauh, Beno," ucap Vano pelan namun terdengar dingin.


Beno yang mendapat perintah langsung saja membawa Eveline menjauh.


"Mereka mau ngapain Beno?" tanya Eveline yang berkaca-kaca matanya, Beno hanya mengangkat bahunya tak tahu.


Terjadi perkelahian yang sangat sengit, Vano hanya babak belur dan terkena beberapa cakaran kuku Daniel namun keadaan Daniel sangat babak belur dan wajahnya dan tubuhnya penuh cakaran kuku.


"Aku akan membuat perhitungan padamu, ingat itu!" ancam Daniel tajam dan langsung pergi.


"Eve tadi kamu ngapain sama dia?" tanya Vano menyelidiki.


"Dia bilang kamu dalam bahaya, dia bawa jas sama pedang kamu," jawab Eveline menundukkan kepalanya.


"Hehe hehe..." tawa Vano pelan dan langsung memeluk Eveline.


"Dih malah ketawa dia," kata Eveline sambil mencubit perut Vano yang sukses membuat Vano mengeluh sakit.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Eveline serius.

__ADS_1


"Kamu lihat nggak? Aku nggak apa-apa kan? Aku itu kuat makanya Istriku juga harus kuat."


Beno yang merasa diabaikan pun berdehem dan menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal.


"Ehemm,, kayaknya udah menjelang malam nih."


"Ohoho, gitu ya? Ya sudah, ayo kita pulang dari pada jadi santapan empuk nyamuk di sini," ucap Vano dan langsung menarik Eveline pergi tampa memperdulikan Beno lagi.


"Susah kalau punya Tuan Raja yang nggak peka sama sekali hmm...," batin Beno sambil memonyongkan bibirnya.


**


Vano, Beno juga Evelyn sudah tiba di Istana, sampai di sana Istana sudah lumayan sepi mungkin sudah waktunya istirahat ya?


Eveline dan Vano langsung ke kamar untuk istirahat, mereka tak memperdulikan masakan di meja makan lagi.


"Ya, tidurlah," ucap Vano dingin.


"Ya, memang mau tidur, memangnya mau nguli?!" tanya Eveline jutek, dia langsung menghadap samping memeluk gulingnya.


Vano membaringkan tubuhnya di kasur dan melihat ke arah Eveline yang tak menengok kepadanya.


"Gulingnya mulu yang dipeluk!" Vano menyindir Eveline, namun tak mendapat respon.


"Suaminya pulang bukannya disambut sama apa-apaan kek, malah dicuekin!" Vano kembali menyindir Eveline.


"Nggak usah, kan katanya kuat kalau kuat kenapa harus dikasihanin."

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Sayang?" tanya Vano sambil memeluk Eveline dari belakang.


Eveline hanya menggidikkan bahu, tiba-tiba saja Eveline membelalakkan matanya.


"Ya ampun! Tadi kan kamar ini berantakan banget!" heran Eveline dan langsung duduk.


"Kenapa sih?" tanya Vano mengerutkan dahi.


"Tadi, tadi tuh kamar ini berantakan banget, kok sekarang udah rapi?" tanya Eveline tak percaya.


"Memangnya berantakan kenapa?"


"Itu... tadi kan ada Daniel--"


"Memang Daniel ngapain kamu?" tanya Vano memotong ucapan Eveline, raut wajahnya berubah marah.


"Ayyah! Udah ah lupakan saja!"


Vano langsung duduk dan memegang erat kedua bahu Eveline sambil menatap nya tajam setajam mata burung Elang.


"Eve, jawab aku dengan jujur," ucap Vano tajam.


Eveline menepis tangan Vano dengan kasar.


"Apaan sih?! Udah mau cari Ayuan aja!"


Eveline ingin segera pergi namun tangannya ditarik keras oleh Vano membuatnya menubruk tubuh Vano, Eveline ingin bangkit dari tubuh Vano namun tubuhnya dipeluk erat.

__ADS_1


__ADS_2